Langsung ke konten utama

PERANG KHANDAQ DAN BANU QURAIZA




Oleh: Muhammad Husain Haekal
 
   Huyayy b. Akhtab menghasut semua masyarakat Arab
   melawan Muslimin - Sepuluh ribu prajurit menuju Medinah
   - Salman al-Farisi mengusulkan penggalian parit sekitar
   kota - Quraisy dan Ghatafan mengepung kota - Banu
   Quraiza melanggar perjanjian dengan pihak Muslimin -
   Hilangnya kepercayaan Arab-Yahudi - Kabilah-kabilah
   Arab menarik diri dari Medinah - Pengepungan Banu
   Quraiza.
 
SETELAH Medinah dikosongkan dari Banu Nadzir, kemudian setelah
peristiwa   Badr   Terakhir  dan  sesudah  ekspedisi-ekspedisi
Ghatafan  dan  Dumat'l-Jandal  berlalu,  tiba  waktunya   kaum
Muslimin   sekarang  merasakan  hidup  yang  lebih  tenang  di
Medinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu
banyak  mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang
mereka peroleh dari  peperangan  selama  itu,  meskipun  dalam
banyak  hal  kejadian  ini  telah membuat mereka lupa terhadap
masalah-masalah pertanian dan  perdagangan.  Tetapi  disamping
ketenangan   itu   Muhammad  selalu  waspada  terhadap  segala
tipu-muslihat  dan   gerak-gerik   musuh.   Mata-mata   selalu
disebarkan    ke   seluruh   pelosok   jazirah,   mengumpulkan
berita-berita sekitar kegiatan  masyarakat  Arab  yang  hendak
berkomplot  terhadap  dirinya. Dengan demikian ia selalu dalam
siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan
diri.
 
Tidak   begitu  sulit  orang  menilai  betapa  perlunya  harus
bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita  melihat
adanya  segala  macam  tipu-muslihat  Quraisy  dan  yang bukan
Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa
itu  -  juga  sesudah  itu  sebagian  besar dalam perkembangan
sejarahnya  masing-masing  mereka  itu  merupakan   sekumpulan
republik-republik   kecil,   yang   satu   sama  lain  berdiri
sendiri-sendiri.  Mereka  masing-masing   menggunakan   sistem
organisasi  yang  lebih  dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini
memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan  tradisi
yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya
pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini  Muhammad
pun  sebagai  orang Arab sangat waspada sekali mengingat nafsu
hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang  Arab
itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan
Yahudi  Banu  Nadzir,  demikian  juga   kabilah-kabilah   Arab
Ghatafan,  Hudhail  dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan
Syam,   mereka   saling   menunggu,   bahwa    Muhammad    dan
sahabat-sahabatnya  itu  akan  binasa.  Kalaupun  mereka  akan
mendapat  kesempatan,  masing-masing   berharap   akan   dapat
mengadakan  balas  dendam  terhadap  laki-laki  yang  sekarang
datang mencerai-beraikan masyarakat  Arab  dengan  kepercayaan
mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam
keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman  yang
telah  memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun
sekarang orang ini  sudah  kuat,  sudah  mempunyai  kemampuan,
sehingga  kota-kota  dan  kabilah-kabilah  Arab  yang  terkuat
sekalipun, merasa segan kepadanya.
 
Orang-orang Yahudi ialah  musuh  Muhammad  yang  paling  tajam
memperhatikan  ajaran-ajaran  dan  cara  berdakwahnya.  Dengan
kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan
nasib  yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri
Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid  (monotheisma).
Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan
pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan  dapat  mengalahkan
lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa
orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih
condong pada pengertian monotheisma. Sementara ajaran trinitas
Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh  jiwa
Semit.  Dan  sekarang  Muhammad, orang yang berasal dari pusat
Arab dan dari pusat orang-orang  Semit  sendiri,  menganjurkan
ajaran  tauhid  dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan
sekali, dapat menjelajahi dan merasuk  sampai  ke  lubuk  hati
orang,  dan  mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih
tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu
Qainuqa' dari Medinah, mengusir Banu Nadzir dari daerah koloni
mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka
sendiri  pergi  ke  Syam  atau pulang ke tanah air mereka yang
pertama,  ke  Bait'l-Maqdis   (Yerusalem)   di   Negeri   yang
Dijanjikan  - Ardz'l-Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus
berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat  membalas
dendam kepada Muhammad?
 
Rencana  hendak  menghasut orang-orang Arab adalah yang paling
terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka  Banu  Nadzir.  Untuk
melaksanakan  rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka
pergi hendak menemui Quraisy di  Mekah.  Mereka  terdiri  dari
Huyayy   b.   Akhtab.   Sallam   b.  Abi'l-Huqaiq  dan  Kinana
bin'l-Huqaiq, bersama-sama dengan  beberapa  orang  dari  Banu
Wa'il Hawadha b. Qais dan Abu 'Ammar.
 
Ketika  oleh  pihak Mekah, Huyayy ditanya mengenai golongannya
itu ia menjawab:
 
"Mereka saya biarkan mundar-mandir ke Khaibar dan  ke  Medinah
sampai  tuan-tuan  nanti datang ke tempat mereka dan berangkat
bersama-sama menghadapi Muhammad dan sahabatsahabatnya."
 
Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraiza, ia menjawab:
 
"Mereka tinggal di Medinah sekedar  mau  mengelabui  Muhammad.
Kalau  tuan-tuan  sudah datang mereka akan bersama-sama dengan
tuan-tuan."
 
Pihak Quraisy jadi ragu-ragu  akan  maju,  atau  mundur  saja.
Mereka   dengan  Muhammad  tidak  berselisih  apa-apa,  selain
ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga
yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat
dan tinggi juga?
 
"Tuan-tuan  dari   golongan   Yahudi,"   kata   pihak-Quraisy.
"Tuan-tuan   adalah   ahli  kitab  yang  mula-mula  dan  sudah
mengetahui pula apa  yang  menjadi  pertentangan  antara  kami
dengan  Muhammad.  Soalnya  sekarang: manakah yang lebih baik,
agama kami atau agamanya."
 
Pihak Yahudi menjawab:
 
"Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan  lebih
benar dari dia."
 
Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan;
 
"Tidakkah  engkau  perhatikan  orang-orang  yang  telah diberi
sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala  dan
mereka  berkata  kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih
benar dari orang yang beriman.'  Mereka  itulah  yang  dikutuk
oleh  Tuhan.  Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya
takkan ada penolong." (Qur'an, 4: 51-52)
 
Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini  dengan
sikap  lebih  mengutamakan  paganisma  mereka  daripada tauhid
Muhammad, maka dalam  Tarikh'l-Yahudi  fi  Bilad'l-'Arab,  Dr.
Israel  Wilfinson  menyebutkan:  "Seharusnya  mereka itu tidak
boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu  kotor,
dan   jangan   pula   berkata  dengan  terus-terang  di  depan
pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu  lebih
baik  daripada  tauhid  seperti yang diajarkan Islam, meskipun
hal  itu  akan  mengakibatkan  permintaan  mereka  tidak  akan
dipenuhi.  Oleh  karena  orang-orang Israil sejak berabad-abad
lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala  sebagai  pengemban
panji  tauhid  (monotheisma)  diantara bangsa-bangsa di dunia,
dan  telah  pula   mengalami   pelbagai   macam   penderitaan,
pembunuhan  dan  penindasan  hanya  karena  iman mereka kepada
Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman
selama  dalam  perkembangan  sejarah,  maka  sudah  seharusnya
mereka itu bersedia mengorbankan  hidup  mereka,  mengorbankan
segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum
musyrik itu. Apalagi dengan minta  perlindungan  kepada  pihak
penyembah  berhala,  itu  berarti  mereka telah memerangi diri
sendiri serta  menentang  ajaran-ajaran  Taurat  yang  meminta
mereka   menjauhi   penyembah-penyembah   berhala   dan  dalam
menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.
 
Huyayy b. Akhtab dan orang-orang Yahudi  yang  sepaham  dengan
dia,  yang  telah  mengatakan  kepada  Quraisy bahwa paganisma
mereka lebih  baik  daripada  tauhid  Muhammad  dengan  maksud
supaya   mereka   sudi  memeranginya,  dan  yang  akan  mereka
laksanakan setelah sekian  bulan  disiapkan,  tampaknya  tidak
cukup  sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi
lagi menemui kabilah Ghatafan2 yang terdiri dari Qais  'Ailan,
Banu  Fazara,  Asyja'  Sulaim, Banu Sa'd dan Asad, serta semua
pihak yang ingin menuntut balas kepada  Muslimin.  Mereka  ini
aktif  sekali  mengerahkan  orang supaya menuntut balas dengan
menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi  Muhammad.
Paganisma  Quraisy  mereka  puji dan mereka menjanjikan, bahwa
mereka pasti akan mendapat kemenangan.
 
Kelompok-kelompok3  yang  sudah  diorganisasikan  oleh   pihak
Yahudi  itu  kini  berangkat  hendak  memerangi  Muhammad  dan
sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh  Abu
Sufyan  sudah  disiapkan  4000 orang prajurit, tiga ratus ekor
kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun
di  Dar'n-Nadwa diserahkan kepada 'Uthman b. Talha. Ayah orang
ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di  Uhud.  Banu
Fazara  yang  dipimpin oleh 'Uyaina b. Hishn b. Hudhaifa telah
siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja'
dan  Murra  masing-masing  membawa  400  prajurit. Pihak Murra
dipimpin oleh Al-Harith b. 'Auf dan  dari  pihak  Asyja'  oleh
Misiar   ibn  Rukhaila.  Menyusul  pula  Sulaim,  biang-keladi
peristiwa Bi'r Ma'una, dengan  700  orang.  Mereka  itu  semua
berkumpul,  yang  kemudian  datang  pula  Banu  Sa'd  dan Asad
menggabungkan  diri.  Jumlah  mereka  kurang  lebih   semuanya
menjadi  10.000  orang.  Semua  mereka  itu  berangkat  menuju
Medinah dibawah pimpinan Abu Sufyan.
 
Setelah mereka  sampai,  selama  dalam  perang,  pemuka-pemuka
kabilah  itu  saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari
mendapat giliran.
 
Berita keberangkatan mereka ini sampai  juga  kepada  Muhammad
dan  kaum  Muslimin  di  Medinah.  Mereka  merasa  gentar. Ya,
sekarang seluruh kabilah Arab  sudah  bersatu  sepakat  hendak
menumpas   dan   memusnahkan   mereka,   sudah  datang  dengan
perlengkapan dan jumlah manusia yang  besar,  suatu  hal  yang
dalam  sejarah  peperangan  Arab  secara  keseluruhannya belum
pernah  terjadi.  Apabila  dalam  perang  Uhud  Quraisy  telah
mendapat   kemenangan   atas   mereka,  ketika  mereka  keluar
menyongsong keluar Medinah, padahal baik  jumlah  perlengkapan
maupun  jumlah  manusia  jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa
lagi  yang  dapat  dilakukan  kaum  Muslimin  sekarang   dalam
menghadapi   jumlah  pasukan  yang  terdiri  dari  beribu-ribu
rnanusia itu  -  barisan  berkuda,  unta,  persenjataan  serta
perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di
Yathrib  yang  masih  perawan  ini,  seperti  dikatakan   oleh
Abdullah b. Ubayy.
 
Tetapi   cukup  hanya  bertahan  sajakah  menghadapi  kekuatan
raksasa  itu?  Salman  al-Farisi  adalah  orang  yang   banyak
mengetahui  seluk-beluk  peperangan,  yang  belum  dikenal  di
daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di  sekitar  Medinah
itu  digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran
ini segera dilaksanakan oleh kaum  Muslimin.  Ketika  menggali
parit  itu  Nabi  a.s.  juga  dengan  tangannya  sendiri  ikut
bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan  sambil  terus  memberi
semangat,  dengan  menganjurkan  kepada  mereka  supaya  terus
melipat  gandakan  kegiatan.  Pihak  Muslimin  sudah   membawa
alat-alat  yang  diperlukan,  terdiri  dari sekop, cangkul dan
keranjang pengangkut  tanah  dari  tempat  orang-orang  Yahudi
Quraiza yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja
giat terus-menerus penggalian parit itu  selesai  dalam  waktu
enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap
ke arah  datangnya  musuh,  yang  jaraknya  dengan  parit  itu
kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di
belakang  parit  itu   dikosongkan.   Wanita   dan   anak-anak
ditempatkan  dalam  rumah-rumah  yang  sudah diperkuat, dan di
samping parit dari arah Medinah ditaruh pula  batu  supaya  di
waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.
 
Tatkala  pihak  Quraisy  dan  kelompok-kelompoknya  itu datang
dengan harapan akan menemui Muhammad di Uhud, ternyata  tempat
itu  kosong.  Mereka  meneruskan  perjalanan  ke Medinah; tapi
mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di  luar  dugaan  semula,
mereka  heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing
bagi mereka itu. Dibawa  oleh  perasaan  jengkel,  mereka  pun
menganggap  bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah
suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan
masyarakat  Arab.  Pasukan  Quraisy  dan sekutu-sekutunya lalu
bermarkas di Mujtama'l'-As-yal di  daerah  Ruma,  dan  pasukan
Ghatafan  serta  pengikut-pengikutnya  dari Najd, bermarkas di
Dhanab Naqama. Sedang Muhammad sekarang berangkat dengan  tiga
ribu  orang  Muslimin,  dengan  membelakanyi  bukit  Sal'  dan
dijadikannya parit itu sebagai batas dengan  pihak  musuh.  Di
tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna
merah.
 
Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat,  bahwa
tidak  mungkin  mereka  menerobos  parit  itu. Dengan demikian
selama beberapa hari  mereka  hanya  saling  melemparkan  anak
panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikutpengikutnya pun yakin
bahwa akan  sia-sia  saja  mereka  lama-lama  menghadapi  kota
Yathrib  dengan  paritnya  itu, karena tidak akan dapat mereka
menerobosnya
 
Pada waktu itu sedang  terjadi  musim  dingin  yang  luarbiasa
disertai   angin   badai   yang   bertiup   kencang,  sehingga
sewaktu-waktu  dikawatirkan  hujan  lebat  akan  turun.  Kalau
orang-orang  Mekah  dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja
dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka  di  Mekah  atau  di
Ghatafan,  maka  kemah-kemah  yang  mereka  pasang sekarang di
depan kota Yathrib itu  sama-sekali  takkan  dapat  melindungi
mereka.  Disamping  itu  tadinya  memang mereka mengharap akan
memperoleh  kemenangan  secara  lebih   mudah,   tidak   perlu
susah-payah  seperti  pada  waktu di Uhud. Mereka akan kembali
pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati
adanya  pembagian  barang-barang  jarahan dan rampasan perang.
Jadi apalagi kalau begitu yang  masih  menahan  Ghatafan  buat
kembali  pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu
hanya karena pihak Yahudi  pernah  menjanjikan  mereka  dengan
buah-buahan  hasil  pertanian  dan perkebunan Khaibar, apabila
mereka memperoleh kemenangan, Tetapi sekarang  mereka  melihat
untuk  memperoleh  kemenangan  itu tampaknya tidak mudah, atau
setidak-tidaknya sudah diluar kenyataan.  Dalam  musim  dingin
yang   begitu   hebat  rupanya  diperlukan  kerja  keras  yang
luarbiasa yang akan membuat  mereka  lupa  segala  buah-buahan
berikut kebun-kebunnya itu!
 
Sebaliknya  pihak  Quraisy  yang  hendak menuntut balas karena
peristiwa Badr dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badr, pada
suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu
tidak akan  selamanya  berada  dalam  genggaman  Muhammad  dan
selama  pihak  Banu  Quraiza masih bersedia memberikan bantuan
kepada penduduk Yathrib, yang  akan  memperpanjang  perlawanan
mereka  sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab
itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan  kembali
kelompok-kelompok  itu  nanti  buat  memerangi  Muhammad  lagi
bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang  Yahudi  itu,
terutama  Huyayy b. Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu
telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas
dendam   golongannya   dan  golongan  Banu  Qainuqa'  terhadap
Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu  sudah
hilang,  maka  jangan  diharap  ia  akan kembali, dan bilamana
Muhammad mendapat kemenangan  dengan  ditariknya  pihak  Ahzab
itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.
 
Semua  itu  sudah  diperhitungkan  oleh  Huyayy  b. Akhtab. Ia
kuatir  akan  akibatnya.  jalan  lain  tidak  ada.  Ia   harus
mempertaruhkan  nasib  terakhir.  Kepada  pihak  Ahzab  itu ia
membisikkan, bahwa ia  sudah  dapat  meyakinkan  Banu  Quraiza
supaya  membatalkan  perjanjian  perdamaiannya dengan Muhammad
dan pihak Muslimin, dan selanjutnya  akan  menggabungkan  diri
dengan  mereka, dan bahwa begitu Banu Quraiza melaksanakan hal
ini, maka dari suatu segi  terputuslah  semua  perbekalan  dan
bala  bantuan  kepada  Muhammad itu, dan dari, segi lain jalan
masuk ke Yathrib akan terbuka.  Quraisy  dan  Ghatafan  merasa
gembira atas keterangan Huyayy itu. Huyayy sendiri cepat-cepat
berangkat  hendak   menemui   Ka'b   b.   Asad,   orang   yang
berkepentingan  dengan  adanya  perjanjian  Banu  Quraiza itu.
Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'b sudah  menutup
pintu  bentengnya,  dengan  perhitungan  bahwa pembelotan Banu
Quraiza terhadap Muhammad dan membatalkan perjanjiannya secara
sepihak   kemudian   menggabungkan   diri   dengan   musuhnya,
adakalanya memang akan  menguntungkan  pihak  Yahudi  kalaupun
pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah
seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak  Ahzab
itu  yang  mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari
Medinah. Sungguhpun begitu Huyayy terus juga berusaha,  hingga
akhirnya pintu benteng itu dibuka.

"Ka'b,  sungguh  celaka,"  katanya kemudian. "Saya datang pada
waktu yang tepat dan membawa  tenaga  yang  tepat  pula.  Saya
datang  membawa  Quraisy  dan Ghatafan dengan pemimpinpemimpin
dan pemuka-pemuka  mereka.  Mereka  sudah  berjanji  kepadaku,
bahwa  mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis
Muhammad dan kawan-kawannya itu."
 
Tetapi Ka'b masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta
kesetiaan  Muhammad  kepada  perjanjian  itu.  Ia  kuatir akan
akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyayy itu. Tetapi Huyayy
masih  terus  menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang
Yahudi karena Muhammad itu, dan juga bencana yang akan  mereka
alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya.
Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta  perlengkapan
dan  jumlah  orangnya.  Yang  sekarang masih merintangi mereka
untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu,
hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka'b sudah mulai lunak.
 
"Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini
Huyayy memberikan jaminan, bahwa kalau  Quraisy  dan  Ghatafan
sampai  kembali  dan tidak berhasil menghantam Muhammad ia pun
akan tinggal dalam benteng itu  dan  akan  tetap  bersama-sama
dalam  seperjuangan.  Dalam  hati  Ka'b  nafsu Yahudinya sudah
mulai  bergerak-gerak.  Permintaan  Huyayy  itu   diterimanya,
perjanjian   dengan   Muhammad   dan   kaum   Muslimin   mulai
dilanggarnya dan ia sudah  keluar  dari  sikap  kenetralannya.
 
Berita-berita  penggabungan  Quraiza  dengan  pihak  Ahzab itu
sampai juga kepada  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya.  Mereka
sangat  terkejut  sekali  dan  kuatir  juga  akan  akibat yang
mungkin terjadi. Muhammad  segera  mengutus  Sa'd  b.  Mu'adh,
pemimpin  Aus  dan  Sa'd b. 'Ubada, pemimpin Khazraj, disertai
pula oleh Abdullah b.  Rawaha  dan  Khawat  b.  Jubair  dengan
tujuan  supaya  mempelajari  duduk  perkara  yang  sebenarnya.
Bilamana mereka kembali  pulang,  hendaknya  dapat  memberikan
isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai
mematahkan semangat orang.
 
Tetapi sesampainya para  utusan  itu  kesana,  mereka  melihat
keadaan  Quraiza justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah
mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan  itu  supaya
mereka  mau  menghormati  perjanjian  yang  ada.  Tetapi  Ka'b
berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi  Banu  Nadzir
dikembalikan  ke  kampung  halaman  mereka. Ketika itu Said b.
Mu'adh - yang juga bersahabat  baik  dengan  pihak  Quraiza  -
mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib
seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadzir, atau yang  lebih
parah   lagi   dari  itu.  Pihak  Yahudi  sekarang  mau  terus
melancarkan serangan kepada Muhammad a.s.
 
