Langsung ke konten utama

PERANG UHUD




Oleh: Muhammad Husain Haekal

   Persiapan Quraisy di Mekah - Berangkat perang -
   Bagaimana Muhammad mengetahui   Muslimin bermusyawarah;
   bertahan di Medinah atau menyongsong musuh di luar -
   Kemenangan dan kekalahan - Nabi berangkat dari Medinah
   - Berhadapan dengan lawan - Abu Sufyan dan Quraisy
   kembali ke Mekah.

SEJAK terjadinya perang Badr pihak Quraisy sudah tidak  pernah
tenang  lagi.  Juga  penstiwa  Sawiq  tidak membawa keuntungan
apa-apa buat  mereka.  Lebih-lebih  karena  kesatuan  Zaid  b.
Haritha  telah  berhasil  mengambil  perdagangan mereka ketika
mereka hendak pergi  ke  Syam  melalui  jalan  Irak.  Hal  ini
mengingatkan mereka pada korban-korban Badr dan menambah besar
keinginan mereka hendak  membalas  dendam.  Bagaimana  Quraisy
akan  dapat  melupakan  peristiwa  itu,  sedang  mereka adalah
bangsawan-bangsawan     dan      pemimpin-pemimpin      Mekah,
pembesar-pembesar  yang  angkuh dan punya kedudukan terhormat?
Bagaimana   mereka   akan    dapat    melupakannya,    padahal
wanita-wanita  Mekah  selalu  ingat  akan  korban-korban  yang
terdiri dari anak,  atau  saudara,  bapak,  suami  atau  teman
sejawat?   Mereka   selalu  berkabung,  selalu  menangisi  dan
meratapi.


Demikianlah keadaannya. Orang-orang Quraisy sejak  Abu  Sufyan
b.  Harb  datang  membawa  kafilahnya  dari  Syam,  yang telah
menyebabkan timbulnya perang Badr,  begitu  juga  mereka  yang
selamat  kembali  dan  Badr, telah menghentikan kafilah dagang
itu di Dar'n-Nadwa. Pembesar-pembesar mereka yang terdiri dari
Jubair  b.  Mut'im,  Shafwan  b.  Umayya' 'Ikrima b. Abi Jahl,
Harith b. Hisyam, Huaitib b. Abd'l-'Uzza dan yang lain,  telah
mencapai  kata  sepakat, bahwa kafilah dagang itu akan dijual,
keuntungannya akan  disisihkan  dan  akan  dipakai  menyiapkan
angkatan  perang  guna  memerangi Muhammad, dengan memperbesar
jumlah dan perlengkapannya. Selanjutnya tenaga kabilah-kabilah
akan  dikerahkan  dan  supaya  ikut  serta bersama-sama dengan
Quraisy menuntut  balas  terhadap  kaum  Muslimin.  Ikut  pula
dikerahkan di antaranya Abu 'Azza penyair yang telah dimaafkan
oleh Nabi dan antara tawanan perang Badr. Begitu juga  kabilah
Ahabisy2  yang  mau ikut mereka dikerahkan pula. Wanita-wanita
pun mendesak akan ikut pergi berperang.

Mereka berunding lagi. Ada yang berpendapat supaya kaum wanita
juga ikut serta.

"Biar   mereka   bertugas   merangsang   kemarahan  kamu,  dan
mengingatkan  kamu  kepada  korban-korban  Badr.  Kita  adalah
masyarakat yang sudah bertekad mati, tidak akan pulang sebelum
sempat melihat mangsa kita, atau kita sendiri mati untuk itu."

"Saudara-saudara  dari  Quraisy,"   kata   yang   lain   lagi.
"Melepaskan  wanita-wanita  kita  kepada musuh, bukanlah suatu
pendapat  yang  baik.  Apabila  kalian  mengalami   kekalahan,
wanita-wanita kitapun akan tercemar."

Sementara mereka sedang dalam perundingan itu tiba-tiba Hindun
bt. 'Utba, isteri Abu  Sufyan  berteriak  kepada  mereka  yang
menentang ikut sertanya kaum wanita itu:

"Kamu  yang  selamat  dari  perang  Badr  kamu  kembali kepada
isterimu. Ya. Kita berangkat dan ikut menyaksikan  peperangan.
Jangan   ada   orang   yang   menyuruh  kami  pulang,  seperti
gadis-gadis kita dulu dalam perjalanan ke Badr disuruh kembali
ketika  sudah  sampai  di  Juhfa.3  Kemudian  orang-orang yang
menjadi kesayangan kita waktu itu  terbunuh,  karena  tak  ada
orang yang dapat memberi semangat kepada mereka."

Akhirnya pihak Quraisy berangkat dengan membawa kaum wanitanya
juga, dipimpin oleh Hindun. Dialah  orang  paling  panas  hati
ingin   membalas  dendam,  karena  dalam  peristiwa  Badr  itu
ayahnya, saudaranya dan  orang-orang  yang  dicintainya  telah
mati  terbunuh.  Keberangkatan  Quraisy  dengan tujuan Medinah
yang disiapkan dari Dar'n-Nadwa itu terdiri dan tiga  brigade.
Brigade terbesar dipimpin oleh Talha b. Abi Talha terdiri dari
3000 orang. Kecuali 100 orang saja  dari  Thaqif,4  selebihnya
semua  dari Mekah, termasuk pemuka-pemuka, sekutu-sekutu serta
golongan Ahabisynya. Perlengkapan dan  senjata  tidak  sedikit
yang mereka bawa, dengan 200 pasukan berkuda dan 3000 unta, di
antaranya 700 orang berbaju besi.

Sesudah ada kata sepakat,  sekarang  sudah  siap  mereka  akan
berangkat. Sementara itu 'Abbas b. Abd'l-Muttalib, paman Nabi,
yang juga berada di tengah-tengah mereka,  dengan  teliti  dan
saksama  sekali  memperhatikan  semua  kejadian itu. Disamping
kesayangannya pada agama nenek-moyangnya dan agama golongannya
sendiri,   juga   Abbas  mempunyai  rasa  solider  dan  sangat
mengagumi Muhammad. Masih ingat ia  perlakuannya  yang  begitu
baik  ketika  perang  Badr.  Mungkin  karena  rasa  kagum  dan
solidernya itu yang  membuat  dia  ikut  Muhammad  menyaksikan
Ikrar  'Aqaba dan berbicara kepada Aus dan Khazraj bahwa kalau
mereka  tidak  akan  dapat  mempertahankan  kemenakannya   itu
seperti  mempertahankan  isteri  dan anak-anak mereka sendiri,
biarkan  sajalah  keluarganya  sendiri   yang   melindunginya,
seperti yang sudah-sudah.

Hal  inilah yang mendorongnya - tatkala diketahuinya keputusan
Quraisy akan berangkat dengan kekuatan  yang  begitu  besar  -
sampai   ia   menulis  surat  menggambarkan  segala  tindakan,
persiapan dan perlengkapan mereka itu. Surat itu diserahkannya
kepada seseorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada
Nabi. Dan orang inipun sampai di Medinah dalam tiga hari,  dan
surat itupun diserahkan.

Dalam  pada itu pasukan Quraisypun sudah pula berangkat sampai
di Abwa'. Ketika melalui makam Aminah bt.  Wahb,  timbul  rasa
panas  hati  beberapa orang yang pendek pikiran. Terpikir oleh
mereka akan membongkarnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka menolak
perbuatan  demikian;  supaya  jangan  kelak  menjadi kebiasaan
Arab.

"Jangan menyebut-nyebut soal ini,"  kata  mereka.  "Kalau  ini
kita  lakukan, Banu Bakr dan Banu Khuza'a akan membongkar juga
kuburan mayat-mayat kita."

Quraisy  meneruskan  perjalanan  sampai  di  'Aqiq,  kemudian;
mereka berhenti di kaki gunung Uhud, dalam jarak lima mil dari
Medinah.

