Langsung ke konten utama

DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR


BAGIAN KELIMA: DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR  (1/4)
Muhammad Husain Haekal

   Percakapan Khadijah dengan Waraqa b. Naufal - Wahyu
   terhenti - Islamnya Abu Bakr - Muslimin yang mula-mula
   - Ajakan Muhammad kepada keluarganya - Quraisy
   menghasut penyair-penyairnya terhadap Muhammad -
   Muhammad menista dewa-dewa Quraisy - Utusan Quraisy
   kepada Abu Talib - Kedudukan Muhammad terhadap
   pamannya - Quraisy menyiksa kaum Muslimin - Kaum
   Muslimin hijrah ke Abisinia - Islamnya Umar.

MUHAMMAD sedang tidur. Khadijah menatapnya dengan  hati  penuh
kasih  dan harapan, kasih dan harapan terhadap orang yang tadi
mengajaknya bicara itu.

Setelah  dilihatnya  ia  tidur  nyenyak,  nyenyak  dan  tenang
sekali,  ditinggalkannya  orang itu perlahan-lahan. Ia keluar,
dengan  pikiran  masih  pada  orang  itu,  orang  yang  pernah
menggoncangkan  hatinya.  Pikirannya pada hari esok, pada hari
yang akan memberikan harapan baik kepadanya. Harapannya, suami
itu akan menjadi nabi atas umat, yang kini tengah hanyut dalam
kesesatan. Ia akan membimbing mereka dengan ajaran agama  yang
benar  serta  akan membawa mereka ke jalan yang lurus. Tetapi,
sungguhpun begitu, menghadapi masa yang akan datang, ia merasa
kuatir  sekali,  kuatir  akan nasib suami yang setia dan penuh
kasih-sayang itu. Dibayangkannya dalam hatinya apa yang  telah
diceritakan  kepadanya  itu.  Dibayangkannya itu malaikat yang
begitu indah, yang memperlihatkan  diri  di  angkasa,  setelah
menyampaikan  wahyu Tuhan kepadanya dan yang kemudian memenuhi
seluruh ruangan itu. Selalu ia  melihat  malaikat  itu  kemana
saja  ia mengalihkan muka. Khadijah masih mengulangi kata-kata
yang dibacakan dan sudah terpateri dalam dada Muhammad itu.


Semua itu dibentangkan kembali oleh  Khadijah  di  depan  mata
hatinya  Kadang  terkembang  senyum  di  bibir,  karena  suatu
harapan; kadang kecut juga rasanya, karena  takut  akan  nasib
yang mungkin akan menimpa diri al-Amin kelak.

Tidak  tahan  ia  tinggal  seorang  diri lama-lama. Pikirannya
berpindah-pindah  dari  harapan  yang   manis   sedap   kepada
kesangsian   dan  harap-harap  cemas.  Terpikir  olehnya  akan
mencurahkan segala isi hatinya itu  kepada  orang  yang  sudah
dikenalnya bijaksana dan akan dapat memberikan nasehat.

Untuk itu, kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak
paman), Waraqa b. Naufal.  Seperti  sudah  disebutkan,  Waraqa
adalah  seorang  penganut  agama  Nasrani  yang sudah mengenal
Bible dan  sudah  pula  menterjemahkannya  sebagian  ke  dalam
bahasa  Arab.  Ia  menceritakan  apa  yang  pernah dilihat dan
didengar Muhammad dan menceritakan  pula  apa  yang  dikatakan
Muhammad  kepadanya,  dengan  menyebutkan  juga rasa kasih dan
harapan yang  ada  dalam  dirinya.  Waraqa  menekur  sebentar,
kemudian  katanya:  "Maha  Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang
memegang  hidup  Waraqa.  Khadijah,  percayalah,   dia   telah
menerima  Namus  Besar1 seperti yang pernah diterima Musa. Dan
sungguh dia adalah Nabi umat  ini.  Katakan  kepadanya  supaya
tetap tabah."

Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dipandangnya
suaminya itu dengan rasa kasih  dan  penuh  ikhlas,  bercampur
harap  dan  cemas. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia
menggigil, napasnya terasa sesak dengan  keringat  yang  sudah
membasahi   wajahnya.   Ia   terbangun,  manakala  didengarnya
malaikat datang membawakan wahyu kepadanya:

"O orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan  peringatan.
Dan  agungkan  Tuhanmu.  Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan
perbuatan dosa. Jangan  kau  memberi,  karena  ingin  menerima
lebih  banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu." (Qur'an 74:
17)

Dipandangnya ia oleh Khadijah, dengan rasa  kasih  yang  lebih
besar. Didekatinya ia perlahan-lahan seraya dimintanya, supaya
kembali ia tidur dan beristirahat.

"Waktu tidur dan istirahat  sudah  tak  ada  lagi,  Khadijah,"
jawabnya.   "Jibril   membawa   perintah  supaya  aku  memberi
peringatan kepada umat manusia, mengajak  mereka,  dan  supaya
mereka  beribadat  hanya  kepada  Allah.  Tapi siapa yang akan
kuajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?"

Khadijah  berusaha  menenteramkan  hatinya.   Cepat-cepat   ia
menceritakan  apa  yang  didengarnya  dari Waraqa tadi. Dengan
penuh gairah dan bersemangat  sekali  kemudian  ia  menyatakan
dirinya beriman atas kenabiannya itu. Sudah sewajarnya apabila
Khadijah cepat-cepat percaya kepadanya. Ia  sudah  mengenalnya
benar.  Selama  hidupnya  laki-laki  itu  selalu  jujur, orang
berjiwa besar ia dan selalu berbuat kebaikan dengan penuh rasa
kasih-sayang.  Selama dalam tahannuth, dilihatnya betapa besar
kecenderungannya  kepada  kebenaran,   dan   hanya   kebenaran
semata-mata.  Ia  mencari kebenaran itu dengan persiapan jiwa,
kalbu  dan  pikiran  yang  sudah  begitu   tinggi,   membubung
melampaui  jangkauan  yang  akan  dapat  dibayangkan  manusia,
manusia yang menyembah patung dan membawakan kurban-kurban  ke
sana; mereka yang menganggap bahwa itu adalah tuhan yang dapat
mendatangkan  bencana  dan  keuntungan.  Mereka  membayangkan,
bahwa  itu  patut  disembah  dan  diagungkan. Wanita itu sudah
melihatnya betapa benar ia  pada  tahun-tahun  masa  tahannuth
itu.  Juga  ia  melihatnya  betapa  benar  keadaannya  tatkala
pertama kali ia kembali dari gua Hira', sesudah  kerasulannya.
Ia  bingung sekali. Dimintanya oleh Khadijah, apabila malaikat
itu nanti datang supaya diberitahukan kepadanya.

Bilamana  kemudian  Muhammad  melihat  malaikat  itu   datang,
didudukannya  ia  oleh  Khadijah  di paha kirinya, kemudian di
paha kanan dan di  pangkuannya.  Malaikat  itupun  masih  juga
dilihatnya. Khadijah menghalau dan mencampakkan tutup mukanya.
Waktu itu tiba-tiba Muhammad tidak lagi  melihatnya.  Khadijah
tidak ragu lagi bahwa itu adalah malaikat, bukan setan.

Sesudah  peristiwa  itu,  pada  suatu hari Muhammad pergi akan
mengelilingi  Ka'bah.  Di  tempat   itu   Waraqa   b.   Naufal
menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqa
berkata: "Demi Dia Yang memegang hidup Waraqa.  Engkau  adalah
Nabi  atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti
yang  pernah  disampaikan  kepada  Musa.  Pastilah   kau   akan
didustakan   orang,   akan   disiksa,  akan  diusir  dan  akan
diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup,  pasti
aku  akan  membela  yang  di pihak Allah dengan pembelaan yang
sudah diketahuiNya pula." Lalu  Waraqa  mendekatkan  kepalanya
dan  mencium  ubun-ubun Muhammad. Muhammadpun segera merasakan
adanya kejujuran dalam kata-kata  Waraqa  itu,  dan  merasakan
pula betapa beratnya beban yang harus menjadi tanggungannya.

Sekarang  ia  jadi memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy
supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat
mempertahankan  kebatilan  itu.  Mereka bersedia berperang dan
mati untuk itu. Ditambah  lagi  mereka  masih  sekeluarga  dan
sanak famili yang dekat.

Sungguhpun  begitu,  tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa
yang  dianjurkannya  kepada  mereka,  itulah  yang  benar.  Ia
mengajak  mereka, agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih
tinggi sehingga dapat  berhubungan  dengan  Allah  Yang  telah
menciptakan  mereka  dan menciptakan nenek-moyang mereka; agar
mereka beribadat hanya kepadaNya, dengan penuh ikhlas,  dengan
jiwa  yang  bersih,  untuk  agama.  Ia  mengajak mereka supaya
mereka mendekatkan diri kepada  Allah  dengan  perbuatan  yang
baik,  dengan  memberikan  kepada  orang  berdekatan,  hak-hak
mereka, begitu juga kepada orang yang dalam  perjalanan;  agar
mereka  menjauhkan  diri  dari menyembah batu-batu yang mereka
buat jadi berhala yang menurut dugaan mereka  akan  mengampuni
segala  dosa  mereka  dari perbuatan angkara-murka yang mereka
lakukan, dari menjalankan riba dan memakan harta  anak  piatu.
Penyembahan  mereka  demikian itu membuat jiwa dan hati mereka
lebih keras dan  lebih  membatu  dari  patung-patung  itu.  Ia
memperingatkan  mereka  agar  mereka mau melihat ciptaan Tuhan
yang ada di langit dan  di  bumi;  supaya  semua  itu  menjadi
tamsil  dalam  jiwa  mereka  serta  kemudian  menyadari betapa
dahsyat dan agungnya  semua  itu.  Dengan  kesadaran  demikian
mereka   akan  memahami  kebesaran  undang-undang  Ilahi  yang
berlaku di langit dan di bumi. Selanjutnya,  dengan  ibadatnya
itu  akan  memahami  pula  kebesaran  Al  Khalik Pencipta alam
semesta ini, Yang Tunggal, tiada  bersekutu.  Dengan  demikian
mereka  akan  lebih tinggi, akan lebih luhur Mereka akan diisi
oleh rasa kasih-sayang terhadap  mereka  yang  belum  mendapat
petunjuk  Tuhan,  dan  akan  berusaha ke arah itu. Mereka akan
berlaku baik terhadap semua anak piatu, terhadap  semua  orang
yang   malang   dan   lemah.   Ya!   Ke   arah   itulah  Tuhan
memerintahkannya, supaya ia mengajak mereka.