"Siapa Rasulullah itu!?" kata  Ka'b.  "Kami  dengar  Muhammad
tidak  terikat  oleh  sesuatu persahabatan atau perjanjian apa
pun!"
 
Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.
 
Utusan-utusan Muhammad  pulang.  Mereka  melaporkan  apa  yang
telah   mereka   saksikan.   Bencana   besar  kini  mengancam.
Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Medinah  kini  melihat
pihak  Quraiza  telah  membukakan  jalan bagi Ahzab, yang akan
memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar
khayal  dan  ilusi  saja. Terbukti Banu Quraiza sekarang sudah
memutuskan segala bantuan dan  bahan  makanan  kepada  mereka.
Juga    terbukti    sekembalinya   Huyayy   b.   Akhtab   yang
memberitahukan kepada mereka, bahwa  Quraiza  telah  tergabung
dengan  pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah
dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya  lagi
pihak  Quraiza  telah  memperpanjang waktu selama sepuluh hari
lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan  persiapan,  asal  Ahzab
selama   sepuluh   hari  itu  benar-benar  mau  menyerbu  kaum
Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka  telah
menyusun  tiga  buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah
pasukan dibawah  pimpinan  Ibn'l-A'war  as-Sulami  didatangkan
dari  jurusan  sebelah  atas  wadi, pasukan yang dipimpin oleh
'Uyayna b. Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang
dipimpin  oleh  Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam
peristiwa inilah ayat berikut ini turun:
 
"Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas  dan  bawah,
dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di
kerongkongan (sangat gelisah), ketika  itu  kamu  berprasangka
tentang  Tuhan,  prasangka  yang  salah  belaka.  Saat  itulah
orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka  mengalami
keguncangan  yang  hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang
munafik dan orang-orang yang  berpenyakit  dalam  hatinya  itu
berkata:  Apa  yang  dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami
hanyalah tipu daya  belaka.  Juga  ketika  ada  satu  golongan
diantara  mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yathrib! Tak ada
tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang."  Dan  ada  sebagian
dari  mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata:
'Sesungguhnya rumah-rumah  kami  terbuka.'  Tetapi  sebenarnya
tidak  terbuka.  Hanya  saja mereka itu ingin melarikan diri."
(Qur'an, 33: 10-13)
 
Tetapi buat  penduduk  Yathrib  masih  dapat  dimaafkan  kalau
mereka   sampai   begitu  takut  dan  hati  mereka  terguncang
karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan  itu  ialah  yang
berpendapat:   Dulu  Muhammad  menjanjikan  kami,  bahwa  kami
mendapat  harta  kekayaan  Kisra  dan  Kaisar  Rumawi.  Tetapi
sekarang  orang  sudah  merasa tidak aman lagi sekalipun hanya
akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun
dapat  dimaafkan.  Demikian  juga  mereka  yang  merasa sangat
gelisah dalam ketakutan dapat juga  dimaafkan.  Bukankah  maut
juga  yang  sekarang  sedang  menari-nari  di  depan  matanya,
menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di  tangan
Quraisy  dan  Ghatafan,  menyusup-nyusup  kedalam hati sebagai
ancaman, dan juga yang datang dari  rumah-rumah  Banu  Quraiza
yang   berkhianat  itu?  Sungguh  celaka  orang-orang  Yahudi.
Sungguh patut sekali kalau Muhammad mengikis habis  saja  Banu
Nadzir  itu  daripada  hanya  sekedar  membiarkan mereka pergi
dalam  keadaan  berkecukupan,  serta  membiarkan  Huyayy   cs.
menghasut   masyarakat   dan   kabilah-kabilah   Arab   supaya
menghantam kaum Muslimin. Ya,  sungguh  suatu  bencana  besar,
suatu  ancaman  besar.  "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan
Allah juga."
 
Dari segi  moril  pihak  Ahzab  sudah  merasa  begitu  tinggi,
sehingga  ada  beberapa  orang ksatria dari Quraisy yang sudah
berani maju kedepan, seperti 'Amr b. 'Abd Wudd, 'Ikrima b. Abi
Jahl  dan Dzirar bin'l-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit
itu. Mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya
kuda  mereka  itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan
sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Sal'.
Ketika  itu juga Ali b. Abi Talib keluar dengan beberapa orang
dari  kalangan  Muslimin,  terus  cepat-cepat  merebut  sebuah
rongga  dalam  parit  yang  telah diserbu oleh pasukan berkuda
mereka. Ketika itu 'Amr b. 'Abd. Wudd memanggil-manggil:
 
"Siapa berani bertanding?!"
 
Setelah ajakannya itu disambut  oleh  Ali  b.  Abi  Talib,  ia
berkata lagi dengan congkak sekali:
 
"Oh kemenakanku ! Aku tidak ingin membunuhmu."
 
"Tapi aku ingin membunuh kau," sahut Ali.
 
Kemudian  duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat
itu  juga  pasukan  berkuda  pihak  Ahzab  lari   kucar-kacir,
sehingga  mereka  terbentur  sekali lagi ke dalam parit sambil
lari terus tanpa melihat kekanan-kiri lagi.
 
Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal
b.  Abdullah  bin'l-Mughira  dengan  menunggang kudanya hendak
menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan
hebat  sehingga  ia  berikut  kudanya  itu  mati dan hancur di
tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran
hendak  menebus  mayat  kawannya itu dengan seratus ekor unta,
Tetapi itu oleh Nabi a.s. ditolak, seraya berkata:
 
"Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga."
 
Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab  sekarang  mulai
lagi   hendak  mengobarkan  api  permusuhannya  dengan  maksud
menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin.  Orang-orang
Quraiza  yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan
kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Medinah  yang
terdekat   pada   mereka.  Maksud  mereka  mau  menakut-nakuti
penduduk.
 
Pada waktu itu Shafia bt. Abd'l-Muttalib sedang  berada  dalam
Fari', benteng Hassan b. Thabit. Juga Hassan ketika itu disana
dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang  orang
Yahudi yang mundar-mandir sekeliling benteng itu.
 
"Kaulihat bukan?" kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu
mundar-mandir  sekeliling  benteng  kita.  Sungguh  aku  tidak
mempercayainya.  Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak
Yahudi. Sedang Rasulullah dan  sahabat-sahabat  sedang  sibuk.
Turunlah kau dan bunuh orang itu."
 
"Semoga  Tuhan  mengampunimu,  Shafia,"  jawab Hassan. "Engkau
tahu, aku bukan orangnya akan melakukan itu."
 
Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang  tongkat.  Ia
turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai
ia menemui ajalnya.
 
"Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki;  kalau
tidak aku sendiri yang akan melakukannya."
 
"Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk
Medinah masih  dalam  ketakutan,  hati  mereka  masih  gelisah
selalu.  Dalam  pada  itu yang selalu menjadi pikiran Muhammad
ialah bagaimana caranya mencari jalan keluar. Harus ada  suatu
taktik.   Dikirimnya   utusan  kepada  pihak  Ghatafan  dengan
menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Medinah  untuk  mereka
asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.
 