Orang dari Ghifar yang diutus  oleh  Abbas  b.  Abd'l-Muttalib
membawa   surat   ke   Medinah   itu   telah  sampai.  Setelah
diketahuinya berada di Quba', ia langsung pergi  ke  sana  dan
dijumpainya  Muhammad  di depan pintu mesjid sedang menunggang
keledai

Diserahkannya surat itu  kepadanya,  yang  kemudian  dibacakan
oleh  Ubay  b.  Ka'b.  Muhammad  minta  isi  surat  itu supaya
dirahasiakan, dan ia kembali ke Medinah langsung menemui  Sa'd
ibn'l-Rabi'   di   rumahnya.  Diceritakannya  apa  yang  telah
disampaikan 'Abbas kepadanya itu dan  juga  dimintanya  supaya
hal  itu  dirahasiakan.  Akan  tetapi  isteri Sa'd yang sedang
dalam rumah waktu itu mendengar juga  percakapan  mereka,  dan
dengan  demikian  sudah  tentu  tidak  lagi  hal  itu  menjadi
rahasia.

Dua orang anak-anak  Fudzala,  yaitu  Anas  dan  Mu'nis,  oleh
Muhammad   ditugaskan  menyelidiki  keadaan  Quraisy.  Menurut
pengamatan mereka kemudian ternyata  Quraisy  sudah  mendekati
Medinah.  Kuda  dan  unta  mereka  dilepaskan di padang rumput
sekeliling Medinah. Di samping dua orang itu kemudian Muhammad
mengutus lagi Hubab ibn'l-Mundhir bin'l-Jamuh. Setelah keadaan
mereka  itu  disampaikan  kepadanya  seperti  dikabarkan  oleh
'Abbas,  Nabi  s.a.w.  jadi  terkejut  sekali. Ketika kemudian
Salama b. Salama keluar, ia melihat barisan depan pasukan kuda
Quraisy  sudah mendekati Medinah, bahkan sudah hampir memasuki
kota.  Ia  segera  kembali  dan  apa   yang   dilihatnya   itu
disampaikannya kepada masyarakatnya. Sudah tentu pihak Aus dan
Khazraj, begitu juga  semua  penduduk  Medinah  merasa  kuatir
sekali  akan  akibat  serbuan  ini, yang dalam sejarah perang,
Quraisy  belum  pernah  mengadakan   persiapan   sebaik   itu.
Pemuka-pemuka   Muslimin   dari  penduduk  Medinah  malam  itu
berjaga-jaga dengan senjata di mesjid guna menjaga keselamatan
Nabi. Sepanjang malam itu seluruh kota dijaga ketat.

Keesokan  harinya orang-orang terkemuka dari kalangan Muslimin
dan mereka yang pura-pura Islam  -  atau  orang-orang  munafik
seperti  disebutkan waktu itu dan seperti dilukiskan pula oleh
Qur'an - oleh Nabi diminta berkumpul;  lalu  mereka  sama-sama
bermusyawarah,  bagaimana  seharusnya  menghadapi  musuh  Nabi
'alaihi's-salam berpendapat akan tetap bertahan dalam kota dan
membiarkan  Quraisy  di  luar  kota.  Apabila  mereka  mencoba
menyerbu masuk kota maka penduduk kota ini  akan  lebih  mampu
menangkis  dan  mengalahkan  mereka. Abdullah b. Ubay b. Salul
mendukung pendapat Nabi itu dengan mengatakan:

"Rasulullah, biasanya  kami  bertempur  di  tempat  ini,  kaum
wanita  dan  anak-anak  sebagai  benteng  kami lengkapi dengan
batu. Kota kami sudah terjalin  dengan  bangunan  sehingga  ia
merupakan  benteng  dari  segenap penjuru. Apabila musuh sudah
muncul, maka  wanita-wanita  dan  anak-anak  melempari  mereka
dengan  batu.  Kami  sendiri  menghadapi mereka di jalan-jalan
dengan pedang. Rasulullah, kota kami ini masih perawan,  belum
pernah  diterobos  orang.  Setiap  ada  musuh menyerbu kami ke
dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, dan setiap kami
menyerbu   musuh  keluar,  maka  selalu  kami  yang  dikuasai.
Biarkanlah mereka itu. Rasulullah. Ikutlah pendapat saya dalam
hal   ini.   Saya   mewarisi   pendapat   demikian   ini  dari
pemuka-pemuka dan ahli-ahli pikir golongan kami."

Apa yang dikatakan oleh Abdullah b. Ubayy itu adalah merupakan
pendapat  terbesar sahabat-sahabat Rasulullah - baik Muhajirin
ataupun Anshar,  mereka  sependapat  dengan  Rasul  a.s.  Akan
tetapi  pemuda-pemuda  yang  bersemangat  yang belum mengalami
perang Badr - juga orang-orang  yang  sudah  pernah  ikut  dan
mendapat  kemenangan  disertai hati yang penuh iman, bahwa tak
ada sesuatu kekuatan yang dapat  mengalahkan  mereka  -  lebih
suka  berangkat  keluar  menghadapi  musuh  di  tempat  mereka
berada. Mereka kuatir  akan  disangka  segan  keluar  dan  mau
bertahan  di Medinah karena takut menghadapi musuh. Seterusnya
apabila mereka ini di pinggiran dan di dekat kota  akan  lebih
kuat  dari  musuh.  Ketika  dulu mereka di Badr penduduk tidak
mengenal mereka samasekali.

Salah seorang diantara mereka ada yang berkata:

"Saya tidak  ingin  melihat  Quraisy  kembali  ketengah-tengah
golongannya  lalu mengatakan: Kami telah mengepung Muhammad di
dalam benteng dan kubu-kubu Yathrib. Ini akan membuat  Quraisy
lebih  berani. Mereka sekarang sudah menginjak-injak daun palm
kita. Kalau tidak kita usir mereka dari kebun kita, kebun kita
tidak akan dapat ditanami lagi. Orang-orang Quraisy yang sudah
tinggal selama setahun dapat mengumpulkan orang, dapat menarik
orang-orang  Arab,  dari  badwinya  sampai  kepada Ahabisynya.
Kemudian, dengan membawa kuda  dan  mengendarai  unta,  mereka
kini  telah sampai ke halaman kita. Mereka akan mengurung kita
di dalam rumah kita sendiri?  Didalam  benteng  kita  sendiri?
Lalu  mereka  pulang  kembali  dengan kekayaan tanpa mengalami
luka samasekali. Kalau kita turuti, mereka akan lebih  berani.
Mereka akan menyerang kita dan menaklukkan daerah-daerah kita.
Kota kita akan  berada  dibawah  pengawasan  mereka.  Kemudian
jalan kitapun akan mereka potong."

Selanjutnya penganjur-penganjur yang menghendaki supaya keluar
menyongsong    musuh     masing-masing     telah     berbicara
berturut-turut.  Mereka  semua  mengatakan,  bahwa  bila Tuhan
memberikan kemenangan kepada mereka  atas  musuh  itu,  itulah
yang  mereka  harapkan,  dan  itu  pula  kebenaran  yang telah
dijanjikan Tuhan kepada RasulNya.  Kalaupun  mereka  mengalami
kekalahan dan mati syahid pula, mereka akan mendapat surga.

Kata-kata  yang menanamkan semangat keberanian dan mati syahid
ini, sangat menggetarkan hati  mereka.  Jiwa  mereka  tergugah
semua  untuk  sama-sama  menempuh  arus  ini,  untuk berbicara
dengan nada yang sama. Waktu itu, bagi orang-orang  yang  kini
sedang  berhadap-hadapan  dengan  Muhammad,  orang-orang  yang
hatinya sudah penuh dengan iman  kepada  Allah  dan  RasulNya,
kepada Qur'an dan Hari Kemudian, yang tampak di hadapan mereka
hanyalah  wajah  kemenangan  terhadap   musuh   agresor   itu.
Pedang-pedang  mereka  akan  mencerai-beraikan musuh itu, akan
membuat mereka. centang-perenang,  dan  rampasan  perang  akan
mereka  kuasai. Lukisan surga adalah bagi mereka yang terbunuh
di jalan agama.  Di  tempat  itu  akan  terdapat  segala  yang
menyenangkan  hati  dan mata, akan bertemu dengan kekasih yang
juga sudah turut berperang dan mati syahid.