Akan tetapi, itu jantung yang sudah begitu  keras,  jiwa  yang
sudah  begitu  kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala
seperti yang dilakukan oleh  nenek-moyang  mereka  dahulu.  Di
tempat  itu  mereka berdagang, dan membuat Mekah menjadi pusat
kunjungan penyembah berhala! Akan mereka  tinggalkankah  agama
nenek-moyang  mereka dan mereka lepaskan kedudukan kota mereka
yang berarti suatu bahaya bilamana sudah tak  ada  lagi  orang
yang   akan   menyembah  berhala?  Lalu  bagaimana  pula  akan
membersihkan jiwa serupa itu dan  melepaskan  diri  dari  noda
hawa-nafsu,  hawa-nafsu yang akan menjerumuskan mereka, sampai
kepada nafsu kebinatangannya, padahal dia sudah memperingatkan
manusia  supaya  mengatasi  nafsunya, menempatkan diri di atas
berhala-berhala itu? Kalau  mereka  sudah  tidak  mau  percaya
kepadanya,  apalagi yang harus ia lakukan? Inilah yang menjadi
masalah besar itu.

Ia  sedang  menantikan  bimbingan   wahyu   dalam   menghadapi
masalahnya itu, menantikan adanya penyuluh yang akan menerangi
jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus! Jibrilpun tidak
datang  lagi kepadanya. Tempat di sekitarnya jadi sunyi, bisu.
Ia merasa terasing dari orang, dan dari  dirinya.  Kembali  ia
merasa  dalam  ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu. Konon
Khadijah pernah mengatakan  kepadanya:  "Mungkin  Tuhan  tidak
menyukai engkau."

Ia  masih dalam ketakutan. Perasaan ini juga yang mendorongnya
lagi akan pergi ke bukit-bukit dan menyendiri lagi  dalam  gua
Hira'.  Ia  ingin  membubung  tinggi  dengan  seluruh jiwanya,
menghadapkan diri kepada Tuhan,  akan  menanyakan:  Kenapa  ia
lalu  ditinggalkan  sesudah  dipilihNya? Kecemasan Khadijahpun
tidak pula kurang rasanya.

Ia mengharap mati benar-benar  kalau  tidak  karena  merasakan
adanya  perintah  yang telah diberikan kepadanya. Kembali lagi
ia kepada dirinya, kemudian kepada  Tuhannya.  Konon  katanya:
Pernah  terpikir  olehnya  akan  membuang diri dari atas Hira'
atau dari atas puncak gunung  Abu  Qubais.  Apa  gunanya  lagi
hidup  kalau  harapannya  yang  besar  ini  jadi  kering  lalu
berakhir?

Sementara ia sedang dalam kekuatiran demikian  itu  -  sesudah
sekian  lama  terhenti - tiba-tiba datang wahyu membawa firman
Tuhan:

"Demi pagi cerah yang gemilang. Dan  demi  malam  bila  senyap
kelam.  Tuhanmu  tidak  meninggalkan  kau,  juga  tidak merasa
benci. Dan sungguh, hari kemudian  itu  lebih  baik  buat  kau
daripada  yang  sekarang.  Dan  akan segera ada pemberian dari
Tuhan kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang  hati.  Bukankah
Ia   mendapati   kau  seorang  piatu,  lalu  diberiNya  tempat
berlindung?  Dan  Ia  mendapati  kau  tak  tahu  jalan,   lalu
diberiNya  kau  petunjuk?  Karena  itu,  terhadap  anak piatu,
jangan kau bersikap bengis. Dan tentang  orang  yang  meminta,
jangan  kau  tolak.  Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau
sebarkan."(Qur'an, 93: 1-11)

Maha Mulia Allah.  Betapa  damainya  itu  dalam  jiwa.  Betapa
gembira  dalam  hati! Rasa cemas dan takut dalam diri Muhammad
semuanya  hilang  sudah.   Terbayang   senyum   di   wajahnya.
Bibirnyapun  mengucapkan kata-kata syukur, kata-kata kudus dan
penuh khidmat. Tidak lagi Khadijah merasa takut,  bahwa  Tuhan
sudah  tidak  menyukai  Muhammad  dan  iapun tidak lagi merasa
takut dan gelisah. Bahkan Tuhan telah melindungi mereka berdua
dengan rahmatNya. Segala rasa takut dan keraguan-raguan hilang
sama sekali dari hatinya. Tak ada lagi bunuh diri.

Yang ada sekarang ialah hidup dan  ajakan  kepada  Allah,  dan
hanya  kepada Allah semata. Hanya kepada Allah Yang Maha Besar
menundukkan kepala. Segala yang ada  di  langit  dan  di  bumi
bersujud  belaka  kepadaNya.  Hanya  Dialah Yang Hak, dan yang
selain  itu  batil  adanya.  Hanya  kepadaNya   hati   manusia
dihadapkan, seluruh hidup kesana juga bergantung dan kepadaNya
pula ruh akan kembali. "Sungguh, hari kemudian itu lebih  baik
buat kau daripada yang sekarang."

Ya,  hari  kemudian  tempat  berkumpulnya  jiwa  dengan segala
bentuknya yang penuh, yang tidak lagi kenal ruang  dan  waktu,
dan  semua  cara hidup pertama yang rendah ini akan terlupakan
adanya.  Hari  kemudian  yang  akan  disinari   cahaya   pagi,
berkilauan, dan malam yang gelap dan kelam. Bintang-bintang di
langit, bumi dan gunung-gunung, semua akan dihubungi oleh jiwa
yang  pasrah  menyerah.  Kehidupan  inilah  yang  akan menjadi
tujuan. Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Di luar itu  hanya
bayangan  belaka,  yang  tiada  berguna. Kebenaran inilah yang
cahayanya disinari oleh jiwa  Muhammad,  dan  yang  baru  akan
dipantulkan  kembali  guna memikirkan bagaimana mengajak orang
ingat kepada Tuhan. Dan guna mengajak orang kepada  Tuhan,  ia
harus   membersihkan   pakaiannya   serta  menjauhi  perbuatan
mungkar.  Ia  harus  tabah  menghadapi  segala  gangguan  demi
menjaga dakwah kepada Kebenaran. Ia harus menuntun umat kepada
ilmu yang belum mereka ketahui; jangan menolak orang  meminta,
jangan  berlaku  bengis  terhadap  anak  piatu. Cukuplah Tuhan
telah memilihnya sebagai  pengemban  amanat.  Maka  katakanlah
itu.  Cukup  sudah,  bahwa  Tuhan  telah  menemukannya sebagai
seorang piatu, lalu dilindungiNya  di  bawah  asuhan  kakeknya
Abd'l-Muttalib, dan pamannya, Abu Talib. Ia yang hidup miskin,
telah  diberi  kekayaan   dengan   amanat   Tuhan   kepadanya.
Dipermudah  pula dengan Khadijah sebagai kawan semasa mudanya,
kawan semasa dalam tahannuth, kawan semasa kerasulannya, kawan
yang  penuh  cinta  kasih,  yang  memberi  nasehat dengan rasa
kasih-sayangnya. Tuhan telah mendapatinya tak tahu jalan, lalu
diberiNya   petunjuk   berupa  risalah.  Cukuplah  semua  itu.
Hendaklah ia mengajak orang kepada Kebenaran, berusaha sedapat
mungkin.

Begitulah  ketentuan  Tuhan  terhadap  seorang nabi yang telah
dipilihNya. Ia tidak ditinggalkanNya, juga tidak dibenciNya.

Tuhan  telah  mengajarkan  Nabi  bersembahyang,   maka   iapun
bersembahyang,  begitu  juga  Khadijah  ikut  pula sembahyang.
Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali  bin
Abi  Talib  sebagai anak muda yang belum balig. Pada waktu itu
suku Quraisy sedang mengalami suatu krisis yang luarbiasa. Abu
Talib  adalah  keluarga  yang  banyak anaknya. Muhammad sekali
berkata kepada Abbas, pamannya - yang  pada  masa  itu  adalah
yang  paling  mampu  di  antara  Keluarga  Hasyim:  "Abu Talib
saudaramu anaknya banyak. Seperti kaulihat, banyak orang  yang
mengalami krisis. Baiklah kita ringankan dia dari anak-anaknya
itu.  Aku  akan  mengambilnya  seorang  kaupun  seorang  untuk
kemudian kita asuh."

Karena  itu  Abbas  lalu mengasuh Ja'far dan Muhammad mengasuh
Ali, yang tetap tinggal bersama sampai pada masa kerasulannya.

Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang sembahyang, tiba-tiba Ali
menyeruak  masuk.  Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan
sujud serta membaca beberapa  ayat  Qur'an  yang  sampai  pada
waktu  itu  sudah  diwahyukan  kepadanya.  Anak  ifu  tertegun
berdiri:  "Kepada  siapa  kalian  sujud?"   tanyanya   setelah
sembahyang selesai.

"Kami  sujud  kepada  Allah," jawab Muhammad, "Yang mengutusku
menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia  menyembah
Allah"

Lalu Muhammadpun mengajak sepupunya itu beribadat kepada Allah
semata tiada bersekutu serta menerima agama yang  dibawa  nabi
utusanNya  dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan
'Uzza. Muhammad lalu  membacakan  beberapa  ayat  Qur'an.  Ali
sangat terpesona karena ayat-ayat itu luarbiasa indahnya.

 
Ia  minta  waktu  akan  berunding  dengan  ayahnya lebih dulu.
Semalaman itu ia merasa gelisah. Tetapi  besoknya  ia  memberi
tahukan  kepada  suami-isteri  itu,  bahwa  ia  akan mengikuti
mereka berdua, tidak perlu minta pendapat  Abu  Talib.  "Tuhan
menjadikan  saya  tanpa saya perlu berunding dengan Abu Talib.
Apa gunanya saya harus berunding dengan  dia  untuk  menyembah
Allah."
 
Jadi  Ali  adalah  anak  pertama yang menerima Islam. Kemudian
Zaid b. Haritha, bekas budak Nabi. Dengan demikian Islam masih
terbatas   hanya   dalam  lingkungan  keluarga  Muhammad:  dia
sendiri, isterinya, kemenakannya  dan  bekas  budaknya.  Masih
juga  ia  berpikir-pikir, bagaimana akan mengajak kaum Quraisy
itu. Tahu benar ia, betapa kerasnya mereka itu dan betapa pula
kuatnya  mereka  berpegang  pada  berhala yang disembah-sembah
nenek moyang mereka itu.
 
Pada waktu itu Abu Bakr b. Abi Quhafa dari kabilah Taim adalah
teman akrab Muhammad. Ia senang sekali kepadanya, karena sudah
diketahuinya benar ia sebagai orang  yang  bersih,  jujur  dan
dapat  dipercaya.  Oleh  karena  itu orang dewasa pertama yang
diajaknya  menyembah   Allah   Yang   Esa   dan   meninggalkan
penyembahan  berhala,  adalah  dia. Juga dia laki-laki pertama
tempat dia membukakan isi hatinya  akan  segala  yang  dilihat
serta  wahyu  yang  diterimanya. Abu Bakr tidak ragu-ragu lagi
memenuhi ajakan Muhammad dan beriman pula akan ajakannya  itu.
Jiwa  yang  mana  lagi yang memang mendambakan kebenaran masih
akan ragu-ragu  meninggalkan  penyembahan  berhala  dan  untuk
kemudian  menyembah  Allah  Yang Esa! Jiwa yang mana lagi yang
masih disebut jiwa besar di samping menyembah Allah masih  mau
menyembah  batu  yang  bagaimanapun  bentuknya! Jiwa yang mana
lagi yang  sudah  bersih  masih  akan  ragu-ragu  membersihkan
pakaian  dan  jiwanya,  berderma kepada orang yang membutuhkan
dan berbuat kebaikan kepada anak piatu!
 