Pihak  Ghatafan  sendiri  sebenarnya  sudah mulai jemu. Mereka
sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama  mereka
mengadakan  pengepungan  dengan segala jerih payah yang mereka
hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan
Huyayy   b,   Akhtab   dan  orang-orang  Yahudi  yang  menjadi
pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim b. Mas'ud, dengan perintah
Rasul  telah  pergi  hendak menemui pihak Quraiza, yang ketika
itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam.  Pada  zaman
jahiliah   ia  bergaul  rapat  sekali  dengan  pihak  Quraiza.
Diingatkannya kembali hubungan dan  persahabatan  mereka  masa
dahulu  itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah
mendukung Quraisy  dan  Ghatafan  dalam  menghadapi  Muhammad,
sedang  baik  Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan
lama tinggal di tempat  itu.  Kedua  kabilah  ini  tentu  akan
berangkat  pulang,  dan  mereka  akan  ditinggalkan  sendirian
menghadapi Muhammad yang tentunya nanti akan menghajar  mereka
pula.  Oleh  karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau
ikut golongan itu  sebelum  mendapat  jaminan  beberapa  orang
sebagai  sandera  dari  kedua  golongan  itu.  Dengan demikian
Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan  mereka.  Quraiza
merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu.
 
Selanjutnya  ia  pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan,
bahwa sebenarnya pihak Quraiza  merasa  menyesal  sekali  atas
tindakannya  melanggar  perjanjian  dengan  Muhammad dan bahwa
mereka  sekarang  berusaha  hendak   mengambil   hatinya   dan
mengadakan   tali   persahabatan   lagi  dengan  jalan  hendak
menyerahkan   pemimpin-pemimpin   Quraisy   kepadanya   supaya
dibunuh.  Oleh  karena  itu lalu disarankannya, bahwa bilamana
nanti pihak  Yahudi  mengutus  orang  meminta  jaminan  berupa
pemimpin-pemimpin  mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap
Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap
Ghatafan.  Keterangan  Nu'aim  ini  telah menimbulkan keraguan
dalam hati Quraisy dan Ghatafan.
 
Pemimpin-pemimpin mereka segera  berunding.  Abu  Sufyan  lalu
mengutus  orang  menemui  Ka'b,  pemimpin  Banu Quraiza dengan
pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung
orang  itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu
Muhammad dan kami dibelakangmu."
 
Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali  dengan  membawa  jawaban
pemimpin  Quraiza:  "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu
kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."
 
Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar  juga  kata  Nu'aim
kalau  begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan
kepada pihak Quraiza: "Cari Sabtu4 lain saja sebagai pengganti
Sabtu  besok,  sebab besok Muhammad harus sudah diserbu. Kalau
kami sudah mulai menyerang Muhammad  sedang  kamu  tidak  ikut
serta  dengan  kami,  maka  persekutuan kita dengan sendirinya
bubar, dan kamulah yang akan kami  serbu  lebih  dulu  sebelum
Muhammad."
 
Pernyataan  Abu  Sufyan  itu oleh Quraiza tetap dijawab dengan
mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari  Sabtu.  Ada
golongan  mereka  yang  telah  mendapat kemurkaan Tuhan karena
telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi  monyet
dan  babi.  Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta
sebagai sandera, supaya mereka  lebih  yakin  akan  perjuangan
mereka itu.
 
Mendengar  permintaan  semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi
akan keterangan yang  telah  diberikan  Nu'aim  itu.  Terpikir
olehnya  sekarang  apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini
dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka  juga  masih
maju-mundur hendak memerangi Muhammad. Mereka terpengaruh oleh
janji yang pernah diberikan  kepada  mereka,  bahwa  sepertiga
hasil  buah-buahan kota Medinah nanti untuk mereka, tapi janji
tersebut belum ter]aksana karena masih mendapat tantangan dari
Said  b.  Mu'adh  dan pemuka-pemuka Medinah, baik kalangan Aus
dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.
 
Malam harinya angin topan  bertiup  kencang  sekali,  disertai
oleh   hujan   yang   turun   dengan   lebatnya.  Bunyi  petir
menderu-deru     diselingi      oleh      halilintar      yang
sambung-menyambung.  Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang
sekali dan kuali-kuali tempat mereka  masak  terbalik  belaka.
Sekarang  timbul  rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka
bahwa  kaum  Muslimin  akan  mengambil  kesempatan  ini  untuk
menyerang   dan  menghantam  mereka.  Ketika  itu  Tulaiha  b.
Khuailid tampil seraya berteriak: "Muhammad  telah  mendahului
menyerang kita. Selamatkan dirimu ! Selamatkan!"
 
"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak
lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan  kita  yang
terdiri  dari  kuda  dan unta sudah binasa, Banu Quraiza sudah
tidak  menepati  janjinya  lagi  dengan  kita,   bahkan   kita
mendengar  hal-hal  dari  mereka yang tidak menyenangkan hati.
Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat.  Maka
lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang."
 
Ditengah-tengah  angin  yang  masih bertiup kencang, rombongan
itu berangkat  dengan  membawa  perbekalan  seringan  mungkin,
diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya.
 
Keesokan  harinya  sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh
Muhammad di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke  Medinah
bersama-sama   umat   Islam  yang  lain.  Mereka  bersama-sama
menyatakan rasa syukur  yang  sedalam-dalamnya  kepada  Tuhan,
karena   mereka  telah  terhindar  dari  segala  mara  bahaya,
orang-orang  beriman   itu   tidak   sampai   terlibat   dalam
pertempuran.
 
                            ***
 
Setelah   pihak   Ahzab  berangkat  pulang,  Muhammad  kembali
memikirkan keadaannya. Tuhan telah menyelamatkannya dari musuh
yang  selama  ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun begitu pihak
Yahudi dapat saja mengulang  kembali  peristiwa  semacam  itu,
dapat  saja  mereka  mencari  kesempatan lain, tidak lagi pada
musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang
telah merupakan bantuan Tuhan dalam menghancurkan pihak musuh.
Disamping itu, kalaupun tidak karena Azhab  telah  pergi,  dan
peristiwa   perpecahan  di  pihaknya  sendiri  telah  terjadi,
niscaya  Banu  Quraiza  itu  sudah  siap-siap  pula  turun  ke
Medinah,  akan  menghantam  dan  akan  memberikan segala macam
bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin.
 
Jadi, jangan membiarkan ekor ular yang  sudah  dipotong.  Atas
perbuatannya  itu  Banu  Quraiza  harus dibasmi. Dalam hal ini
Nabi a.s. memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang,
yakni: Barangsiapa yang tetap setia, bersembahyang Asar supaya
dilakukan   di   perkampungan   Banu   Quraiza.    Lalu    Ali
diberangkatkan  lebih  dulu  dengan  membawa bendera ke tempat
itu. Sungguhpun  pihak  Muslimin  sudah  begitu  payah  akibat
pengepungan Quraisy dan Ghatafan yang cukup lama, namun mereka
segera bergegas ke  medan  perang  lagi.  Mereka  yakin  bahwa
mereka  akan  mendapat  kemenangan.  Memang  benar, bahwa Banu
Quraiza  tinggal  dalam  benteng-benteng  yang  begitu   kukuh
seperti    perbentengan   Banu   Nadzir,   tetapi   kendatipun
benteng-benteng itu  dapat  melindungi  mereka,  namun  mereka
tidak  akan  dapat tahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan
bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah,  setelah
pihak  Ahzab  meninggalkan  tempat  tersebut. Oleh karena itu,
pihak Muslimin  pun  dengan  perasaan  gembira  bergegas  pula
berangkat di belakang Ali, menuju ke tempat Banu Quraiza.
 