"Ucapan yang sia-sia tidak mereka dengar di tempat  itu,  juga
tidak yang akan membawa dosa. Yang ada hanyalah ucapan "Damai!
Damai!" (Qur'an, 56: 25-26)

"Mudah-mudahan Tuhan memberikan kemenangan kepada  kita,  atau
sebaliknya  kita  mati  syahid,"  kata  Khaithama  Abu Sa'd b.
Khaithama. "Dalam perang Badr saya telah meleset. Saya  sangat
mendambakannya sekali, sehingga begitu besarnya kedambaan saya
sampai  saya  bersama  anak  saya  turut  ambil  bagian  dalam
pertempuran  itu.  Tapi  kiranya  dia yang beruntung; ia telah
gugur, mati syahid. Semalam saya bermimpi bertemu dengan  anak
saya,  dan  dia  berkata:  Susullah  kami,  kita bertemu dalam
surga. Sudah saya terima  apa  yang  dijanjikan  Tuhan  kepada
saya.  Ya Rasulullah, sungguh rindu saya akan menemuinya dalam
surga. Saya sudah tua, tulang sudah rapuh. Saya ingin  bertemu
Tuhan."

Setelah  jelas  sekali suara terbanyak ada pada pihak yang mau
menyerang dan menghadapi musuh di luar kota, Muhammad  berkata
kepada mereka:

"Saya kuatir kamu akan kalah."

Tetapi  mereka  ingin berangkat juga. Tak ada jalan lain iapun
menyerah kepada pendapat mereka.  Cara  musyawarah  ini  sudah
menjadi   undang-undang   dalam  kehidupannya.  Dalam  sesuatu
masalah ia tidak mau bertindak  sendiri,  kecuali  yang  sudah
diwahyukan Tuhan kepadanya.

Hari  itu  hari  Jum'at.  Nabi memimpin sembahyang jamaah, dan
kepada mereka diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati  mereka
itu,  mereka  akan  beroleh kemenangan. Lalu dimintanya mereka
bersiap-siap menghadapi musuh.

Selesai  sembahyang  Asar  Muhammad  masuk  kedalam   rumahnya
diikuti  oleh  Abu  Bakr  dan Umar. Kedua orang ini memakaikan
sorban dan baju besinya  dan  ia  mengenakan  pula  pedangnya.
Sementara  ia tak ada di tempat itu orang di luar sedang ramai
bertukar pikiran. Usaid  b.  Hudzair  dan  Sa'd  b.  Mu'adh  -
keduanya  termasuk  orang  yang berpendapat mau bertahan dalam
kota berkata kepada  mereka  yang  berpendapat  mau  menyerang
musuh di luar:

"Tuan-tuan  mengetahui,  Rasulullah  berpendapat  mau bertahan
dalam  kota,  lalu  tuan-tuan  berpendapat  lain   lagi,   dan
memaksanya  bertempur  ke  luar.  Dia  sendiri  enggan berbuat
demikian. Serahkan sajalah soal ini  di  tangannya.  Apa  yang
diperintahkan  kepadamu, jalankanlah. Apabila ada sesuatu yang
disukainya atau ada pendapatnya, taatilah."

Mendengar  keterangan  itu  mereka  yang   menyerukan   supaya
menyerang  saja,  jadi  lebih  lunak.  Mereka menganggap telah
menentang Rasul mengenai sesuatu yang mungkin itu datang  dari
Tuhan.  Setelah  kemudian Nabi datang kembali ke tengah-tengah
mereka, dengan memakai baju besi  dan  sudah  pula  mengenakan
pedangnya,  mereka  yang tadinya menghendaki supaya mengadakan
serangan berkata:

"Rasulullah,  bukan  maksud  kami   hendak   menentang   tuan.
Lakukanlah  apa yang tuan kehendaki. Juga kami tidak bermaksud
memaksa tuan. Soalnya pada Tuhan, kemudian pada tuan."

"Kedalam pembicaraan yang semacam inilah saya  ajak  tuan-tuan
tapi  tuan-tuan  menolak,"  kata  Muhammad. "Tidak layak bagi
seorang nabi yang apabila  sudah  mengenakan  pakaian  besinya
lalu  akan  menanggalkannya  kembali, sebelum Tuhan memberikan
putusan antara dirinya dengan musuhnya. Perhatikanlah apa yang
saya   perintahkan  kepada  kamu  sekalian,  dan  ikuti.  Atas
ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu."

Demikianlah  prinsip  musyawarah  itu  oleh   Muhammad   sudah
dijadikan  undang-undang  dalam  kehidupannya. Apabila sesuatu
masalah yang dibahas telah diterima  dengan  suara  terbanyak,
maka  hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau
karena  ada  maksud-maksud  tertentu.  Sebaliknya   ia   harus
dilaksanakan,  tapi orang yang akan melaksanakannya harus pula
dengan cara yang sebaik-baiknya dan diarahkan ke suatu sasaran
yang yang akan mencapai sukses.

Sekarang  Muhammad  berangkat  memimpin  kaum  Muslimin menuju
Uhud. Di Syaikhan5 ia berhenti. Dilihatnya di tempat  itu  ada
sepasukan  tentara  yang  identitasnya  belum  dikenal. Ketika
ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan,  bahwa  mereka  itu
orang-orang  Yahudi  sekutu  Abdullah b. Ubayy. Lalu kata Nabi
'alaihi'ssalam: "Jangan minta pertolongan orang-orang  musyrik
dalam melawan orang musyrik, - sebelum mereka masuk Islam."

Dalam  pada  itu orang-orang Yahudi itupun kembali ke Medinah.
Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:
 
"Kau  sudah  menasehatinya  dan  sudah  kauberikan  pendapatmu
berdasarkan  pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia
sependapat dengan kau. Lalu dia menolak dan menuruti  kehendak
pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya."
 
Percakapan  mereka  itu  sangat  menyenangkan  hati Ibn Ubayy.
Keesokan harinya ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan
teman-temanya  itu. Tinggal lagi Alabi dengan orang-orang yang
benar-benar beriman, yang berjumlah 700 orang, akan  berperang
menghadapi  3000  orang terdiri dan orang-orang Quraisy Mekah,
yang kesemuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi ketika
di Badr. Semua mereka ingin menuntut balas.
 
Pagi-pagi  sekali;  kaum  Muslimin berangkat menuju Uhud. Lalu
mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu
berada  di  belakang  mereka.  Selanjutnya  Muhammad  mengatur
barisan  para  sahabat.  Limapuluh   orang   barisan   pemanah
ditempatkan   di   lereng-lereng  gunung,  dan  kepada  mereka
diperintahkan:
 
"Lindungi kami dan belakang, sebab  kita  kuatir  mereka  akan
mendatangi  kami dari belakang. Dan bertahanlah kamu di tempat
itu,  jangan  ditinggalkan.  Kalau  kamu  melihat  kami  dapat
menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka,
kamu jangan meninggalkan tempat kamu. Dan jika kamu lihat kami
yang  diserang  jangan  pula  kami  dibantu,  juga jangan kami
dipertahankan. Tetapi tugasmu  ialah  menghujani  kuda  mereka
dengan  panah,  sebab  dengan  serangan  panah kuda itu takkan
dapat maju."
 
Selain  pasukan  pemanah,  yang   lain   tidak   diperbolehkan
menyerang siapapun, sebelum ia memberi perintah menyerang.
 
Adapun  pihak  Quraisy  merekapun juga sudah menyusun barisan.
Barisan kanan dipimpin oleh Khalid  bin'l-Walid  sedang  sayap
kin  dipimpin  oleh  'Ikrima  b.  Abi Jahl. Bendera diserahkan
kepada Abd'l 'Uzza Talha b. Abi Talha.  Wanita-wanita  Quraisy
sambil  memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah
barisan  itu.  Kadang  mereka  di  depan  barisan,  kadang  di
belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun bt. 'Utba, isteri Abu
Sufyan, seraya bertenak-teriak:
 
   Hayo, Banu Abd'd-Dar
   Hayo, hayo pengawal barisan belakang
   Hantamlah dengan segala yang tajam.
   Kamu maju kami peluk
   Dan kami hamparkan kasur yang empuk
   Atau kamu mundur kita berpisah
   Berpisah tanpa cinta.
 