Keimanannya  kepada  Allah  dan  kepada  RasulNya  itu  segera
diumumkan  oleh Abu Bakr di kalangan teman-temannya. Ia memang
seorang pria yang rupawan. "Menjadi  kesayangan  masyarakatnya
dan  amikal  sekali.  Dari  kalangan Quraisy ia termasuk orang
Quraisy yang berketurunan tinggi dan  yang  banyak  mengetahui
segala  seluk-beluk  bangsa  itu,  yang  baik  dan yang jahat.
Sebagai pedagang  dan  orang  yang  berakhlak  baik  ia  cukup
terkenal.   Kalangan   masyarakatnya  sendiri  yang  terkemuka
mengenalnya dalam satu bidang saja. Mereka mengenalnya  karena
ilmunya,  karena  perdagangannya  dan karena pergaulannya yang
baik."
 
Dari kalangan masyarakatnya  yang  dipercayai  oleh  Abu  Bakr
diajaknya mereka kepada Islam. Usman b. 'Affan, Abdurrahman b.
'Auf, Talha b. 'Ubaidillah, Sa'd b.  Abi  Waqqash  dan  Zubair
bin'l-'Awwam   mengikutinya   pula  menganut  Islam.  Kemudian
menyusul pula Abu 'Ubaida bin'l-Djarrah, dan banyak lagi  yang
lain  dari  penduduk  Mekah.  Mereka yang sudah Islam itu lalu
datang  kepada  Nabi  menyatakan  Islamnya,  yang  selanjutnya
menerima ajaran-ajaran agama itu dari Nabi sendiri.
 
Mengetahui  adanya  permusuhan  yang  begitu bengis dari pihak
Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisma, maka
kaum  Muslimin yang mula-mula masih sembunyi-sembunyi. Apabila
mereka akan  melakukan  salat,  mereka  pergi  ke  celah-celah
gunung  di  Mekah.  Keadaan  serupa  ini  berjalan selama tiga
tahun, sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk
Mekah.  Wahyu  yang  datang  kepada  Muhammad selama itu makin
memperkuat iman kaum Muslimin.
 
Yang menambah pula dakwah  itu  berkembang  sebenarnya  karena
teladan  yang  diberikan Muhammad sangat baik sekali: ia penuh
bakti dan penuh kasih-sayang, sangat  rendah  hati  dan  penuh
kejantanan,  tutur-katanya  lemah-lembut  dan  selalu  berlaku
adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan.  Pandangannya
terhadap orang yang Iemah, terhadap piatu, orang yang sengsara
dan miskin adalah pandangan seorang  bapa  yang  penuh  kasih,
lemah-lembut  dan  mesra.  Malam haripun, dalam ia bertahajud,
malam ia tidak cepat tidur,  membaca  wahyu  yang  disampaikan
kepadanya, renungannya selalu tentang langit dan bumi, mencari
pertanda  dari  segenap  wujud   ini,   permohonannya   selalu
dihadapkan  hanya  kepada  Allah.  Dia. yang menyerapkan hidup
semesta ini ke dalam dirinya dan kedalam jantung  kehidupannya
sendiri,  adalah  suatu teladan yang membuat mereka yang sudah
beriman dan menyatakan diri Islam itu,  makin  besar  cintanya
kepada  Islam  dan  makin  kukuh  pula  imannya.  Mereka sudah
berketetapan  hati  meninggalkan  anutan  nenek-moyang  mereka
dengan  menanggung  segala  siksaan  kaum musyrik yang hatinya
belum lagi disentuh iman.
 
Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan Mekah yang sudah mengenal
arti kesucian, sudah menyadari arti kebenaran, pengampunan dan
arti rahmat, mereka beriman kepada ajaran Muhammad. Semua kaum
yang  lemah,  semua  orang  yang sengsara dan semua orang yang
tidak punya, beriman kepadanya. Ajaran Muhammad sudah tersebar
di  Mekah, orang sudah berbondong-bondong memasuki Islam, pria
dan wanita.
 
Orang   banyak   bicara   tentang   Muhammad    dan    tentang
ajaran-ajarannya.   Akan  tetapi  penduduk  Mekah  yang  masih
berhati-hati, yang masih tertutup hatinya, pada mulanya  tidak
menghiraukannya.  Mereka  menduga, bahwa kata-katanya tidakkan
lebih dan kata-kata pendeta atau ahli-ahli pikir semacam Quss,
Umayya,  Waraqa dan yang lain. Orang pasti akan kembali kepada
kepercayaan nenek-moyangnya; yang akhirnya akan  menang  ialah
Hubal, Lat dan 'Uzza, begitu juga Isaf dan Na'ila yang dibawai
kurban.  Mereka  lupa  bahwa  iman  yang   murni   tak   dapat
dikalahkan,   dan   bahwa   kebenaran   pasti   akan  mendapat
kemenangan.
 
Tiga  tahun  kemudian  sesudah  kerasulannya,  perintah  Allah
datang  supaya  ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan
itu, perintah  Allah  supaya  disampaikan.  Ketika  itu  wahyu
datang:
 
"Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat.
Limpahkanlah  kasih-sayang  kepada  orang-orang  beriman  yang
mengikut  kau.  Kalaupun  mereka tidak mau juga mengikuti kau,
katakanlah, 'Aku lepas tangan dari  segala  perbuatan  kamu.'"
(Qur'an 26: 214-216)
 
"Sampaikanlah apa yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak
usah kauhiraukan orang-orang musyrik itu."(Qur'an 15: 94)
 
Muhammadpun  mengundang   makan   keluarga-keluarga   itu   ke
rumahnya,  dicobanya  bicara dengan mereka dan mengajak mereka
kepada  Allah.  Tetapi  Abu  Talib,  pamannya,  lalu  menyetop
pembicaraan  itu.  Ia  mengajak orang-orang pergi meninggalkan
tempat.  Keesokan  harinya  sekali  lagi  Muhammad  mengundang
mereka.
 
Selesai  makan, katanya kepada mereka: "Saya tidak melihat ada
seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan  sesuatu
ke  tengah-tengah  mereka  lebih  baik  dari yang saya bawakan
kepada kamu sekalian ini.  Kubawakan  kepada  kamu  dunia  dan
akhirat  yang  terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu
sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku  dalam
hal ini?"
 
Mereka    semua   menolak,   dan   sudah   bersiap-siap   akan
meninggalkannya. Tetapi tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu  ia
masih anak-anak, belum lagi balig.
 
"Rasulullah,  saya  akan  membantumu,"  katanya.  "Saya adalah
lawan siapa saja yang kautentang."
 
Banu   Hasyim   tersenyum,   dan   ada   pula   yang   tertawa
terbahak-bahak.  Mata  mereka  berpindah-pindah dari Abu Talib
kepada anaknya. Kemudian mereka  semua  pergi  meninggalkannya
dengan ejekan.
 
Sesudah  itu  Muhammad  kemudian  mengalihkan  seruannya  dari
keluarga-keluarganya yang dekat kepada seluruh penduduk Mekah.
Suatu  hari  ia naik ke Shafa2 dengan berseru: "Hai masyarakat
Quraisy." Tetapi orang Quraisy itu  lalu  membalas:  "Muhammad
bicara  dari  atas  Shafa."  Mereka lalu datang berduyun-duyun
sambil bertanya-tanya, "Ada apa?"
 
"Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan kamu, bahwa
pada  permukaan  bukit  ini  ada  pasukan  berkuda. Percayakah
kamu?"
 
"Ya," jawab mereka. "Engkau tidak  pernah  disangsikan.  Belum
pernah kami melihat engkau berdusta."
 
"Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa yang
sungguh berat," katanya, "Banu Abd'l-Muttalib, Banu Abd Manaf,
Banu  Zuhra,  Banu  Taim,  Banu  Makhzum  dan  Banu Asad Allah
memerintahkan     aku      memberi      peringatan      kepada
keluarga-keluargaku  terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau
akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan  yang  dapat
kuberikan  kepada  kamu,  selain  kamu  ucapkan: Tak ada tuhan
selain Allah."
 
Atau  seperti  dilaporkan:  Abu  Lahab  -  seorang   laki-laki
berbadan  gemuk dan cepat naik darah - kemudian berdiri sambil
meneriakkan: "Celaka kau hari ini.  Untuk  ini  kau  kumpulkan
kami?"
 
Muhammad  tak  dapat  bicara.  Dilihatnya pamannya itu. Tetapi
kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Tuhan:
 
"Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.  Tak  ada
gunanya  kekayaan  dan  usahanya  itu. Api yang menjilat-jilat
akan menggulungnya" (Qur'an 102:1-8)
 
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang
lain  tidak  dapat  merintangi  tersebarnya  dakwah  Islam  di
kalangan penduduk Mekah itu. Setiap hari niscaya akan ada saja
orang  yang Islam - menyerahkan diri kepada Allah. Lebih-lebih
mereka yang tidak terpesona oleh  pengaruh  dunia  perdagangan
untuk   sekedar   melepaskan  renungan  akan  apa  yang  telah
diserukan kepada mereka. Mereka sudah  melihat  Muhammad  yang
berkecukupan,  baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri.
Tidak   dipedulikannya   harta   itu,    juga    tidak    akan
memperbanyaknya   lagi.   Ia   mengajak   orang   hidup  dalam
kasih-sayang, dengan lemah-lembut, dalam kemesraan dan tasamuh
(lapang  dada,  toleransi). Ya, bahkan dia yang menerima wahyu
menyebutkan, bahwa memupuk-mupuk kekayaan adalah suatu kutukan
terhadap jiwa.
 