Ternyata  mereka  itu - juga Huyayy b. Akhtab dari Banu Nadzir
ada di tempat itu - melemparkan kata-kata yang  tidak  senonoh
dialamatkan   kepada   Muhammad.   Mereka  mendustakannya  dan
memakinya serta mau mencemarkan nama baik  isterinya.  Setelah
kekalahan pasukan Ahzab di Medinah, seolah mereka memang sudah
merasakan apa yang akan terjadi terhadap diri mereka.

Ketika  Rasul  kemudian  sampai  ke  tempat  itu  Ali   segera
menemuinya   dan   dimintanya   supaya   jangan  ia  mendekati
perbentengan Yahudi itu.
 
"Kenapa?"  tanya  Muhammad.  "Rupanya  kau  mendengar   mereka
memaki-maki aku."
 
"Ya" jawab Ali.
 
"Kalau  mereka  melihat  aku"  kata  Rasulullah, "tentu mereka
tidak akan mengeluarkan kata-kata itu."
 
Setelah   berada   dekat   dari   perbentengan   itu    mereka
dipanggil-panggil:
 
"Hai,  golongan  kera. Tuhan sudah menghinakan kamu bukan, dan
sudah menurunkan murkaNya kepada kamu sekalian?!"
 
"Abu'l-Qasim,"  kata  mereka.  "Tentu   engkau   bukan   tidak
mengetahui."
 
Sepanjang  hari  itu kaum Muslimin terus berdatangan ke tempat
Banu  Quraiza,  sehingga  mereka  dapat  berkumpul  di   sana.
Kemudian Muhammad memerintahkan supaya tempat itu dikepung.
 
Pengepungan  demikian  itu terjadi selama duapuluh lima malam.
Sementara itu terjadi  pula  beberapa  kali  bentrokan  dengan
saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu
Banu Quraiza samasekali tidak  berani  keluar  dari  kubu-kubu
mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak
akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan  jatuh
ke  tangan  kaum  Muslimin  apabila  masa pengepungan berjalan
lama,  maka  mereka  mengutus  orang   kepada   Rasul   dengan
permintaan  "supaya  mengirimkan  Abu Lubaba kepada kami untuk
kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah  kami  ini."
Sebenarnya  Abu  Lubaba ini golongan Aus yang termasuk sahabat
baik mereka.
 
Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubaba, mereka memberikan
sambutan  yang  luarbiasa.  Kaum  wanita  dan anak-anak segera
meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa  iba
sekali melihat mereka.
 
"Abu  Lubaba,"  kata  mereka  kemudian. "Apa kita harus tunduk
kepada keputusan Muhammad?"
 
"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan  kelehernya
"Kalau tidak berarti potong leher."
 
Beberapa buku sejarah Nabi mengatakan, bahwa Abu Lubaba merasa
sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.
 
Setelah Abu  Lubaba  pergi,  Ka'b b. Asad  menyarankan  kepada
mereka,  supaya mereka mau menerima agama Muhammad dan menjadi
orang Islam. Mereka serta  harta-benda  dan  anak-anak  mereka
akan  hidup  lebih  aman.  Tetapi saran itu ditolak oleh teman
Ka'b: "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat tidak  akan
menggantikannya dengan yang lain."
 
Kemudian  disarankannya  lagi supaya kaum wanita dan anak-anak
itu dibunuh  saja,  dan  mereka  boleh  melawan  Muhammad  dan
sahabat-sahabatnya  dengan  pedang terhunus tanpa meninggalkan
suatu beban di belakang. Biar nanti  Tuhan  menentukan,  kalah
atau  menang  melawan Muhammad. Kalau mereka hancur, tidak ada
lagi turunan nanti yang akan  dikuatirkan.  Sebaliknya,  kalau
menang  mereka  akan  memperoleh  wanita-wanita  dan anak-anak
lagi.
 
"Kasihan kita membunuhi mereka. Apa artinya hidup tanpa mereka
itu."
 
"Kalau  begitu  tak  ada  jalan  lain kita harus tunduk kepada
keputusan Muhammad. Kita sudah mendengar, apa sebenarnya  yang
sedang  menunggu  kita."  Demikian  kata  Ka'b kemudian kepada
mereka.
 
Mereka sekarang berunding antara sesama mereka.
 
"Nasib mereka tidak akan lebih buruk dari Banu  Nadzir,"  kata
salah  seorang  dari mereka. "Wakil-wakil mereka dari kalangan
Aus akan  membela.  Kalau  mereka  mengusulkan  supaya  mereka
dibolehkan  pergi  ke Adhri'at di wilayah Syam, tentu terpaksa
Muhammad mengabulkan."
 
Banu  Quraiza  mengirimkan  utusan  kepada   Muhammad   dengan
menyarankan   bahwa  mereka  akan  pergi  ke  Adhri'at  dengan
meninggalkan harta-benda  mereka.  Tetapi  ternyata  usul  ini
ditolak.  Mereka  harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini
mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan:  Tuan-tuan
hendaknya  dapat  membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang
pernah dilakukan oleh Khazraj terhadap saudara-saudaranya.
 
Sebuah rombongan dari kalangan  Aus  segera  berangkat  hendak
menemui Muhammad.
 
"Ya  Rasulullah,"  kata  mereka  memulai, "dapatkah permintaan
kawan-kawan  sepersekutuan   kami   itu   dikabulkan   seperti
permintaan  kawan-kawan  sepersekutuan  Khazraj dulu yang juga
sudah dikabulkan?"
 
"Saudara-saudara dari  Aus,"  kata  Muhammad,  "Dapatkah  kamu
menerima  kalau  kuminta  salah  seorang  dari  kamu menengahi
persoalan dengan teman-teman sepersekutuanmu itu?"
 
"Tentu sekali," jawab mereka.
 
"Kalau begitu," katanya lagi, "katakan kepada  mereka  memilih
siapa saja yang mereka kehendaki."
 
Dalam  hal  ini pihak Yahudi lalu memilih Sa'd b. Mu'adh. Mata
mereka  seolah-olah  sudah  tertutup  dari  nasib  yang  sudah
ditentukan  bagi  mereka  itu, sehingga mereka samasekali lupa
akan kedatangan Sa'd tatkala  pertama  kali  mereka  melanggar
perjanjian,   lalu  diberi  peringatan,  juga  tatkala  mereka
memaki-maki Muhammad di depannya serta mencerca kaum  Muslimin
tidak pada tempatnya.
 