Kedua belah pihak sudah siap  bertempur.  Masing-masing  sudah
mengerahkan  pasukannya.  Yang  selalu  teringat  oleh Quraisy
ialah  peristiwa  Badr  dan  korban-korbannya.   Yang   selalu
teringat  oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolonganNya.
Muhammad berpidato dengan memberi  semangat  dalam  menghadapi
pertempuran  itu.  Ia  menjanjikan  pasukannya  akan  mendapat
kemenangan apabila mereka tabah.  Sebilah  pedang  dipegangnya
sambil ia berkata:
 
"Siapa  yang  akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan
tugasnya?"
 
Beberapa orang tampil. Tapi pedang itu  tidak  pula  diberikan
kepada mereka. Kemudian Abu Dujana Simak b. Kharasya dari Banu
Sa'ida tampil seraya berkata:
 
"Apa tugasnya, Rasulullah?"
 
"Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada  musuh  sampai  ia
bengkok," jawabnya.
 
Abu Dujana seorang laki-laki yang sangat berani. Ia mengenakan
pita (kain) merah. Apabila  pita  merah  itu  sudah  diikatkan
orangpun  mengetahui,  bahwa ia sudah siap bertempur dan waktu
itupun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.
 
Pedang  diambilnya,  pita  dikeluarkan  lalu  diikatkannya  di
kepala.  Kemudian ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu
seperti biasanya apabila ia sudah siap menghadapi pertempuran.
 
"Cara berjalan begini  sangat  dibenci  Allah,  kecuali  dalam
bidang  ini,"  kata  Muhammad  setelah  dilihatnya  orang  itu
berlagak.
 
Orang pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak  itu
adalah Abu 'Amir 'Abd 'Amr b. Shaifi al-Ausi (dari Aus). Orang
ini sengaja pindah  dari  Medinah  ke  Mekah  hendak  membakar
semangat  Quraisy  supaya  memerangi Muhammad. Ia belum pernah
ikut dalam perang Badr. Sekarang  ia  menerjunkan  diri  dalam
perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus.
Ada juga budak-budak dari penduduk Mekah yang juga  dibawanya.
Menurut   dugaannya,   apabila   nanti   ia  memanggil-manggil
orang-orang Islam dari golongan  Aus  yang  ikut  berjuang  di
pihak  Muhammad,  niscaya  mereka  akan memenuhi panggilannya,
akan berpihak kepadanya dan membantu Quraisy.
 
"Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu  'Amir!"  teriaknya
memanggil-manggil.
 
Tetapi Muslimin dari kalangan Aus itu membalas:
 
"Tuhan takkan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka!"
 
Perangpun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta 'Ikrima b. Abi
Jahl yang berada di  sayap  kiri,  berusaha  hendak  menyerang
Muslimin  dari  samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka
dengan batu sehingga Abu 'Amir dan  pengikut-pengikutnya  lari
tunggang-langgang.  Ketika  itu  juga Hamzah b. Abd'l-Muttalib
berteriak, membawa teriakan perang Uhud:
 
"Mati, mati!" Lalu ia terjun ketengah-tengah  tentara  Quraisy
itu.  Ketika  itu  Talha  b.  Abi  Talha, yang membawa bendera
tentara Mekah berteriak pula:
 
"Siapa yang akan duel?"
 
Lalu Ali b. Abi Talib tampil menghadapinya. Dua orang dari dua
barisan  itu bertemu. Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan,
yang membuat kepala lawannya itu belah dua. Nabi  merasa  lega
dengan  itu.  Ketika  itu  juga  kaum  Muslimin  bertakbir dan
melancarkan serangannya. Dengan  pedang  Nabi  di  tangan  dan
mengikatkan  pita  maut  di  kepala,  Abu  Dujane  pun  terjun
kedepan. Dibunuhnya setiap  orang  yang  dijumpainya.  Barisan
orang-orang  musyrik  jadi  kacau-balau.  Kemudian  ia melihat
seseorang  sedang  mencencang-cencang  sesosok  tubuh  manusia
dengan  keras  sekali.  Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya
kepada orang itu. Tetapi ternyata orang itu adalah Hindun  bt.
'Utba.  Ia  mundur.  Terlalu  mulia  rasanya pedang Rasul akan
dipukulkan kepada seorang wanita.
 
Dengan secara keras sekali pihak Quraisypun menyerbu  pula  ke
tengah-tengah  pertempuran  itu. Darahnya sudah mendidih ingin
menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka
yang  sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan yang
tidak seimbang itu, baik  jumlah  orang  maupun  perlengkapan,
sekarang  berhadap-hadapan.  Kekuatan dengan jumlah yang besar
ini motifnya adalah balas-dendam, yang sejak perang Badr tidak
pernah  reda.  Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah:
pertama mempertahankan akidah, mempertahankan iman  dan  agama
Allah,    kedua    mempertahankan   tanah   air   dan   segala
kepentingannya. Mereka yang menuntut  bela  itu  terdiri  dari
orang-orang  yang  lebih  kuat  dan  jumlah pasukan yang lebih
besar.  Di  belakang  mereka  itu  kaum  wanita   turut   pula
mengobarkan  semangat.  Tidak  sedikit  di  antara mereka yang
membawa budak-budak itu  menjanjikan  akan  memberikan  hadiah
yang  besar  apabila  mereka  dapat  membalaskan  dendam  atas
kematian seorang bapa, saudara, suami  atau  orang-orang  yang
dicintai  lainnya,  yang  telah  terbunuh  di  Badr. Hamzah b.
Abd'l-Muttalib  adalah  seorang  pahlawan  Arab  terbesar  dan
paling  berani.  Ketika  terjadi perang Badr dialah yang telah
menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak  sedikit
orang-orang  yang  dicintainya  yang telah ditewaskan. Seperti
juga dalam perang Badr, dalam perang Uhud inipun Hamzah adalah
singa  dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta b. 'Abd
Syurahbil, Siba'  b.  'Abd'l-'Uzza  al-Ghubsyani,  dan  setiap
musuh yang dijumpainya nyawa mereka tidak luput dari renggutan
pedangnya.
 
Sementara itu Hindun bt. 'Utba telah pula menjanjikan  Wahsyi,
orang  Abisinia  dan  budak Jubair (b. Mut'im) akan memberikan
hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu  juga
Jubair   b.  Mut'im  sendiri,  tuannya,  yang  pamannya  telah
terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:
 
"Kalau Hamzah  paman  Muhammad  itu  kau  bunuh,  maka  engkau
kumerdekakan."  Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai
berikut:
 
"Kemudian aku berangkat bersama rombongan.  Aku  adalah  orang
Abisinia  yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia,
jarang sekali  meleset.  Ketika  terjadi  pertempuran,  kucari
Hamzah  dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah
orang banyak itu seperti seekor unta kelabu  sedang  membabati
orang  dengan  pedangnya.  Lalu  tombak kuayunkan-ayunkan, dan
sesudah pasti sekali kulemparkan. Ia tepat mengenai sasaran di
bawah  perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan
tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu  kuhampiri  dia
dan  kuambil  tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku
diam di sana, sebab sudah  tak  ada  tugas  lain  selain  itu.
Kubunuh   dia   hanya   supaya   aku  dimerdekakan  saja  dari
perbudakan. Dan sesudah aku  pulang  ke  Mekah,  ternyata  aku
dimerdekakan."
 
Adapun   mereka   yang   berjuang   mempertahankan  tanah-air,
contohnya terdapat pada Quzman, salah  seorang  munafik,  yang
hanya  pura-pura Islam. Ketika kaum Muslimin berangkat ke Uhud
ia tinggal di belakang. Keesokan harinya, ia  mendapat  hinaan
dari wanita-wanita Banu Zafar.
 
"Quzman,"  kata  wanita-wanita  itu. "Tidak malu engkau dengan
sikapmu itu. Seperti perempuan saja kau. Orang semua berangkat
kau tinggal dalam rumah."
 
Dengan  sikap berang Quzman pulang ke rumahnya. Dikeluarkannya
kudanya,  tabung  panah  dan  pedangnya.  Ia  dikenal  sebagai
seorang  pemberani.  Ia berangkat dengan memacu kudanya sampai
ke tempat tentara. Sementara itu Nabi sedang menyusun  barisan
Muslimin.  Ia  terus menyeruak sampai ke barisan terdepan. Dia
adalah orang pertama  dari  pihak  Muslimin  yang  menerjunkan
diri,  dengan  melepaskan  panah  demi  panah,  seperti tombak
layaknya.
 