"Kamu  telah  dilalaikan  oleh perlombaan saling memperbanyak.
Sampai nanti kamu menuju kubur. Sekali lagi, jangan! Akan kamu
ketahui  juga  nanti.  Jangan.  Kalau  kamu  mengetahui dengan
meyakinkan. Niscaya akan kamu lihat  neraka.  Kemudian,  tentu
akan  kamu  lihat  itu  dengan  mata yang meyakinkan. Hari itu
kemudian baru kamu  akan  ditanyai  tentang  kesenangan  itu."
(Qur'an 111: 1-3)
 
Apalagi yang lebih baik daripada yang dianjurkan Muhammad itu!
Bukankah ia menganjurkan kebebasan? Kebebasan mutlak yang  tak
ada  batasnya.  Kebebasan  yang  sungguh  bernilai bagi setiap
manusia Arab itu, sama  dengan  nilai  hidupnya  sendiri!  Ya!
Bukankah  orang  mau  melepaskan  diri  dari  belenggu  dengan
pengabdian  yang  bagaimanapun  selain  pengabdiannya   kepada
Allah? Bukankah setiap belenggu itu harus dihancurkan? Tak ada
Hubal, tak ada Lat, 'Uzza. Tak ada api Majusi, matahari  orang
Mesir,  tak  ada  bintang penyembah bintang, tak ada hawariyin
(pengikut-pengikut Isa),  tak  ada  seorang  manusiapun,  atau
malaikat  ataupun  jin  yang  akan  menjadi batas antara Allah
dengan manusia. Di hadapan Allah,  hanya  di  hadapanNya  Yang
Tunggal     tak     bersekutu,     manusia    akan    dimintai
pertanggung-jawabannya atas perbuatannya yang telah dilakukan,
yang  baik dan yang buruk. Hanya perbuatan manusia itu sajalah
yang menjadi perantaranya. Hati kecilnya yang  akan  menimbang
semua  perbuatan.  Hanya  itulah  yang  berkuasa atas dirinya.
Dengan itulah dipertanggungkan  ketika  setiap  jiwa  mendapat
balasan  sesuai  dengan perbuatannya. Kebebasan mana lagi yang
lebih luas daripada yang diajarkan Muhammad  itu?  Adakah  Abu
Lahab  dan  kawan-kawannya  mengajarkan  yang  semacam  itu  -
sedikit sekalipun? Ataukah mereka mengajarkan  supaya  manusia
tetap dalam perhambaan, dalam perbudakan, yang sudah ditimbuni
oleh kepercayaan-kepercayaan khurafat dan takhayul, yang sudah
menutupi mereka dari segala cahaya kebenaran?
 
Akan  tetapi  Abu  Lahab,  Abu  Sufyan dan bangsawan-bangsawan
Quraisy  terkemuka  lainnya,  hartawan-hartawan   yang   gemar
bersenang-senang,  mulai  merasakan, bahwa ajaran Muhammad itu
merupakan  bahaya  besar  bagi  kedudukan  mereka.  Jadi  yang
mula-mula  harus mereka lakukan ialah menyerangnya dengan cara
mendiskreditkannya,   dan   mendustakan   segala   apa    yang
dinamakannya kenabian itu.
 
Langkah  pertama  yang  mereka  lakukan  dalam  hal  ini ialah
membujuk penyair-penyair mereka: Abu Sufyan bin'l-Harith, 'Amr
bin'l-'Ash  dan  Abdullah  ibn'z-Ziba'ra,  supaya mengejek dan
menyerangnya. Dalam pada  itu  penyair-penyair  Muslimin  juga
tampil  membalas  serangan  mereka tanpa Muhammad sendiri yang
harus melayani.
 
Sementara  itu,  selain  penyair-penyair  itu  beberapa  orang
tampil pula meminta kepada Muhammad beberapa mujizat yang akan
dapat membuktikan kerasulannya: mujizat-mujizat  seperti  pada
Musa  dan  Isa.  Kenapa  bukit-bukit Shafa dan Marwa itu tidak
disulapnya menjadi emas, dan  kitab  yang  dibicarakannya  itu
dalam  bentuk  tertulis  diturunkan  dari  langit?  Dan kenapa
Jibril yang banyak dibicarakan oleh Muhammad itu tidak  muncul
di  hadapan  mereka? Kenapa dia tidak menghidupkan orang-orang
yang sudah mati, menghalau bukit-bukit yang selama ini membuat
Mekah  terkurung  karenanya?  Kenapa ia tidak memancarkan mata
air yang lebih sedap dari air sumur Zamzam,  padahal  ia  tahu
betapa besar hajat penduduk negerinya itu akan air?
 
Tidak   hanya  sampai  disitu  saja  kaum  musyrikin  itu  mau
mengejeknya dalam soal-soal  mujizat,  malahan  ejekan  mereka
makin  menjadi-jadi,  dengan  menanyakan:  kenapa Tuhannya itu
tidak memberikan wahyu tentang  harga  barang-barang  dagangan
supaya mereka dapat mengadakan spekulasi buat hari depan?
 
Debat  mereka  itu  berkepanjangan.  Tetapi  wahyu yang datang
kepada Muhammad menjawab debat mereka
 
"Katakanlah: 'Aku tak berkuasa membawa kebaikan  atau  menolak
bahaya  untuk  diriku  sendiri,  kalau  tidak  dengan kehendak
Allah. Dan sekiranya aku mengetahui  yang  gaib-gaib,  niscaya
kuperbanyak amal kebaikan itu dan bahayapun tidak menyentuhku.
Tapi aku hanya memberi peringatan dan membawa  berita  gembira
bagi mereka yang beriman." (Qur'an 7: 188)
 
Ya,  Muhammad  hanya  mengingatkan dan membawa berita gembira.
Bagaimana mereka akan  menuntutnya  dengan  hal-hal  yang  tak
masuk  akal. Sedang dia tidak mengharapkan dari mereka kecuali
yang masuk akal, bahkan yang diminta dan diharuskan oleh akal?
!   Bagaimana   mereka   menuntutnya   dengan   hal-hal   yang
bertentangan dengan  kodrat  jiwa  yang  tinggi  padahal  yang
diharapkannya  dari mereka agar mereka mau menerima suara yang
sesuai dengan kodrat jiwa yang  tinggi  itu?!  Bagaimana  pula
mereka  masih  menuntutnya  dengan  beberapa  mujizat, padahal
kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukkan jalan
yang  benar  itu  adalah  mujizat  dari segala mujizat? Kenapa
mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu  diperkuat  lagi
dengan keanehan-keanehan yang tak masuk akal, yang sesudah itu
nanti merekapun  akan  ragu-ragu  lagi,  akan  mengikutinyakah
mereka atau tidak?
 
Dan  ini,  yang  mereka  katakan tuhan-tuhan mereka itu, tidak
lebih  adalah  batu-batu  atau   kayu   yang   disangga   atau
berhala-berhala yang tegak di tengah-tengah padang pasir, yang
tidak  dapat  membawa   kebaikan   ataupun   menolak   bahaya.
Sungguhpun  begitu  mereka  menyembahnya  juga, tanpa menuntut
pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.  Dan  kalaupun  itu  yang
dituntut,  pasti  ia  akan  tetap batu atau kayu, tanpa hidup,
tanpa gerak; untuk dirinyapun ia tak dapat menolak bahaya atau
membawa  kebaikan.  Dan  jika ada yang datang menghancurkannya
iapun takkan dapat mempertahankan diri.
 
Muhammadpun  sudah  terang-terangan  menyebut  berhala-berhala
mereka,  yang  sebelum  itu  tidak pernah disebut-sebutnya. Ia
mencelanya, yang  juga  sebelum  itu  tidak  pernah  dilakukan
demikian.   Hal  ini  menjadi  soal  besar  bagi  Quraisy  dan
dirasakan menusuk hati mereka. Tentang  laki-laki  itu,  serta
apa yang dihadapinya dari mereka dan dihadapi mereka dari dia,
sekarang  mulai  sungguh-sungguh  menjadi  perhatian   mereka.
Sampai   sebegitu   jauh   mereka   baru   sampai   memperolok
kata-katanya. Apabila mereka duduk-duduk di Dar'n Nadwa,3 atau
disekitar  Ka'bah  dengan berhala-berhala yang ada, membuallah
mereka dengan sikap tidak lebih  dari  senyuman  mengejek  dan
berolok-olok.  Akan  tetapi,  jika  yang dihina dan diejek itu
sekarang dewa-dewa mereka  yang  mereka  sembah  dan  disembah
nenek-moyang  mereka,  termasuk  Hubal,  Lat,  'Uzza dan semua
berhala, maka tidak lagi soalnya soal olok-olok dan  cemoohan,
melainkan sudah menjadi soal yang serius dan menentukan. Atau,
andaikata orang itu  sampai  dapat  menghasut  penduduk  Mekah
melawan  mereka dan meninggalkan berhala-berhala mereka, hasil
apa yang akan diperolehnya dari  perdagangan  Mekah  itu?  Dan
bagaimana pula kedudukan mereka dalam arti agama?
 
Abu  Talib pamannya belum lagi menganut Islam. Tetapi tetap ia
sebagai pelindung  dan  penjaga  kemenakannya  itu.  Ia  sudah
menyatakan   kesediaannya  akan  membelanya.  Atas  dasar  itu
pemuka-pemuka bangsawan Quraisy - dengan  diketahui  oleh  Abu
Sufyan b. Harb - pergi menemui Abu Talib.
 
"Abu  Talib,"  kata  mereka,  "kemenakanmu  itu  sudah  memaki
berhala-berhala kita, mencela  agama  kita,  tidak  menghargai
harapan-harapan  kita  dan menganggap sesat nenek-moyang kita.
Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau  tidak  biarlah
kami  sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga
seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah  engkau  dari  pihak
kami menghadapi dia."
 
Akan  tetapi  Abu  Talib  menjawab  mereka dengan baik sekali.
Sementara itu Muhammad  juga  tetap  gigih  menjalankan  tugas
dakwahnya dan dakwa itupun mendapat pengikut bertambah banyak.
 
Quraisy segera berkomplot menghadapi Muhammad itu. Sekali lagi
mereka pergi menemui Abu Talib.  Sekali  ini  disertai  'Umara
bin'l-Walid  bin'l-Mughira,  seorang  pemuda  yang  montok dan
rupawan, yang akan diberikan kepadanya  sebagai  anak  angkat,
dan sebagai gantinya supaya Muhammad diserahkan kepada mereka.
Tetapi inipun ditolak.  Muhammad  terus  juga  berdakwah,  dan
Quraisypun terus juga berkomplot.
 
Untuk ketiga kalinya mereka mendatangi lagi Abu Talib.
 
"Abu   Talib'"   kata   mereka,  "Engkau  sebagai  orang  yang
terhormat, terpandang  di  kalangan  kami.  Kami  telah  minta
supaya   menghentikan   kemenakanmu   itu,   tapi  tidak  juga
kaulakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap  orang  yang
memaki  nenek-moyang  kita,  tidak  menghargai harapan-harapan
kita dan mencela berhala-berhala kita - sebelum  kausuruh  dia
diam  atau  sama-sama  kita  lawan dia hingga salah satu pihak
nanti binasa."
 
Berat sekali bagi Abu  Talib  akan  berpisah  atau  bermusuhan
dengan masyarakatnya. Juga tak sampai hati ia menyerahkan atau
membuat kemenakannya  itu  kecewa.  Gerangan  apa  yang  harus
dilakukannya?
 
Dimintanya  Muhammad  datang  dan diceritakannya maksud seruan
Quraisy. Lalu  katanya:  "Jagalah  aku,  begitu  juga  dirimu.
Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul."
 