Sa'd  lalu  membuat  persetujuan dengan kedua belah pihak itu.
Masing-masing hendaknya dapat  menerima  keputusan  yang  akan
diambilnya.  Setelah  persetujuan  demikian  diberikan, kepada
Banu  Quraiza  diperintahkan  supaya  turun   dan   meletakkan
senjata.  Keputusan  ini  mereka  laksanakan.  Seterusnya Sa'd
memutuskan, supaya  mereka  yang  terjun  melakukan  kejahatan
perang  dijatuhi  hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan
anak-anak supaya ditawan.
 
Mendengar keputusan itu Muhammad berkata:
 
"Demi Yang menguasai diriku.  Keputusanmu  itu  diterima  oleh
Tuhan  dan  oleh  orang-orang  beriman,  dan  dengan  itu  aku
diperintahkan."
 
Sesudah  itu  ia  keluar   ke   sebuah   pasar   di   Medinah.
Diperintahkannya  supaya  digali beberapa buah parit di tempat
itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa  dan  disana  leher  mereka
dipenggal,  dan  didalam  parit-parit  itu  mereka dikuburkan.
Sebenarnya Banu Quraiza tidak menduga  akan  menerima  hukuman
demikian  dari  Said  b.  Mu'adh  teman  sepersekutuannya itu.
Bahkan  tadinya  mereka  mengira  ia  akan  bertindak  seperti
Abdullah  b.  Ubayy  terhadap  Banu Qainuqa.' Mungkin teringat
oleh  Said,  bahwa  kalau  pihak  Ahzab  yang  menang   karena
pengkhianatan  Banu  Quraiza  itu,  kaum  Muslimin  pasti akan
dikikis habis, akan  dibunuh  dan  dianiaya.  Maka  balasannya
seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
 
Keuletan  orang-orang Yalmudi menghadapi maut dapat kita lihat
dalam percakapan Huyayy b. Akhtab  ini  ketika  ia  dihadapkan
untuk  menjalani  hukuman  potong leher, Nabi telah menatapnya
seraya berkata:
 
"Huyayy, bukankah Tulman sudah membuat kau jadi hina?"
 
"Setiap orang merasakan kematian," kata Huyayy. "Umurku  juga
tidak  akan dapat kulampaui. Aku tidak akan menyalahkan diriku
dalam memusuhimu ini."' Lalu ia menoleh  kepada  orang  banyak
sambil   katanya   lagi:  "Saudara-saudara.  Tidak  apa  kita
menjalani perintah Tuhan, yang telah mentakdirkan kepada  Banu
Israil menghadapi perjuangan ini."
 
Kemudian  juga  peristiwa  yang  terjadi dengan Zubair b. Bata
dari Banu Quraiza. Ia pernah berjasa  kepada  Thabit  b.  Qais
ketika  terjadi  perang  Bu'ath, sebab ia telah membebaskannya
dari tawanan musuh.  Sekarang  Thabit  ingin  membalas  dengan
tangannya  sendiri  budi  orang  itu,  setelah Sa'd ibn Mu'adh
menjatuhkan   keputusannya   terhadap   orang-orang    Yahudi.
Disampaikannya kepada Rasulullah tentang jasa Zubair kepadanya
dulu dan ia  mempertaruhkan  diri  minta  persetujuannya  akan
menyelamatkan    nyawa    Zubair.    Rasulullah    mengabulkan
pernmintaannya itu. Tetapi  setelah  Zubair  mengetahui  usaha
Thabit  itu  ia berkata: Orang yang sudah setua aku ini, tidak
lagi ada isteri, tidak  lagi  ada  anak;  buat  apa  lagi  aku
hidup?!"
 
Sekali lagi Thabit mempertaruhkan diri minta supaya isteri dan
anak-anaknya dibebaskan. Ini pun dikabulkan juga.  Selanjutnya
dimintanya   supaya   hartanya  juga  diselamatkan.  Juga  ini
dikabulkan.
 
Setelah Zubair merasa puas tentang isteri, anak  dan  hartanya
itu,  ia bertanya lagi tentang Ka'b b. Asad, tentang Huyayy b.
Akhtab dan 'Azzal b. Samu'al serta  pemimpin-pemimpin  Quraiza
yang  lain. Sesudah diketahuinya, bahwa mereka sudah menjalani
hukuman mati, ia berkata:
 
"Thabit, dengan budiku kepadamu itu aku minta, susulkanlah aku
kepada  mereka.  Sesudah  mereka tidak ada, juga tidak berguna
aku hidup lagi. Aku sudah tidak betah  hidup  lama-lama  lagi.
Biarlah  aku  segera  bertemu dengan orang-orang yang kucintai
itu!"
 
Dengan demikian hukuman  potong  leher  dijalankan  juga  atas
permintaannya sendiri.
 
Pada  dasarnya  dalam  perang  itu  pihak  Muslimin tidak akan
membunuh wanita atau anak-anak. Tetapi pada waktu  itu  mereka
sampai  membunuh  seorang  wanita  juga  yang telah lebih dulu
membunuh seorang  Muslim  dengan  mempergunakan  batu  giling.
Dalam hal ini Aisyah pernah berkata:
 
"Tentang  dia  sungguh  suatu  hal yang aneh tidak pernah akan
saya lupakan.  Dia  seorang  orang  yang  periang  dan  banyak
tertawa, padahal dia mengetahui akan dibunuh mati."
 
Waktu  itu  ada  empat  orang  pihak  Yahudi yang masuk Islam.
Mereka ini terhindar dari maut.
 
Menurut hemat kami terbunuhnya  Banu  Quraiza  itu  berada  di
tangan  Huyayy  b.  Akhtab,  meskipun  dia  sendiri juga turut
terbunuh.  Dia  telah  melanggar  janji   yang   dibuat   oleh
golongannya  sendiri,  oleh  Banu  Nadzir,  yang oleh Muhammad
telah dikeluarkan dari Medinah dengan tiada seorang  pun  yang
dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima. Tetapi dengan
tindakannya menghasut pihak  Quraisy  dan  Ghatafan,  kemudian
menyusun  masyarakat  dan  kabilah-kabilah  Arab  semua supaya
memerangi Muhammad, hal ini telah memperbesar rasa  permusuhan
antara  golongan  Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka
itu berkeyakinan, bahwa kaum Israil itu tidak akan merasa puas
sebelum  dapat mengikis habis Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Dia juga lagi yang kemudian mengajak  Banu  Quraiza  melanggar
perjanjian  dan  meninggalkan  sikap  kenetralannya. Sekiranya
Banu Quraiza tetap bertahan,  tentu  mereka  takkan  mengalami
nasib  seburuk  itu.  Dia juga yang kemudian datang ke benteng
Banu Quraiza - setelah  kepergian  pihak  Ahzab  dan  mengajak
mereka  melawan  kaum  Muslimin.  Sekiranya dari semula mereka
sudah bersedia pula menerima keputusan Muhammad serta mengakui
kesalahannya   yang  telah  melanggar  janjinya  sendiri  itu,
pertumpahan darah dan pemotongan leher niscaya takkan terjadi.
Akan  tetapi,  permusuhan  itu sudah begitu berakar dalam jiwa
Huyayy dan kemudian menular pula  ke  dalam  hati  orang-orang
Quraiza,   sehingga  Sa'd  b.  Mu'adh  sendiri  sebagai  kawan
sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup,
keadaan tidak akan pernah jadi tenteram. Mereka akan menghasut
lagi golongan  Ahzab,  akan  mengerahkan  kabilah-kabilah  dan
orang-orang  Arab supaya memerangi Muslimin, dan akan mengikis
sampai  ke  akar-akarnya  kalau  mereka   dapat   mengalahkan.
Keputusan  yang telah diambilnya dengan begitu keras, hanyalah
karena terdorong oleh sikap hendak mempertahankan diri, dengan
pertimbangan  bahwa  adanya  atau lenyapnya orang-orang Yahudi
itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.
 