Hari sudah menjelang  senja.  Tampaknya  ia  lebih  suka  mati
daripada  lari.  Ia  sendiri lalu membunuh diri sesudah sempat
membunuh tujuh orang Quraisy di Suway'a - selain  mereka  yang
telah dibunuhnya pada permulaan pertempuran. Tatkala ia sedang
sekarat itu, Abu'l-Khaidaq lewat di tempat itu.
 
"Quzman, beruntung kau akan mati syahid," katanya.
 
"Abu 'Amr," kata Quzman. "Sungguh saya  bertempur  bukan  atas
dasar  agama.  Saya  bertempur  hanya  sekadar  menjaga jangan
sampai Quraisy memasuki tempat  kami  dan  melanda  kehormatan
kami,  menginjak-injak  kebun kami. Saya berperang hanya untuk
menjaga nama keturunan masyarakat kami. Kalau tidak karena itu
saya tidak akan berperang."
 
Sebaliknya  mereka  yang  benar-benar beriman, jumlahnya tidak
lebih dari 700 orang. Mereka  bertempur  melawan  3000  orang.
Kita  sudah melihat, tindakan Hamzah dan Abu Dujana yang telah
memperlihatkan suatu teladan dalam arti  kekuatan  moril  yang
tinggi  pada  mereka  itu.  Suatu  kekuatan yang telah membuat
barisan   Quraisy   jadi   lemas   seperti   rotan,    membuat
pahlawan-pahlawan  Quraisy,  yang  tadinya  di  kalangan  Arab
keberaniannya dijadikan suri teladan, telah mundur dan  surut.
Setiap  panji  mereka  lepas  dari tangan seseorang, panji itu
diterima oleh yang lain di belakangnya. Setelah Talha  b.  Abi
Talha  tewas  di  tangan  Ali  datang  'Uthman  b.  Abi  Talha
menyambut bendera itu, yang juga kemudian menemui  ajalnya  di
tangan  Hamzah. Seterusnya bendera itu dibawa oleh Abu Sa'd b.
Abi Talha sambil berkata:
 
"Kamu mendakwakan bahwa  koban-korban  kamu  dalam  surga  dan
korban-korban  kami  dalam  neraka!  Kamu  bohong!  Kalau kamu
benar-benar  orang  beriman  majulah  siapa  saja   yang   mau
melawanku":
 
Entah  Ali  atau  Sa'd b. Abi Waqqash ketika itu menghantamkan
pedangnya  dengan  sekali  pukul  hingga  kepala   orang   itu
terbelah.
 
Berturut-turut pembawa bendera itu muncul dari Banu Abd'd Dar.
Jumlah mereka yang tewas telah mencapai sembilan  orang,  yang
terakhir  ialah  Shu'ab  orang Abisinia, budak Banu Abd'd-Dar.
Tangan kanan  orang  itu  telah  dihantam  oleh  Quzman,  maka
bendera  itu  dibawanya dengan tangan kiri. Tangan kiri inipun
oleh Quzman dihantam lagi dengan pedangnya.  Sekarang  bendera
itu  oleh Shu'ab dipeluknya dengan lengan ke dadanya, kemudian
ia membungkuk sambil berkata: Hai Banu Abd'd-Dar, sudahkah kau
maafkan?  Lalu  ia ditewaskan entah oleh Quzman atau oleh Sa'd
bin Abi Waqqash, sumbernya masih berbeda-beda.
 
Setelah mereka yang membawa bendera itu tewas  semua,  pasukan
orang-orang  musyrik  itu hancur. Mereka sudah tidak tahu lagi
bahwa mereka dikerumuni oleh wanita-wanita, bahwa berhala yang
mereka  mintai  restunya  telah  terjatuh  dari  atas unta dan
pelangking yang membawanya.
 
Kemenangan Muslimin dalam  perang  Uhud  pada  pagi  hari  itu
sebenarnya adalah suatu mujizat. Adakalanya orang menafsirkan,
bahwa  kemenangan  itu  disebabkan  oleh  kemahiran   Muhammad
mengatur  barisan  pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan
berkuda dengan anak panah sehingga mereka  tidak  dapat  maju,
juga  tidak dapat menyergap Muslimin dari belakang. Ini memang
benar. Tetapi juga tidak salah, bahwa 600 orang Muslimin  yang
menyerbu  jumlah  sebanyak  lima  kali  lipat  itupun,  dengan
perlengkapan yang juga demikian, motifnya  adalah  iman,  iman
yang sungguh-sungguh, bahwa mereka dalam kebenaran.
 
Inilah  yang  membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian
pimpinan. Barangsiapa yang telah beriman kepada kebenaran,  ia
takkan goncang oleh kekuatan materi, betapapun besarnya. Semua
kekuatan  batil  yang  digabungkan  sekalipun,  takkan   dapat
menggoyahkan  kebulatan tekadnya itu. Dapatkah kita menganggap
cukup dengan kepandaian pimpinan  itu  saja,  padahal  barisan
pemanah  yang  oleh  Nabi  ditempatkan  di  lereng  bukit  itu
jumlahnya tidak  lebih  dari  50  orang?  Andaikata  sekalipun
mereka  itu  terdiri  dari  200 orang atau 300 orang, mendapat
serbuan dari mereka yang sudah bertekad mati,  niscaya  mereka
tidak  akan  dapat  bertahan.  Tetapi  kekuatan yang terbesar,
ialah kekuatan konsepsi, kekuatan akidah, kekuatan  iman  yang
sungguh-sungguh  akan  adanya  Kebenaran  Tertinggi.  Kekuatan
inilah yang takkan dapat ditaklukkan selama orang masih  teguh
berpegang kepada kebenaran itu.
 
Karena  itulah, 3000 orang pasukan berkuda Quraisy jadi hancur
menghadapi serangan 600 orang Muslimin. Dan hampir-hampir pula
wanita-wanita  merekapun akan menjadi tawanan perang yang hina
dina.
 
Muslimin kini mengejar  musuh  itu  sampai  mereka  meletakkan
senjata  dimana  saja asal jauh dari bekas markas mereka. Kaum
Muslimin  sekarang  mulai   memperebutkan   rampasan   perang.
Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat
mereka  lupa  mengikuti  terus  jejak  musuh,   karena   sudah
mengharapkan kekayaan duniawi.
 
Mereka  ini  ternyata  dilihat  oleh pasukan pemanah yang oleh
Rasul  diminta  jangan  meninggalkan  tempat  di  gunung  itu,
sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang.
 
Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu,
kepada satu sama lain mereka berkata:
 
"Kenapa kita  masih  tinggal  disini  juga  dengan  tidak  ada
apa-apa.   Tuhan   telah  menghancurkan  musuh  kita.  Mereka,
saudara-saudara  kita  itu,  sudah   merebut   markas   musuh.
Kesanalah juga kita, ikut mengambil rampasan itu."
 
Yang seorang lagi tentu menjawab:
 
"Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan meninggalkan tempat
kita ini? Sekalipun kami diserang janganlah kami dibantu."
 
Yang pertama berkata lagi:
 
"Rasulullah   tidak   menghendaki    kita    tinggal    disini
terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu."
 
Lalu  mereka  berselisih.  Ketika itu juga tampil Abdullah bin
Jubair berpidato agar jangan  mereka  itu  melanggar  perintah
Rasul.  Tetapi  mereka  sebahagian  besar  tidak patuh. Mereka
berangkat juga. Yang masih tinggal hanya beberapa orang  saja,
tidak  sampai  sepuluh  orang. Seperti kesibukan Muslimin yang
lain, mereka yang ikut bergegas  itu  pun  sibuk  pula  dengan
harta rampasan. Pada waktu itulah Khalid bin'l-Walid mengambil
kesempatan - dia sebagai komandan kavaleri Mekah -  pasukannya
dikerahkan  ke  tempat  pasukan  pemanah,  dan  mereka  inipun
berhasil dikeluarkan dari sana.