Muhammad  menekur  sejenak,  menekur  berhadapan dengan sebuah
sejarah alam wujud ini, sejarah yang sedang tertegun tak  tahu
hendak  ke  mana  tujuannya.  Dalam  kata-kata  yang  kemudian
menguntai dari bibir laki-laki itu adalah suatu keputusan bagi
dunia:  adakah dunia ini akan dalam kesesatan selalu dan terus
dijerumuskan, lalu datang Majusi menekan  Kristen  yang  sudah
gagal   dan   kacau,  dan  dengan  demikian  paganisma  dengan
kebatilannya itu akan mengangkat kepala yang sudah  rapuk  dan
busuk?  Atau  ia  harus memancarkan terus sinar kebenaran itu,
memproklamirkan kata-kata Tauhid, membebaskan pikiran  manusia
dari belenggu perbudakan, membebaskannya dari rantai ilusi dan
mengangkatnya kemartabat  yang  lebih  tinggi,  sehingga  jiwa
manusia itu dapat mencapai hubungan dengan Zat Maha Tinggi?
 
Pamannya,  ini  pamannya seolah sudah tak berdaya lagi membela
dan   memeliharanya.   Ia   sudah   mau    meninggalkan    dan
melepaskannya.  Sedang  kaum  Muslimin masih lemah, mereka tak
berdaya akan berperang, tidak  dapat  mereka  melawan  Quraisy
yang  punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan dan jumlah
rmanusia. Sebaliknya dia tidak punya apa-apa selain kebenaran.
Dan  atas nama kebenaran sebagai pembelanya ia mengajak orang.
Tak punya apa-apa  ia  selain  imannya  kepada  kebenaran  itu
sebagai  perlengkapan.  Terserahlah apa jadinya! Hari kemudian
itu  baginya  lebih  baik  daripada  yang  sekarang.  Ia  akan
meneruskan   misinya,   akan   mengajak   orang  seperti  yang
diperintahkan Tuhan kepadanya. Lebih baik mati ia membawa iman
kebenaran  yang  telah  diwahyukan kepadanya daripada menyerah
atau ragu-ragu.
 
Karena itu, dengan jiwa yang penuh kekuatan  dan  kemauan,  ia
menoleh kepada pamannya seraya berkata:
 
"Paman,  demi  Allah,  kalaupun  mereka meletakkan matahari di
tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan  kiriku,  dengan
maksud  supaya  aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan
kutinggalkan,  biar  nanti   Allah   yang   akan   membuktikan
kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya."
 
Ya,  demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman
itu!  Gemetar  orang  tua  ini  mendengar  jawaban   Muhammad,
tertegun  ia.  Ternyata  ia berdiri dihadapan tenaga kudus dan
kemauan yang begitu tinggi, di atas  segala  kemampuan  tenaga
hidup yang ada.
 
Muhammad  berdiri.  Airmatanya  terasa  menyumbat karena sikap
pamannya  yang  tiba-tiba   itu,   sekalipun   tak   terlintas
kesangsian   dalam   hatinya   sedikitpun   akan   jalan  yang
ditempuhnya itu.
 
Seketika lamanya Abu Talib masih dalam keadaan  terpesona.  Ia
masih  dalam  kebingungan  antara tekanan masyarakatnya dengan
sikap kemanakannya itu. Tetapi  kemudian  dimintanya  Muhammad
datang   lagi,   yang   lalu   katanya:   "Anakku,  katakanlah
sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan  engkau  bagaimanapun
juga!"

Sikap   dan   kata-kata   kemenakannya   itu  oleh  Abu  Talib
disampaikan  kepada  Banu   Hasyim   dan   Banu   al-Muttalib.
Pembicaranya  tentang  Muhammad  itu  terpengaruh oleh suasana
yang dilihat dan dirasakannya ketika  itu.  Dimintanya  supaya
Muhammad   dilindungi  dari  tindakan  Quraisy.  Mereka  semua
menerima usul  ini,  kecuali  Abu  Lahab.  Terang-terangan  ia
menyatakan  permusuhannya.  Ia  menggabungkan  diri pada pihak
lawan mereka. Permintaan mereka supaya ia dilindungi itu sudah
tentu   karena   terpengaruh   oleh   fanatisma  golongan  dan
permusuhan lama antara Banu Hasyim  dan  Banu  Umayya.  Tetapi
bukan  fanatisma  itu  saya  yang  mendorong  Quraisy bersikap
demikian. Ajarannya itu  sungguh  berbahaya  bagi  kepercayaan
yang  biasa  dilakukan oleh leluhur mereka. Kedudukan Muhammad
di  tengah-tengah  mereka,  pendiriannya  yang   teguh   serta
ajarannya  pada kebaikan supaya orang hanya menyembah Zat Yang
Tunggal, yang pada waktu  itu  memang  sudah  meluas  juga  di
kalangan  kabilah-kabilah Arab, bahwa agama Allah itu bukanlah
seperti yang ada pada mereka sekarang,  membuat  mereka  dapat
membenarkan  juga  sikap kemenakan mereka itu, Muhammad, dalam
menyatakan pendiriannya, seperti yang  pernah  dilakukan  oleh
Umayya  b.  Abi'sh-Shalt  dan  Waraqa b. Naufal dan yang lain.
Kalau Muhammad memang benar - dan ini yang tidak dapat  mereka
pastikan  -  maka kebenaran itu akan tampak juga dan merekapun
akan merasakan pula kemegahannya. Sebaliknya, kalau tidak atas
dasar  kebenaran,  maka  orangpun akan meninggalkannya seperti
yang sudah terjadi sebelum itu. Akhirnya ajaran  demikian  ini
tidak  akan  meninggalkan bekas dalam mengeluarkan mereka dari
tradisi yang ada dan dia  sendiripun  akan  diserahkan  kepada
musuh supaya dibunuh.
 
Terhadap   gangguan   Quraisy   ia   dapat  berlindung  kepada
goIongannya,  seperti  kepada  Khadijah  bila   ia   mengalami
kesedihan.  Baginya  - dengan imannya yang sungguh-sungguh dan
cinta-kasihnya yang besar - Khadijah adalah lambang  kejujuran
yang  dapat menghilangkan segala kesedihan hatinya, yang dapat
menguatkan kembali setiap ciri kelemahan yang  mungkin  timbul
karena  siksaan  musuh-musuhnya yang begitu keras menentangnya
serta    melakukan    penyiksaan    terus-menerus     terhadap
pengikut-pengikutnya.
 
Sebelum  itu  sebenarnya  Quraisy memang tidak pernah mengenal
hidup tenteram. Bahkan setiap kabilah  itu  langsung  menyerbu
kaum Muslimin yang ada di kalangan mereka: disiksa dan dipaksa
melepaskan  agamanya;  sehingga  di  antara  mereka  ada  yang
mencampakkan  budaknya,  Bilal,  ke  atas pasir di bawah terik
matahari yang membakar, dadanya ditindih dengan batu dan  akan
dibiarkan  mati. Soalnya karena ia teguh bertahan dalam Islam!
Dalam kekerasan semacam itu Bilal hanya berkata: "Ahad,  Ahad,
Hanya  Yang  Tunggal!"  Ia  memikul  semua  siksaan  itu  demi
agamanya.
 
Ketika  pada  suatu  hari  oleh  Abu  Bakr  dilihatnya   Bilal
mengalami  siksaan  begitu rupa, ia dibelinya lalu dibebaskan.
Tidak sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan serupa  itu
oleh  Abu  Bakr  dibeli  -  diantaranya  budak  perempuan Umar
bin'l-Khattab, dibelinya dari Umar [sebelum masuk Islam].  Ada
pula  seorang  wanita yang disiksa sampai mati karena ia tidak
mau meninggalkan Islam kembali kepada kepercayaan leluhurnya.
 
Kaum Muslimin di luar budak-budak  itu,  dipukuli  dan  dihina
dengan berbagai cara. Muhammad juga tidak terkecuali mengalami
gangguan-gangguan - meskipun sudah dilindungi oleh Banu Hasyim
dan  Banu al-Muttalib. Umm Jamil, isteri Abu Jahl, melemparkan
najis  ke  depan  rumahnya.  Tetapi   cukup   Muhammad   hanya
membuangnya   saja.   Dan   pada  waktu  sembayang,  Abu  Jahl
melemparinya dengan isi perut kambing  yang  sudah  disembelih
untuk  sesajen  kepada berhala-berhala. Ditanggungnya gangguan
demikian itu dan ia pergi kepada  Fatimah,  puterinya,  supaya
mencucikan  dan  membersihkannya  kembali.  Ditambah  lagi, di
samping semua itu,  kaum  Muslimin  harus  menerima  kata-kata
biadab dan keji kemana saja mereka pergi.
 
Cukup  lama  hal  serupa  itu  berjalan.  Tetapi kaum Muslimin
tambah teguh terhadap agama mereka. Dengan dada terbuka mereka
menerima  siksaan  dan  kekerasan  itu  - demi akidah dan iman
mereka.
 
Perioda yang telah  dilalui  dalam  hidup  Muhammad  a.s.  ini
adalah  perioda  yang  paling dahsyat yang pernah dialami oleh
sejarah umat manusia. Baik Muhammad atau mereka  yang  menjadi
pengikutnya,   bukanlah   orang-orang   yang   menuntut  harta
kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, melainkan orang-orang yang
menuntut  kebenaran  serta  keyakinannya  akan  kebenaran itu.
Muhammad adalah orang yang mengharapkan bimbingan bagi  mereka
yang   mengalami  penderitaan,  dan  membebaskan  mereka  dari
belenggu paganisma yang rendah,  yang  menyusup  kedalam  jiwa
manusia sampai ke lembah kehinaan yang sangat memalukan.
 
Demi tujuan rohani yang luhur itulah - tidak untuk tujuan yang
lain  -  ia  mengalami  siksaan.  Penyair-penyair   memakinya,
orang-orang  Quraisy  berkomplot hendak membunuhnya di Ka'bah.
Rumahnya dilempari  batu,  keluarga  dan  pengikut-pengikutnya
diancam.  Tetapi  dengan semua itu malah ia makin tabah, makin
gigih meneruskan dakwah. Jiwa kaum  mukmin  yang  mengikutinya
itu  sudah  padat oleh ucapannya: "Demi Allah, kalaupun mereka
meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan  di
tangan  kiriku,  dengan  maksud  supaya aku meninggalkan tugas
ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar  nanti  Allah  yang
akan  membuktikan  kemenangan itu; di tanganku atau aku binasa
karenanya."
 