Kaum wanita, anak-anak serta  harta-benda  Banu  Quraiza  oleh
Nabi   di   bagi-bagikan   kepada   kaum   Muslimin,   setelah
seperlimanya dikeluarkan, Setiap seorang dari pasukan  berkuda
mendapat dua pucuk panah, untuk kudanya sepucuk panah.
 
Prajurit  yang  berjalan  kaki  mendapat sepucuk panah. Jumlah
kuda dalam peristiwa Quraiza itu sebanyak tigapuluh enam ekor.
 
Setelah itu, Sa'd b. Zaid kemudian mengirimkan tawanan-tawanan
Banu  Quraiza  itu ke Najd. Dengan demikian dibelinya beberapa
ekor kuda dan senjata untuk lebih memperkuat  angkatan  perang
Muslimin.
 
Raihana  adalah  salah  seorang tawanan Banu Quraiza. Ia jatuh
menjadi bagian Muhammad. Kepadanya ditawarkan  kalau-kalau  ia
bersedia  menjadi orang Islam. Tetapi ia tetap bertahan dengan
agama Yahudinya. Juga ditawarkan kepadanya kalau-kalau ia  mau
di  kawini.  Tetapi  dia  menjawab: "Biar sajalah saya dibawah
tuan. Ini akan lebih ringan buat saya, juga buat tuan."
 
Barangkali  juga,  melekatnya  ia  kepada  agama  Yahudi   dan
penolakannya   akan   dikawin,   berpangkal   pada   fanatisma
kegolongan, serta  sisa-sisa  kebencian  yang  masih  tertanam
dalam hatinya terhadap kaum Muslimin dan terhadap Nabi. Tetapi
tidak ada orang yang bicara tentang kecantikan Raihana seperti
yang  pernah  disebut-sebut  orang  tentang  Zainab bt. Jahsy,
sekalipun ada juga yang menyebutkan  bahwa  dia  juga  cantik.
Buku-buku  sejarah dalam hal ini berbeda-beda pendapat: Adakah
ia juga menggunakan tabir seperti terhadap isteri-isteri Nabi,
atau  masih seperti wanita-wanita Arab umumnya pada waktu itu,
yang memang tidak menggunakan tutup muka.  Sampai  pada  waktu
Raihana wafat di tempat Nabi, ia tetap sebagai miliknya.
 
Adanya  serbuan  Ahzab  serta  hukuman  yang telah di jatuhkan
kepada Banu Quraiza, telah memperkuat  kedudukan  Muslimin  di
Medinah.  Orang-orang  golongan Munafik sudah samasekali tidak
bersuara lagi. Semua masyarakat dan kabilah-kabi]ah Arab sudah
mulai   bicara   tentang   kekuatan  dan  kekuasaan  Muslimin,
disamping posisi dan kewibawaan Muhammad yang ada. Akan tetapi
ajaran  itu  bukan  hanya  buat  Medinah  saja, meiainkan buat
seluruh dunia. Jadi Nabi dan  sahabat-sahabatnya  masih  harus
terus  meratakan jalan dalam menjalankan perintah Allah, dalam
mengajak  orang  menganut  agama  yang  benar,  dengan   terus
membendung  setiap  usaha yang hendak melanggarnya. Dan memang
inilah yang mereka lakukan.
 
Catatan kaki:
 
 1 Khandaq berarti parit. Dalam terjemahan seterusnya
   sering dipakai kata parit (A).
   
 2 Ghatafan merupakan sekumpulan kabilah-kabilah, yang
   terkenal diantaranya kabilah 'Abs dan Dhubyan yang
   terlibat dalam perang Dahis, dan Dhubyan ini bercabang
   lagi menjadi 'Ailan, Fazara, Murra, Asyja', Sulaim dan
   lain-lain (A).
   
 3 Aslinya Al-Ahzab, kelompok-kelompok atau puak-puak.
   Di sini berarti persekutuan atau gabungan kekuatan
   angkatan perang kabilah-kabilah Arab di sekitar Mekah
   dan Medinah serta golongan Yahudi, yang bersama-sama
   hendak menghancurkan kaum Muslimin di Medinah. Dalam
   terjemahan selanjutnya lebih banyak dipergunakan kata
   Ahzab (A).
   
 4 Yakni Hari Sabat, hari besar agama Yahudi (A)

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1
 
Sumber: http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL HAKIM, MAHKUM FIH DAN MAHKUM ALAIH

Oleh: Siti Farida Sinta Riyana (11510080); Nur Aufa Handayani (11510081); Ahmad Ali Masrukan (11519985); Mayura (11510096); dan Muryono ( 11511038) A.       Al Ahkam 1.         Pengertian Al-Ahkam (hukum), menurut bahasa artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu. Sedang menurut istilah ialah ‘Khithab (titah) Allah Swt. atau sabda Nabi Muhammad Saw. yang berhubungan dengan segala amal perbuatan mukallaf , baik itu mengandung perintah, larangan, pilihan, atau ketetapan.

HUKUM SYAR’I (ا لحكم الشر عي)

OLEH: Ulis Sa’adah (11510046); Langga Cintia Dessi (11510089); dan Eka Jumiati (11510092) A.       HAKIKAT HUKUM SYAR’I Menurut para ahli ushul fiqh (Ushuliyun), yang dikatakan hukum syar’i ialah khitab (sabda) pencipta syari’at yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukallaf yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan atau yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu yang lain.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KHILAFIYAH

Disusun Oleh : Abdul Majid (111-11-074); Irsyadul Ibad (111-11-094);  dan Dwi Silvia Anggraini   (111-11-095) PENDAHULUAN Perbedaan selalu ada dalam kehidupan karena hal ini merupakan sunah Rasul yang berlaku sepanjang masa. Perbedaan juga terjadi dalam segi penafsiran dan pemahaman hukum yang berlaku. Seperti yang kita ketahui hukum tidaklah sekaku dalam hal penerapannya pada masa awal islam, pada masa itu Nabi Muhammad sebagai tolak ukur  dan akhir dari setiap permasalahan yang ada pada masa itu. Akan tetapi perbedaan itu semakin jelas terlihat ketika era para sahabat dan para tabi’in yang ditandai dengan adanya berbagai aliran atau madzhab yang bercorak kedaerahan dengan tokoh dan kecenderungan masing-masing.