Tindakan ini tidak disadari oleh pihak Muslimin. Mereka sangat
sibuk  untuk  memperhatikan  soal itu atau soal apapun, karena
sedang menghadapi harta  rampasan  perang  yang  mereka  keduk
habis-habisan  itu,  sehingga tiada seorangpun yang membiarkan
apa saja yang dapat  mereka  ambil.  Sementara  mereka  sedang
dalam keadaan serupa itu, tiba-tiba Khalid bin'l-Walid berseru
sekuat-kuatnya, dan sekaligus pihak Quraisypun mengerti, bahwa
ia  telah  dapat  membalikkan anak buahnya ke belakang tentara
Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul  mundur  sekarang
kembali  lagi  maju  dan  mendera Muslimin dengan pukulan maut
yang hebat sekali. Di sinilah giliran  bencana  itu  berbalik.
Setiap  Muslim  telah melemparkan kembali hasil renggutan yang
sudah ada di tangan itu,  dan  kembali  pula  mereka  mencabut
pedang hendak bertempur lagi.
 
Tetapi  sayang, sayang sekali! Barisan sudah centang-perenang,
persatuan sudah pecah-belah,  pahlawan-pahlawan  teladan  dari
kalangan  Muslimin  telah  dihantam oleh pihak Quraisy. Mereka
yang   tadinya   berjuang   dengan   perintah   Tuhan   hendak
mempertahankan  iman,  sekarang  berjuang hendak menyelamatkan
diri dari cengkaman maut, dari lembah  kehinaan.  Mereka  yang
tadinya berjuang dengan bersatu-padu, sekarang mereka berjuang
dengan bercerai-berai. Tak tahu  lagi  haluan  hendak  kemana.
Tadinya  mereka  berjuang di bawah satu pimpinan yang kuat dan
teguh, sekarang berjuang tanpa pimpinan lagi.
 
Jadi tidak heran, apabila  ada  seorang  Muslim  menghantamkan
pedangnya kepada sesama Muslim dengan tiada disadarinya.
 
Dalam    pada    itu    terdengar   pula   ada   suara   orang
berteriak-teriak, bahwa Muhammad sudah terbunuh. Keadaan makin
panik,  makin kacau-balau. Kaum Muslimin jadi berselisih, jadi
saling    bunuh-membunuh,    satu     sama     lain     saling
hantam-menghantam,  dengan  tiada  mereka  sadari  lagi karena
mereka sudah tergopoh-gopoh, sudah kebingungan. Kaum  Muslimin
telah  membunuh  sesama  Muslim,  Husail b. Jabir membunuh Abu
Hudhaifa karena sudah tidak  diketahuinya  lagi.  Yang  paling
penting  bagi  setiap Muslim ialah menyelamatkan diri; kecuali
mereka yang telah mendapat perlindungan Tuhan, seperti Ali  b.
Abi Talib misalnya.
 
Akan  tetapi begitu Quraisy mendengar Muhammad telah terbunuh,
seperti banjir mereka terjun mengalir ke  jurusan  tempat  dia
tadinya   berada.   Masing-masing  ingin  supaya  dialah  yang
membunuhnya atau ikut memegang peranan didalamnya,  suatu  hal
yang  akan  dibanggakan  oleh generasi kemudian. Ketika itulah
Muslimin   yang   dekat   sekali   dengan    Nabi    bertindak
mengelilinginya,  menjaga dan melindunginya. Iman mereka telah
tergugah kembali memenuhi  jiwa,  mereka  kembali  mendambakan
mati, dan hidup duniawi ini dirasanya sudah tak ada arti lagi.
Iman mereka makin besar,  keberanian  mereka  makin  bertambah
bilamana  mereka  melihat  batu  yang  dilemparkan Quraisy itu
telah  mengenai  diri  Nabi.  Gigi  gerahamnya  yang   setelah
terkena,  wajahnya  pecah-pecah  dan  bibirnya  luka-luka. Dua
keping lingkaran rantai  topi  besi  yang  menutupi  wajahnya,
telah   menusuk   pula   menembusi   pipinya.  Batu-batu  yang
menimpanya itu dilemparkan oleh 'Utba b. Abi Waqqash.
 
Sekarang  Rasul  dapat  menguasai  diri.  Ia  berJalan  sambil
dikelilingi   oleh   sahabat-sahabat.   Tetapi   tiba-tiba  ia
terperosok kedalam sebuah lubang yang sengaja digali oleh  Abu
'Amir guna menjerumuskan kaum Muslimin. Cepat-cepat Ali b. Abi
Talib menghampirinya, dipegangnya  tangannya,  dan  Talha  bin
'Ubaidillah   mengangkatnya  hingga  ia  berdiri  kembali.  Ia
meneruskan perjalanan  dengan  sahabat-sahabatnya  itu,  terus
mendaki  Gunung  Uhud, dan dengan demikian dapat menyelamatkan
diri dari kejaran musuh.
 
Pada waktu itu juga  Muslimin  berkumpul  di  sekitar  mereka.
Dalam   membela   Rasul  dan  menjaga  keselamatannya,  mereka
bersedia mati. Hari itu menjelang  tengah  hari,  Umm  'Umara6
seorang  wanita Anshar, berangkat pula membawa air berkeliling
dengan membagi-bagikan air itu  kepada  Muslimin  yang  sedang
berjuang   itu.  Setelah  melihat  Muslimin  terpukul  mundur,
dilemparkannya tempat air  itu  dan  dengan  menghunus  pedang
wanita   itu  terjun  pula  ikut  bertempur,  Ikut  melindungi
Muhammad dengan  pedang  dan  dengan  melepaskan  anak  panah,
sehingga  karenanya dia sendiri mengalami luka-luka. Sementara
Abu  Dujana  membuat  dirinya   sebagai   perisai   melindungi
Rasulullah,   dengan   membungkukkan   punggungnya,   sehingga
lemparan anak panah musuh mengenai dirinya.  Sedang  disamping
Muhammad  Sa'd  b.  Abi  Waqqash  melepaskan pula panahnya dan
Muhammad memberikan anak panah itu seraya  berkata:  "Lepaskan
(anak panah itu). Kupertaruhkan ibu-bapaku untukmu."7
 
Sebelum   itu   Muhammad  melepaskan  sendiri  anak  panahnya,
sampai-sampai ujung busurnya itu patah.
 
Adapun mereka  yang  mengira  Muhammad  telah  tewas  termasuk
diantara mereka itu  Abu  Bakr dan Umar   pergi ke arah gunung
dan mereka ini sudah  pasrah.  Hal  ini  diketahui  oleh  Anas
bin'n-Nadzr yang lalu berkata kepada mereka:
 
"Kenapa kamu duduk-duduk di sini?"
 
"Rasulullah sudah terbunuh," jawab mereka.
 
"Perlu apa lagi kita hidup sesudah itu? Bangunlah! Dan biarlah
kita juga mati untuk tujuan yang sama."
 
Kemudian ia maju menghadapi musuh. Ia  bertempur  mati-matian,
bertempur  tiada  taranya.  Akhimya  ia  baru  menemui ajalnya
setelah mengalami tujuhpuluh pukulan  musuh,  sehingga  ketika
itu  orang  tidak  dapat  lagi mengenalnya, kalau tidak karena
saudara perempuannya yang datang dan dapat mengenal  dia  dari
ujung jarinya.
 
Karena sudah percaya sekali akan kematian Muhammad, bukan main
girangnya pihak Quraisy waktu itu, Abu  Sufyanpun  sibuk  pula
mencarinya  di tengah-tengah para korban. Soalnya ialah mereka
yang telah  menjaga  keselamatan  Rasulullah  tidak  membantah
berita  kematiannya  itu,  sebab memang diperintahkan demikian
oleh Rasul, dengan maksud supaya pihak Quraisy  jangan  sampai
memperbanyak   lagi   jumlah   pasukannya  yang  berarti  akan
memberikan kemenangan kepada mereka.
 
Akan tetapi tatkala Ka'b bin Malik datang mendekati Abu Dujana
dan anak buahnya, ia segera mengenal Muhammad waktu dilihatnya
sinar matanya  yang  berkilau  dan  balik  topi  besi  penutup
mukanya   itu.   Ia   memanggil-manggil   dengan   suara  yang
sekeras-kerasnya:
 
"Saudara-saudara  kaum   Muslimin!   Selamat,   selamat!   Ini
Rasulullah!"
 