Segala pengorbanan yang besar-besar itu tak ada  artinya  bagi
mereka,  mautpun  sudah  tak  berarti lagi demi kebenaran, dan
membimbing Quraisy ke arah itu. Kadang orang heran, iman sudah
begitu  mempersonakan jiwa penduduk Mekah pada waktu agama ini
belum lengkap, pada waktu ayat-ayat Qur'an  yang  turun  masih
sedikit.  Kadang  juga  orang mengira, bahwa pribadi Muhammad,
sifatnya  yang   lemah-lembut,   keindahan   akhlaknya   serta
kejujurannya yang sudah cukup dikenal, di samping kemauan yang
keras dan pendiriannya yang teguh,  adalah  sebab  dari  semua
itu.  Sudah  tentu  ini  juga ada pengaruhnya. Akan tetapi ada
sebab-sebab lain  yang  juga  patut  diperhatikan  yang  tidak
sedikit pula ikut memegang peranan.
 
Muhammad  tinggal  dalam suatu daerah yang merdeka mirip-mirip
sebuah republik Dari segi keturunan ia menempati  puncak  yang
tinggi.  Hartapun  sudah cukup seperti yang dikehendakinya. Ia
dari Keluarga Hasyim pula,  juru  kunci  Ka'bah  dan  penguasa
urusan  air. Gelar-gelar keagamaan yang tinggi-tinggi ada pada
mereka. Jadi dalam keadaan itu ia tidak lagi membutuhkan harta
kekayaan,  pangkat  atau sesuatu kedudukan politik atau agama.
Dalam hal ini ia berbeda pula dengan para rasul dan  nabi-nabi
sebelumnya.  Musa  yang  dilahirkan  di  Mesir  bertemu dengan
Firaun yang oleh penduduk sudah dituhankan,  dan  Firaun  juga
yang  berkata:  "Aku  adalah  tuhanmu  yang  tertinggi,"  yang
dibantu pula oleh pemuka-pemuka agama melakukan tekanan kepada
orang   dengan   pelbagai   macam   kekejaman,  pemerasan  dan
pemaksaan. Revolusi yang dilakukan Musa  atas  perintah  Tuhan
adalah  revolusi  dalam  struktur politik dan agama sekaligus.
Bukankah keinginannya supaya Firaun dan orang yang menimba air
dengan  syaduf  dari  sungai  Nil  itu  dihadapan  Tuhan  sama
sederajat? Jadi dimana ketuhanan Firaun itu  dan  dimana  pula
ketentuan  yang  berlaku!  Harus  dihancurkan  semua  itu  dan
revolusi itupun terlebih dulu harus bersifat politik.
 
Oleh karena itu, dari semula ajaran Musa  itu  sudah  mendapat
perlawanan  hebat  dari  Firaun. Dengan demikian, supaya orang
menerima seruannya itu, ia diperkuat oleh mujizat-mujizat.  Ia
melemparkan  tongkatnya,  dan  tongkat itu menjadi seekor ular
yang bergerak-gerak,  menelan  semua  hasil  pekerjaan  tukang
tukang  sihir  Firaun  itu. Itupun tidak memberi hasil apa-apa
buat Musa. Terpaksa ia meninggalkan Mesir tanah airnya.  Dalam
hijrahnya itupun diperkuat pula ia dengan sebuah mujizat yaitu
terbelahnya jalan di tengah-tengah air lautan itu.
 
Juga Isa, yang dilahirkan di Nazareth di  bilangan  Palestina,
yang  pada  waktu  itu merupakan wilayah Rumawi yang berada di
bawah  kekuasaan  kaisar-kaisar  dengan  segala   kekejamannya
sebagai   pihak   penjajah  dan  kekuasaan  dewa-dewa  Rumawi,
mengajak orang  supaya  sabar  menghadapi  kekejaman  itu  dan
bertobat   bagi   yang   menyesal   dan  macam-macam  perasaan
belaskasih lagi, yang  oleh  pihak  penguasa  justru  dianggap
pemberontakan   terhadap   kekuasaan  mereka.  Maka  Isa  juga
diperkuat dengan mujizat-mujizat: menghidupkan orang mati  dan
menyembuhkan  orang  sakit;  dan  yang lain diperkuat oleh Ruh
Kudus. Memang benar, bahwa inti ajaran-ajaran mereka itu  pada
dasarnya  bertemu  dengan  inti  ajaran-ajaran  Muhammad juga,
lepas dari detail yang bukan  tempatnya  untuk  dijelaskan  di
sini.  Akan  tetapi  motif  yang  berbagai macam ini, dan yang
terutama motif politik, adalah yang menjadi tujuannya juga.
 
Sebaliknya Muhammad, keadaannya seperti yang kita sebutkan  di
atas,   sifat  ajarannya  adalah  intelektual  dan  spiritual.
Dasarnya  adalah  mengajak  kepada  kebenaran,  kebaikan   dan
keindahan.  Suatu ajakan yang berdiri sendiri dari mula sampai
akhir.  Karena  jauhnya  dari  segala  pertentangan   politik,
struktur  republik  yang  sudah  ada di Mekah itu tidak pernah
mengalami sesuatu kekacauan.
 
Mungkin pembaca akan terkejut bila saya katakan, bahwa  antara
dakwah   Muhammad   dengan   metoda  ilmiah  modern  mempunyai
persamaan  yang  besar  sekali.  Metoda   ilmiah   ini   ialah
mengharuskan  kita  -  apabila  kita  hendak  mengadakan suatu
penyelidikan - terlebih  dulu  membebaskan  diri  dari  segala
prasangka, pandangan hidup dan kepercayaan yang sudah ada pada
diri kita yang berhubungan dengan penyelidikan itu. Di situlah
kita  memulai  dengan  mengadakan  observasi  dan  eksperimen,
mengadakan perbandingan yang sistematis, kemudian baru  dengan
silogisma  yang  sudah didasarkan kepada premisa-premisa tadi.
Apabila semua itu sudah  dapat  disimpulkan,  maka  kesimpulan
demikian   itu  dengan  sendirinya  masih  perlu  dibahas  dan
diselidiki lagi. Tetapi bagaimanapun juga ini sudah  merupakan
suatu   data   ilmiah   selama   penyelidikan  tersebut  belum
memperlihatkan kekeliruan. Metoda ilmiah  demikian  ini  ialah
yang terbaik yang pernah dicapai umat manusia demi kemerdekaan
berpikir. Metoda dan dasar-dasar dakwah demikian  inilah  pula
yang menjadi pegangan Muhammad.
 
Bagaimana  pula  mereka  yang menjadi pengikutnya itu puas dan
beriman sungguh-sungguh  akan  ajarannya?  Segala  kepercayaan
lama  terkikis  habis  dari  jiwa  mereka, dan sekarang mereka
mulai memikirkan masa depan mereka.
 
Waktu   itu   setiap   kabilah    Arab    mempunyai    berhala
sendiri-sendiri.  Mana  pula  gerangan  berhala yang benar dan
mana yang  sesat?  Di  negeri-negeri  Arab  dan  negeri-negeri
sekitarnya  ketika  itu  memang  sudah  ada  penganut-penganut
Sabian dan Majusi  penyembah  api,  juga  ada  yang  menyembah
matahari.  Mana  diantara  mereka itu yang benar dan mana pula
yang sesat?
 
Baiklah  kita  kesampingkan  dulu  semua  ini,  kita  hapuskan
jejaknya  dari  jiwa  kita.  Kita bebaskan dulu diri kita dari
segala konsepsi dan kepercayaan lama. Baiklah kita  renungkan.
Merenungkan  dan meninjau pada dasarnya sama. Yang pasti ialah
bahwa seluruh alam ini  satu  sama  lain  saling  berhubungan.
Manusia,   puak-puak  dan  bangsa-bangsa  saling  berhubungan.
Manusia berhubungan juga dengan hewan dan dengan  benda,  bumi
kita  berhubungan dengan matahari, dengan bulan dan tata-surya
lainnya.   Dan   semua   itupun   berhubungan   pula    dengan
undang-undang  yang sudah tali-temali, tak dapat ditukar-tukar
atau diubah-ubah lagi. Matahari tidak seharusnya akan mengejar
bulan,  malampun  takkan  dapat mendahului siang. Andaikata di
antara isi alam ini ada yang berubah  atau  berganti,  niscaya
akan   berganti  pulalah  segala  yang  ada  dalam  alam  ini.
Andaikata matahari tidak lagi  menyinari  dan  memanasi  bumi,
menurut  undang-undang  yang sudah berjalan sejak jutaan tahun
yang lalu, niscaya bumi dan  langit  ini  sudah  akan  berubah
pula.  Dan  oleh  karena yang demikian ini tidak terjadi, maka
atas semua itu sudah tentu ada  zat  yang  menguasainya.  Dari
situ  ia  tumbuh, dengan itu ia berkembang dan ke situ pula ia
kembali. Hanya kepada Zat ini sajalah semata manusia menyerah.
Demikian  juga, segala yang ada dalam alam ini menyerah semata
kepada Zat ini, persis seperti manusia.  Baik  manusia,  alam,
ruang  dan  waktu  adalah suatu kesatuan. Maka Zat itulah inti
dan sumbernya. Jadi,  hanya  kepada  Zat  itu  sajalah  semata
ibadat  dilakukan.  Hanya  kepada  Zat itu sajalah jantung dan
jiwa manusia dihadapkan. Ke dalam alam  itu  juga  kita  harus
melihat  dan  merenungkan  undang-undang alam yang kekal abadi
itu. Jadi segala yang disembah  manusia  selain  Allah  berupa
berhala-berhala,  raja-raja,  firaun-firaun, api dan matahari,
hanyalah suatu ilusi batil saja, tidak sesuai dengan  martabat
dan  kehormatan  manusia,  tidak  sesuai  dengan  akal pikiran
manusia serta dengan kemampuan yang ada  dalam  dirinya;  yang
dapat  membuat  kesimpulan  atas  undang-undang Tuhan terhadap
ciptaanNya itu, dengan jalan merenungkannya.
 
Inilah rasanya esensi ajaran Muhammad seperti  yang  diketahui
kaum  Muslimin  yang  mula-mula  itu.  Ajaran yang disampaikan
wahyu kepada mereka melalui Muhammad itu  adalah  puncak  dari
bahasa  sastra  yang  telah  menjadi  mujizat  dan  akan terus
berlaku demikian. Terpadunya kebenaran dan cara  melukiskannya
dengan  keindahan  yang  luarbiasa  itu kini tampak di hadapan
mereka. Di sini jiwa dan kalbu mereka meningkat lebih  tinggi,
berhubungan  dengan  Zat Yang Maha Mulia. Lalu datang Muhammad
menuntun mereka bahwa kebaikan itulah jalan yang  akan  sampai
ke  tujuan.  Mereka  akan  mendapat  balasan atas kebaikan itu
bilamana mereka sudah menunaikan kewajiban dalam hidup  dengan
tekun.  Setiap  orang  akan  mendapat  balasan  sesuai  dengan
perbuatannya.
 
"Barangsiapa berbuat kebaikan seberat atompun akan dilihatnya;
dan   barangsiapa   berbuat  kejahatan  seberat  atompun  akan
dilihatnya pula." (Qur'an 99: 7-8)
 
Dalam menjunjung pikiran manusia ke tempat yang  lebih  tinggi
kiranya tak ada yang lebih tinggi dari ini! Juga menghancurkan
belenggu yang  senantiasa  mengikatnya  itu!  Terserah  kepada
manusia.  Ia  mau memahami ini, mau beriman dan mengerjakannya
untuk mencapai puncak ketinggian martabat  manusia  itu!  Demi
mencapai  tujuan,  segala pengorbanan terasa ringan bagi orang
yang sudah beriman itu.
 
Karena posisi Muhammad dan  pengikut-pengikutnya  yang  begitu
agung,   Banu   Hasyim   dan  Banu  al-Muttalib  tambah  ketat
menjaganya dari setiap gangguan.  Pada  suatu  hari  Abu  Jahl
bertemu  dengan Muhammad, ia mengganggunya, memaki-makinya dan
mengeluarkan kata-kata yang tidak  pantas  dialamatkan  kepada
agama  ini. Tetapi Muhammad tidak melayaninya. Ditinggalkannya
ia  tanpa  diajak  bicara.  Hamzah,  pamannya  dan  saudaranya
sesusu,  yang masih berpegang pada kepercayaan Quraisy, adalah
seorang  laki-laki  yang  kuat  dan  ditakuti.  Ia   mempunyai
kegemaran  berburu. Bila ia kembali dan berburu, terlebih dulu
mengelilingi Ka'bah sebelum langsung pulang ke rumahnya.
 
Hari  itulah,  bilamana  ia  datang   dan   mengetahui   bahwa
kemenakannya  itu mendapat gangguan Abu Jahl, ia meluap marah.
Ia pergi ke Ka'bah, tidak lagi ia memberi  salam  kepada  yang
hadir  di  tempat  itu seperti biasanya, melainkan terus masuk
kedalam  mesjid  menemui  Abu   Jahl.   Setelah   dijumpainya,
diangkatnya   busurnya   lalu   dipukulkannya  keras-keras  di
kepalanya. Beberapa orang dan Banu Makhzum mencoba mau membela
Abu  Jahl.  Tapi tidak jadi. Kuatir mereka akan timbul bencana
dan membahayakan  sekali,  dengan  mengakui  bahwa  ia  memang
mencaci maki Muhammad dengan tidak semena-mena.
 
Sesudah  itulah  kemudian  Hamzah  menyatakan  masuk Islam. Ia
berjanji kepada Muhammad akan membelanya dan akan berkurban di
jalan Allah sampai akhir hayatnya.
 
Pihak   Quraisy   merasa   sesak  dada  melihat  Muhammad  dan
kawan-kawannya makin hari makin kuat. Di samping itu, gangguan
dan  siksaan  yang  dialamatkan  kepada  mereka,  tidak  dapat
mengurangi iman mereka dan menyatakannya  terus-terang,  tidak
dapat  menghalangi  mereka melakukan kewajiban agama. Terpikir
oleh Quraisy akan membebaskan diri dari Muhammad, dengan  cara
seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala keinginannya.
Mereka rupanya lupa bahwa keagungan  dakwah  Islam,  kemurnian
esensi  ajaran  rohaninya  yang  begitu tinggi, berada di atas
segala pertentangan ambisi politik. 'Utba b.  Rabi'a,  seorang
bangsawan  Arab  terkemuka,  mencoba  membujuk  Quraisy ketika
mereka dalam tempat pertemuan dengan mengatakan bahwa ia  akan
bicara  dengan  Muhammad dan akan menawarkan kepadanya hal-hal
yang barangkali mau menerimanya.  Mereka  mau  memberikan  apa
saja kehendaknya, asal ia dapat dibungkam.
 
Ketika itulah 'Utba bicara dengan Muhammad.
 
"Anakku,"  katanya, "seperti kau ketahui, dari segi keturunan,
engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah membawa
soal   besar  ketengah-tengah  masyarakatmu,  sehingga  mereka
cerai-berai  karenanya.  Sekarang,  dengarkanlah,  kami   akan
menawarkan   beberapa   masalah,  kalau-kalau  sebagian  dapat
kauterima Kalau dalam hal ini yang kauinginkan  adalah  harta,
kamipun  siap  mengumpulkan  harta kami, sehingga hartamu akan
menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau  kau  menghendaki
pangkat,  kami  angkat  engkau  diatas kami semua; kami takkan
memutuskan  suatu  perkara  tanpa  ada  persetujuanmu.   Kalau
kedudukan  raja  yang  kauinginkan,  kami nobatkan kau sebagai
raja kami. Jika engkau dihinggapi  penyakit  saraf4  yang  tak
dapat  kautolak  sendiri,  akan  kami  usahakan  pengobatannya
dengan harta-benda kami sampai kau sembuh."
 
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (41 = Ha
Mim). 'Utba diam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu.
Dilihatnya sekarang yang berdiri di  hadapannya  itu  bukanlah
seorang  laki-laki  yang  didorong  oleh  ambisi  harta, ingin
kedudukan  atau  kerajaan,  juga  bukan  orang   yang   sakit,
melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang
kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu  dengan  cara  yang
baik, dengan kata-kata penuh mujizat.
 
Selesai  Muhammad  membacakan  itu  'Utba pergi kembali kepada
Quraisy.  Apa  yang  dilihat  dan   didengarnya   itu   sangat
mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu.
Penjelasannya sangat menarik sekali.
 
Persoalannya 'Utba ini tidak menyenangkan pihak Quraisy,  juga
pendapatnya    supaya    Muhammad    dibiarkan   saja,   tidak
menggembirakan mereka,  sebaliknya  kalau  mengikutinya,  maka
kebanggaannya buat mereka.
 
Maka    kembali   lagilah   mereka   memusuhi   Muhammad   dan
sahabat-sahabatnya dengan menimpakan  bermacam-macam  bencana,
yang  selama  ini  dalam  kedudukannya  itu  ia  berada  dalam
perlindungan golongannya dan dalam penjagaan Abu  Talib,  Banu
Hasyim dan Banu al-Muttalib.
 
Gangguan    terhadap   kaum   Muslimin   makin   menjadi-jadi,
sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya.  Waktu
itu   Muhammad  menyarankan  supaya  mereka  terpencar-pencar.
Ketika mereka bertanya kepadanya  kemana  mereka  akan  pergi,
mereka  diberi nasehat supaya pergi ke Abisinia yang rakyatnya
menganut agama Kristen. "Tempat itu  diperintah  seorang  raja
dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai
nanti Allah membukakan jalan buat kita semua."
 
Sebagian kaum Muslimin ketika itu lalu berangkat  ke  Abisinia
guna  menghindari  fitnah  dan  tetap  berlindung kepada Tuhan
dengan mempertahankan agama. Mereka berangkat dengan melakukan
dua  kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria
dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar  dari
Mekah  mencari  perlindungan.  Kemudian mereka mendapat tempat
yang baik di bawah Najasyi.5
 
Bilamana kemudian tersiar berita bahwa kaum Muslimin di  Mekah
sudah  selamat  dari  gangguan Quraisy, merekapun lalu kembali
pulang, seperti yang akan diceritakan  nanti.  Tetapi  setelah
ternyata kemudian mereka mengalami kekerasan lagi dari Quraisy
melebihi yang sudah-sudah, kembali lagi  mereka  ke  Abisinia.
Sekali  ini  terdiri  dari  delapanpuluh orang pria tanpa kaum
isteri  dan  anak-anak.  Mereka  tinggal  di  Abisinia  sampai
sesudah hijrah Nabi ke Yathrib.
 
Hijrah ke Abisinia ini adalah hijrah pertama dalam Islam.6
 
Sudah pada tempatnya bagi setiap penulis sejarah Muhammad akan
bertanya: Adakah tujuan hijrah yang  dilakukan  kaum  Muslimin
atas  saran dan anjurannya itu karena akan melarikan diri dari
orang-orang kafir Mekah beserta gangguan yang mereka  lakukan,
ataukah  karena  suatu tujuan politik Islam, yang di balik itu
dimaksudkan oleh Muhammad  dengan  tujuan  yang  lebih  luhur?
Sudah pada tempatnya pula apabila penulis sejarah Muhammad itu
akan bertanya tentang hal ini, setelah terbukti  dari  sejarah
Nabi berbangsa Arab ini dalam seluruh fase kehidupannya, bahwa
dia seorang politikus yang berpandangan jauh, seorang  pembawa
risalah  dan  moral  jiwa  yang begitu luhur, sublim dan agung
yang tak ada taranya. Dan yang menjadi alasan  dalam  hal  ini
ialah  apa yang disebutkan dalam sejarah, bahwa penduduk Mekah
tidak suka hati ada kaum  Muslimin  yang  pergi  ke  Abisinia.
Bahkan  mereka  kemudian  mengutus  dua orang menemui Najasyi.
Mereka membawa hadiah-hadiah  berharga  guna  meyakinkan  raja
supaya  dapat  mengembalikan  kaum  Muslimin  itu ke tanah air
mereka. Pada  waktu  itu  penduduk  Abisinia  dan  penguasanya
adalah   orang-orang  Nasrani.  Dari  segi  agama  orang-orang
Quraisy tidak kuatir bahwa mereka akan ikut Muhammad.
 
Disebabkan oleh rasa  kegelisahan  terhadap  peristiwa  itukah
maka  mereka lalu mengutus orang, meminta supaya kaum Muslimin
itu  dikembalikan?  Mereka  menganggap,   bahwa   perlindungan
Najasyi  terhadap  mereka  setelah mendengar keterangan mereka
itu akan membawa pengaruh juga kepada  penduduk  jazirah  Arab
sehingga  mereka  akan  mau  menerima  agama  Muhammad dan mau
menjadi  pengikutnya.  Ataukah  mereka  kuatir,   kalau   kaum
Muslimin  menetap  di  Abisinia,  mereka  akan bertambah kuat,
sehingga bila kelak mereka pulang kembali  membantu  Muhammad,
mereka kembali dengan kekuatan, harta dan tenaga?

Kedua  orang utusan itu ialah 'Amr bin'l-'Ash dan Abdullah bin
Abi Rabi'a. Kepada Najasyi dan  kepada  para  pembesar  istana
mereka  mempersembahkan  hadiah-hadiah  dengan  maksud  supaya
mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah  dari  Mekah
itu kepada mereka.
 
"Paduka  Raja,"  kata  mereka, "mereka datang ke negeri paduka
ini adalah budak-budak kami  yang  tidak  punya  malu.  Mereka
meninggalkan  agama  bangsanya  dan  tidak pula menganut agama
paduka; mereka membawa agama  yang  mereka  ciptakan  sendiri,
yang  tidak  kami  kenal  dan  tidak  juga paduka. Kami diutus
kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat  mereka,  oleh
orang-orang  tua,  paman  mereka  dan keluarga mereka sendiri,
supaya  paduka  sudi  mengembalikan  orang-orang  itu   kepada
mereka.   Mereka   lebih  mengetahui  betapa  orang-orang  itu
mencemarkan dan memaki-maki."
 