Ketika  itu Nabi memberi isyarat kepadanya supaya diam. Tetapi
begitu Muslimin mengetahui hal itu, Nabi segera mereka  angkat
dan  iapun  berjalan  pula  bersama mereka ke arah celah bukit
didampingi oleh Abu Bakr,  Umar,  Ali  b.  Abi  Talib,  Zubair
bin'l-'Awwam  dan  yang  lain.  Teriakan  Ka'b  itu pada pihak
Quraisy juga ada pengaruhnya. Memang benar,  bahwa  sebahagian
besar  mereka  tidak  mempercayai  teriakan itu, sebab menurut
anggapan mereka  itu  hanya  untuk  memperkuat  semangat  kaum
Muslimin  saja.  Tetapi  dari  mereka  itu  ada juga yang lalu
segera pergi mengikuti  Muhammad  dan  rombongannya  itu  dari
belakang.  Ubayy b. Khalaf kemudian dapat menyusul mereka, dan
lalu bertanya:
 
"Mana Muhammad?! Aku tidak akan selamat kalau dia  yang  masih
selamat," katanya.
 
Waktu  itu  juga oleh Rasul ia ditetaknya dengan tombak Harith
bin'sh-Shimma  demikian  rupa,  sehingga  ia  terhuyung-huyung
diatas  kudanya  dan  kembali  pulang  untuk  kemudian mati di
tengah jalan.
 
Sesampainya Muslimin  di  ujung  bukit  itu,  Ali  pergi  lagi
mengisi  air  ke  dalam  perisai kulitnya. Darah yang di wajah
Muhammad dibasuhnya serta menyirami kepalanya dengan air.  Dua
keping  pecahan  rantai  besi  penutup muka yangmenembus wajah
Rasul itu oleh Abu 'Ubaida  bin'l-Jarrah  dicabut  sampai  dua
buah gigi serinya tanggal.
 
Selama  mereka  dalam keadaan itu tiba-tiba Khalid bin'l-Walid
dengan pasukan berkudanya sudah berada di atas  bukit.  Tetapi
Umar  bin'l-Khattab dengan beberapa orang sahabat Rasul segera
menyerang  dan  berhasil  mengusir   mereka.   Sementara   itu
orang-orang  Islam  sudah  makin tinggi mendaki gunung. Tetapi
keadaan mereka sudah begitu  payah,  begitu  letih  tampaknya,
sampai-sampai  Nabi  melakukan salat lohor sambil duduk - juga
karena  luka-luka  yang  dideritanya,  -  demikian  juga  kaum
Muslimin  yang  lain  melakukan  salat  makmum di belakangnya,
sambil duduk pula.
 
Sebaliknya pihak Quraisy dengan kemenangannya itu mereka sudah
girang  sekali.  Terhadap  peristiwa perang Badr mereka merasa
sudah sungguh-sungguh dapat membalas dendam. Seperti kata  Abu
Sufyan: "Yang sekarang ini untuk peristiwa perang Badr. Sampai
jumpa lagi tahun depan!"
 
Tetapi isterinya, Hindun bint 'Utba tidak cukup  hanya  dengan
kemenangan,  dan  tidak  cukup hanya dengan tewasnya Hamzah b.
Abd'l-Muttalib, malah bersama-sama dengan warõita wanita  lain
dalam   rombongannya  itu  ia  pergi  lagi  hendak  menganiaya
mayat-mayat Muslimin;  mereka  memotongi  telinga-telinga  dan
hidung-hidung  mayat  itu,  yang  oleh  Hindun lalu dipakainya
sebagai kalung dan anting-anting. Kemudian diteruskannya lagi,
dibedahnya   perut  Hamzah,  dikeluarkannya  jantungnya,  lalu
dikunyahnya dengan giginya;  tapi  ia  tak  dapat  menelannya.
Begitu   kejinya   perbuatannya  itu,  begitu  juga  perbuatan
wanita-wanita anggota  rombongannya,  bankan  kaum  prianyapun
turut pula melakukan kejahatan serupa itu, sehingga Abu Sufyan
sendiri  menyatakan  lepas  tangan  dari  perbuatan  itu.   Ia
menyatakan,  bahwa  dia  samasekali  tidak memerintahkan orang
berbuat serupa itu, sekalipun dia sudah terlibat di  dalamnya.
Bahkan  ia pernah berkata, yang ditujukan kepada salah seorang
Islam. "Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan.  Tapi  aku
sungguh  tidak  senang,  juga tidak benci; aku tidak melarang,
juga tidak memerintahkan."
 
Selesai menguburkan mayat-mayatnya sendiri. Quraisypun  pergi.
Sekarang kaum Muslimin kembali ke garis depan guna menguburkan
mayat-mayatnya pula. Kemudian Muhammad  pergi  hendak  mencari
Hamzah,   pamannya.  Bilamana  kemudian  ia  melihatnya  sudah
dianiaya dan perutnya sudah dibedah, ia  merasa  sangat  sedih
sekali, sehingga ia berkata:
 
"Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini.
Belum pernah  aku  menyaksikan  suatu  peristiwa  yang  begitu
menimbulkan  amarahku  seperti  kejadian  ini."  Lalu katanya
lagi: "Demi Allah, kalau pada suatu  ketika  Tuhan  memberikan
kemenangan  kepada  kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya
mereka dengan cara yang  belum  pernah  dilakukan  oleh  orang
Arab."
 
Dalam kejadian inilah firman Tuhan turun.
 
"Dan  kalau  kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang
mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau  kamu  tabah  hati,
itulah  yang  paling  baik  bagi  mereka  yang  berhati  tabah
(sabar). Dan hendaklah  kau  tabahkan  hatimu,  dan  ketabahan
hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula
engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan  engkau  bersesak
dada  menghadapi apa yang mereka rencanakan itu." (Qur'an, 16:
126 - 127)
 
Lalu Rasulullah memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan ia
melarang  orang melakukan penganiayaan. Diselubunginya jenazah
Hamzah itu dengan mantelnya  lalu  disembahyangkannya.  Ketika
itu  Shafia  bt  Abd'l-Muttailb  - saudara perempuannya - juga
datang.   Ditatapnya   saudaranya    itu,    lalu    ia    pun
menyembahyangkannya dan mendoakan pengampunan baginya.
 
Nabi  memerintahkan  supaya  korban-korban  itu  dikuburkan di
tempat mereka menemui  ajalnya  dan  Hamzah  juga  dikuburkan.
Sesudah itu kaum Muslimin berangkat pulang ke Medinah, dibawah
pimpinan  Muhammad,  dengan  meninggalkan  70  orang   korban.
Kepedihan terasa sekali melecut hati mereka; karena kehancuran
yang mereka alami setelah  mendapat  kemenangan,  karena  rasa
hina  serta  rendah diri yang menimpa mereka, setelah mendapat
sukses yang gilang-gemilang. Semua kejadian itu  ialah  karena
pasukan  pemanah sudah melanggar perintah Nabi. Muslimin sudah
terlalu sibuk mengurus rampasan perang dari pihak musuh.
 
Nabi  memasuki  rumahnya  dengan  penuh  pikiran.  Orang-orang
Yahudi,   orang-orang   munafik   dan   musyrik   di   Yathrib
memperlihatkan  perasaan  gembira   yang   luarbiasa   melihat
kehancuran yang dialaminya dan dialami sahabat-sahabatnya itu.
Kewibawaan Muslimin di Medinah yang sudah  mulai  stabil,  dan
tak  ada  lagi pihak yang merongrongnya, sekarang sudah hampir
pula goncang dan goyah.
 
Abdullah b. Ubayy b. Salul sudah berbalik dari rombongan  itu,
ia   pulang   kembali   dari  Uhud,  tidak  ikut  serta  dalam
pertempuran, dengan alasan bahwa  karena  Muhammad  tidak  mau
menerima   pendapatnya,  atau  karena  Muhammad  marah  kepada
orang-orang Yahudi anak buahnya. Sekiranya kekalahan Uhud  itu
merupakan keputusan terakhir dalam hubungannya antara Muslimin
dengan Quraisy yang akan  menentukan  kedudukan  Muhammad  dan
sahabat-sahabatnya  di  kalangan Arab, tentu kewibawaan mereka
di Yathrib akan goyah dan akan menjadi sasaran ejekan Quraisy.
Di  mana-mana  di  seluruh  jazirah  Arab akan disebarkan pula
cemoohan-cemoohan demikian itu.  Sekiranya  ini  jugalah  yang
terjadi  tentu  akibatnya  akan  memberikan  keberanian kepada
orang-orang musyrik dan penyembah-penyembah  berhala  terhadap
agama Allah. Maka ini berarti suatu bencana besar.
 
Oleh  karena  itu  harus  ada pukulan yang benar-benar berani,
yang akan dapat mengurangi beban  kekalahan  selama  di  Uhud,
akan mengembalikan kekuatan moril Muslimin dan sekaligus dapat
menimbulkan  kegentaran  pada  pihak  Yahudi  dan  orang-orang
munafik.    Dengan    demikian    kewibawaan    Muhammad   dan
sahabat-sahabatnya  di  Yathrib  akan  kembali  kuat   seperti
sediakala.
 
Keesokan  harinya  setelah  peristiwa Uhud - yang terjadi pada
malam 16 Syawal (tahun ke 5 Hijrah) -  salah  seorang  muazzin
Nabi  berseru  kepada  Muslimin  dan mengerahkan mereka supaya
bersiap-siap  menghadapi  musuh  dan  mengadakan   pengejaran.
Tetapi  yang  dimintanya  hanya mereka yang pernah turut dalam
peperangan itu. Setelah kaum  Muslimin  berangkat,  pihak  Abu
Sufyan  merasa  ketakutan  sekali,  bahwa  musuhnya  yang dari
Medinah itu sekarang datang dengan bantuan baru. Tidak  berani
ia menghadapi mereka.
 
Sementara  itu  Muhammad  pun  sudah  sampai  pula  di  Hamra'
'l-Asad.8 Sedang  Abu  Sufyan  dan  teman-temannya  berada  di
Rauha'.  Waktu  itu  Ma'bad al-Khuza'i lewat dan sebelumnya ia
sudah pula lewat di tempat Muhammad dan rombongannya  itu.  Ia
ditanya  oleh Abu Sufyan tentang keadaan mereka itu, yang oleh
Ma'bad - ketika itu ia masih dalam syirik -dijawab:
 
"Muhammad dan sahabat-sahabatnya sudah berangkat  mau  mencari
kamu,  dalam  jumlah  yang  belum  pernah kulihat semacam itu.
Orang-orang  yang  dulunya   tidak   ikut,   sekarang   mereka
menggabungkan  diri  dengan  dia.  Mereka  semua  terdiri dari
orang-orang  yang  sangat  geram  kepadamu,  orang-orang  yang
hendak membalas dendam."
 
Akan  terpikir  juga  oleh  Abu  Sufyan  bagaimana  pula nanti
akibatnya apabila ia  lari  dari  Muhammad  dan  tidak  sampai
memghadapinya sesudah ia pernah mendapat kemenangan?! Bukankah
Quraisy nanti akan dicemooh oleh orang-orang Arab seperti yang
pernah  diinginkannya  akan terjadi demikian terhadap Muhammad
dan  sahabat-sahabatnya?!   Baiklah,   misalnya   ia   kembali
menghadapi Muhammad lalu ia dikalahkan oleh Muslimin, bukanlah
itu berarti bahwa bagi  Quraisy  sudah  tamat  riwayatnya  dan
tidak akan pernah bangun kembali!? Lalu dicarinya suatu helat,
diusutnya sebuah kafilah dari suku Abd'l-Qais pergi ke Medinah
dengan  memberitahukan  kepada  Muhammad bahwa ia (Abu Sufyan)
sudah   memutuskan   akan   berangkat   menyerbu,   dia    dan
sahabat-sahabatnya  akan  digempur dan dikikis habis sampai ke
sisa-sisanya. Setelah oleh  rombongan  pesan  itu  disampaikan
kepada  Muhammad  di  Hamra'  'l-Asad, sedikitpun semangat dan
ketabahannya tidak goyah. Bahkan sepanjang malam  selama  tiga
hari  itu  terus-menerus  ia memasang api unggun, sekalian mau
menunjukkan kepada  Quraisy  bahwa  ia  tetap  siap-siaga  dan
menunggu  kedatangan  mereka. Akhirnya semangat Abu Sufyan dan
orang-orang Quraisy jadi  buyar  sendiri.  Mereka  lebih  suka
bertahan  dengan  kemenangan  di  Uhud itu. Kemudian merekapun
kembali pulang menuju arah ke Mekah.
 
Muhammad juga lalu kembali ke  Medinah.  Sudah  banyak  posisi
yang dapat diambil kembali setelah tadinya mengalami kegoyahan
akibat peristiwa Uhud itu, meskipun kaum  munafik  mulai  pula
mengangkat    kepala   menertawakan   kaum   Muslimin   sambil
menanyakan: Kalau peristiwa Badr itu merupakan  pertanda  dari
Tuhan  atas kerasulan Muhammad, maka dengan peristiwa Uhud itu
apa pula konon pertandanya dan apa yang akan jadi alamatnya??!
 
Catatan kaki:
 
 1 Uhud, sebuah gunung, terletak sebelah utara Medinah (A).
   
 2 Ahabisy ialah suatu gabungan kabilah-kabilah dan
   suku-suku kecil, dengan al-Harith b. 'Abd Manaf b.
   Kinana sebagai pemukanya. Hubungan mereka dekat sekali
   dengan Quraisy (A).
   
 3 Juhfa sebuah tempat sepanjang jalan Medinah-Mekah,
   tiga atau empat hari perjaianan dari Mekah; juga
   merupakan tempat pertemuan orang-orang Mesir dan Syam.
   
 4 Sebuah kabilah dari Ta'if (A)
   
 5 Syaikhan nama sebuah tempat; pada masa Jahiliah konon
   di tempat itu terdapat dua buah kubu untuk dua orang
   tua yang buta, pria dan wanita, yang sedang
   bercakap-cakap. Maka tempat itu dinamai asy-Syaikhan
   (harfiah berarti dua orang tua).
   
 6 Namanya Nasiba, isteri Zaid b. 'Ashim (A).
   
 7 Diucapkan sebagai tanda cinta dan mendoakan kebaikan
   kepadanya (A).
   
 8 Sebuah tempat sejauh 8 mil dari Medinah.
__________________________________________________________
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1
 
Sumber: http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL HAKIM, MAHKUM FIH DAN MAHKUM ALAIH

Oleh: Siti Farida Sinta Riyana (11510080); Nur Aufa Handayani (11510081); Ahmad Ali Masrukan (11519985); Mayura (11510096); dan Muryono ( 11511038) A.       Al Ahkam 1.         Pengertian Al-Ahkam (hukum), menurut bahasa artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu. Sedang menurut istilah ialah ‘Khithab (titah) Allah Swt. atau sabda Nabi Muhammad Saw. yang berhubungan dengan segala amal perbuatan mukallaf , baik itu mengandung perintah, larangan, pilihan, atau ketetapan.

HUKUM SYAR’I (ا لحكم الشر عي)

OLEH: Ulis Sa’adah (11510046); Langga Cintia Dessi (11510089); dan Eka Jumiati (11510092) A.       HAKIKAT HUKUM SYAR’I Menurut para ahli ushul fiqh (Ushuliyun), yang dikatakan hukum syar’i ialah khitab (sabda) pencipta syari’at yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukallaf yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan atau yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu yang lain.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KHILAFIYAH

Disusun Oleh : Abdul Majid (111-11-074); Irsyadul Ibad (111-11-094);  dan Dwi Silvia Anggraini   (111-11-095) PENDAHULUAN Perbedaan selalu ada dalam kehidupan karena hal ini merupakan sunah Rasul yang berlaku sepanjang masa. Perbedaan juga terjadi dalam segi penafsiran dan pemahaman hukum yang berlaku. Seperti yang kita ketahui hukum tidaklah sekaku dalam hal penerapannya pada masa awal islam, pada masa itu Nabi Muhammad sebagai tolak ukur  dan akhir dari setiap permasalahan yang ada pada masa itu. Akan tetapi perbedaan itu semakin jelas terlihat ketika era para sahabat dan para tabi’in yang ditandai dengan adanya berbagai aliran atau madzhab yang bercorak kedaerahan dengan tokoh dan kecenderungan masing-masing.