Sebenarnya  kedua  utusan  itu  telah  mengadakan  persetujuan
dengan   pembesar-pembesar  istana  kerajaan,  setelah  mereka
menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka  akan
membantu  usaha  mengembalikan  kaum Muslimin itu kepada pihak
Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai  diketahui  raja.
Tetapi  baginda  menolak  sebelum mendengar sendiri keterangan
dari  pihak  Muslimin.  Lalu  dimintanya  mereka  itu   datang
menghadap
 
"Agama  apa  ini  yang  sampai  membuat tuan-tuan meninggalkan
masyarakat tuan-tuan  sendiri,  tetapi  tidak  juga  tuan-tuan
menganut  agamaku,  atau  agama  lain?"  tanya Najasyi setelah
mereka datang.
 
Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja'far b. Abi b. Talib.
 
"Paduka Raja,"  katanya,  "ketika  itu  kami  masyarakat  yang
bodoh,  kami  menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala
kejahatan kami lakukan, memutuskan  hubungan  dengan  kerabat,
dengan  ketanggapun  kami  tidak baik; yang kuat menindas yang
lemah. Demikian keadaan kami, sampai  Tuhan  mengutus  seorang
rasul  dari  kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya,
dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia  mengajak  kami
menyembah  hanya  kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan
batu-batu  dan  patung-patung  yang  selama   itu   kami   dan
nenek-moyang  kami  menyembahnya.  Ia  menganjurkan kami untuk
tidak berdusta untuk berlaku jujur serta  mengadakan  hubungan
keluarga  dan  tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan
darah  dan  perbuatan  terlarang  lainnya.  Ia  melarang  kami
melakukan  segala  kejahatan  dan menggunakan kata-kata dusta,
memakan harta anak piatu atau mencemarkan  wanita-wanita  yang
bersih.    Ia   minta   kami   menyembah   Allah   dan   tidak
mempersekutukanNya.  Selanjutnya  disuruhnya  kami   melakukan
salat,  zakat  dan  puasa. [Lalu disebutnya beberapa ketentuan
Islam].  Kami  pun  membenarkannya.  Kami  turut  segala  yang
diperintahkan  Allah.  Lalu  yang kami sembah hanya Allah Yang
Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa  dan  siapa  pun
juga.  Segala  yang  diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan
kami lakukan. Karena itulah, masyarakat  kami  memusuhi  kami,
menyiksa  kami  dan  menghasut  supaya kami meninggalkan agama
kami dan kembali menyembah berhala;  supaya  kami  membenarkan
segala  keburukan  yang  pernah kami lakukan dulu. Oleh karena
mereka memaksa  kami,  menganiaya  dan  menekan  kami,  mereka
menghalang-halangi  kami  dari agama kami, maka kamipun keluar
pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah  yang  menjadi  pilihan
kami.  Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan
di sini takkan ada penganiayaan."
 
"Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang  dapat  tuan-tuan
bacakan kepada kami?" tanya Raja itu lagi.
 
"Ya,"  jawab  Ja'far;  lalu  ia  membacakan  Surah Mariam dari
pertama sampai pada firman Allah:
 
"Lalu ia memberi  isyarat  menunjuk  kepadanya.  Kata  mereka:
Bagaimana  kami akan bicara dengan anak yang masih muda belia?
Dia (Isa) berkata: 'Aku  adalah  hamba  Allah,  diberiNya  aku
Kitab  dan  dijadikanNya  aku  seorang  nabi. DijadikanNya aku
pembawa berkah  dimana  saja  aku  berada,  dan  dipesankanNya
kepadaku  melakukan  sembahyang  dan zakat selama hidupku. Dan
berbaktilah aku kepada ibuku,  bukan  dijadikanNya  aku  orang
congkak  yang  celaka.  Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan,
tatkala aku mati dan tatkala aku hidup kembali!'" (Qur'an  19:
29-33)
 
Setelah  mendengar  bahwa  keterangan itu membenarkan apa yang
tersebut  dalam  Injil,  pemuka-pemuka  istana  itu  terkejut:
"Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata
Yesus Kristus'" kata mereka.
 
Najasyi lalu berkata: "Kata-kata  ini  dan  yang  dibawa  oleh
Musa,  keluar  dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan (kepada
kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami takkan  menyerahkan
mereka kepada tuan-tuan!"
 
Keesokan harinya 'Amr bin'l-'Ash kembali menghadap Raja dengan
mengatakan, bahwa  kaum  Muslimin  mengeluarkan  tuduhan  yang
luarbiasa  terhadap  Isa  anak  Mariam.  Panggillah mereka dan
tanyakan apa yang mereka katakan itu.
 
Setelah mereka datang, Ja'far berkata:  Tentang  dia  pendapat
kami seperti yang dikafakan Nabi kami: 'Dia adalah hamba Allah
dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya  yang  disampaikan  kepada
Perawan Mariam."
 
Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di
tanah. Dan dengan gembira sekali baginda berkata:
 
"Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak  lebih
dari garis ini."
 
Setelah  dari  kedua  belah pihak itu didengarnya, ternyatalah
oleh Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui  Isa,  mengenal
adanya Kristen dan menyembah Allah.
 
Selama di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman dan tenteram.
Ketika kemudian disampaikan kepada  mereka,  bahwa  permusuhan
pihak  Quraisy  sudah  berangsur  reda, mereka lalu kembali ke
Mekah untuk pertama kalinya - dan Muhammadpun masih di Mekah.
 
Akan tetapi, setelah kemudian ternyata, bahwa  penduduk  Mekah
masih  juga  mengganggunya  dan mengganggu sahabat-sahabatnya,
merekapun  kembali  lagi  ke  Abisinia.  Mereka  terdiri  dari
delapanpuluh  orang  tanpa  wanita dan anak-anak. Adakah kedua
kali hijrah mereka itu hanya semata-mata melarikan  diri  dari
gangguan ataukah meskipun dalam perencanaan Muhammad sendiri -
mereka mempunyai tujuan politik? Sebaiknya ahli  sejarah  akan
dapat mengungkapkan hal ini.
 
Sudah  pada tempatnya bagi penulis sejarah hidup Muhammad akan
bertanya:   bagaimana   Muhammad   dapat   tenang   membiarkan
sahabat-sahabatnya  pergi  ke Abisinia, padahal agama penduduk
itu adalah agama Nasrani, agama ahli kitab,  Nabi  mereka  Isa
yang  diakui  kerasulannya  oleh  Islam?  Lalu ia tidak kuatir
mereka  akan  tergoda  seperti  yang  dilakukan  oleh  Quraisy
walaupun  dengan  cara  lain?  Bagaimana  pula  ia akan merasa
tenang terhadap godaan itu, mengingat Abisinia  adalah  negeri
makmur;   yang  tidak  sama  dengan  Mekah;  dan  lebih  dapat
mempengaruhi daripada  Quraisy?  Kenyataannya,  dari  kalangan
Muslimin  yang  pergi  ke  Abisinia itu sudah ada seorang yang
masuk Kristen. Kenyataan  ini  menunjukkan,  bahwa  kekuatiran
akan  adanya  godaan  ini  seharusnya selalu ada pada Muhammad
mengingat keadaannya yang masih lemah dan mereka yang  menjadi
pengikutnya  masih  menyangsikan  kemampuannya melindungi diri
mereka sendiri atau akan dapat mengalahkan musuh mereka. Besar
sekali  dugaan bahwa hal demikian memang sudah terlintas dalam
pikiran Muhammad, melihat tingkat  kecerdasannya  yang  begitu
tinggi  dengan  ketajaman  pikiran dan pandangannya yang jauh,
yang  semuanya  itu  seimbang  dengan  jiwa  besarnya,  dengan
kemurnian rohaninya, budi pekerti yang luhur serta perasaannya
yang halus sekali itu.
 
Tetapi sungguhpun begitu, dari segi ini ia  yakin  dan  tenang
sekali. Pada waktu itu - dan sampai pada waktu pembawa risalah
itu  wafat  -  inti  ajaran   Islam   masih   bersih   sekali,
kemurniannya masih belum ternodakan. Seperti ajaran Nasrani di
Najran, Hira dan Syam, begitu juga paham Nasrani  di  Abisinia
sudah  dijangkiti  oleh  noda, perselisihan antara mereka yang
menuhankan Ibu  Mariam  dengan  mereka  yang  menuhankan  Isa.
Disamping  ada  lagi yang berlainan dengan kedua golongan itu,
mereka yang masih mengambil dari  sumber  ajaran  yang  murni,
yang tidak perlu dikuatirkan.
 
Sebenarnya,   kebanyakan   agama-agama  itu  sesudah  beberapa
generasi  saja  berjalan,  sudah   dijangkiti   oleh   semacam
paganisma,  meskipun bukan dari jenis rendahan, yang waktu itu
berkembang  di   negeri-negeri   Arab;   tetapi   bagaimanapun
paganisma juga.
 
Kedatangan  Islam  merupakan  musuh berat buat paganisma dalam
segala bentuk dan coraknya. Ditambah lagi, bahwa agama Nasrani
waktu  itu sudah mengakui adanya suatu golongan klas khusus di
kalangan pemuka-pemuka agama  -  yang  oleh  Islam  samasekali
tidak  dikenal  -  yang  pada  waktu  itu  merupakan  golongan
tertinggi dan paling suci. Juga pada waktu itu - dan dasar ini
tetap  berlaku  -  Islam  merupakan agama yang menjunjung jiwa
manusia ke puncak tertinggi. Tak ada peluang yang  akan  dapat
menghubungkan manusia dengan Tuhannya selain daripada baktinya
dan perbuatan yang baik, dan orang harus  mencintai  sesamanya
seperti  mencintai  dirinya.  Tidak ada berhala-berhala, tidak
ada pendeta-pendeta,  tidak  ada  dukun-dukun  dan  tidak  ada
apapun yang akan merintangi jiwa manusia itu untuk berhubungan
dengan seluruh wujud ini dengan perbuatan  dan  kelakuan  yang
baik.  Allah  juga  yang  akan  membalas  segala perbuatan itu
dengan berlipat ganda.
 
Dan ruh! Soal ruh adalah urusan Tuhan.  Ruh  yang  berhubungan
dengan  kekekalan  dan  keabadian zaman. Segala perbuatan baik
bagi ruh ini tak ada tabir yang akan menutupinya  dari  Tuhan,
dan  tak  ada  kekuasaan apapun selain Allah. Orang-orang yang
kaya, yang kuat atau yang jahat dapat saja menyiksa jasad ini,
dapat saja memisahkannya dari segala kesenangan dan hawa nafsu
dan dapat saja menghancurkan semua itu, tetapi ruh  atau  jiwa
itu  takkan  dapat  mereka kuasai selama yang bersangkutan mau
menempatkannya lebih tinggi di atas  segala  kekuasaan  materi
dan waktu, dan tetap berhubungan dengan seluruh alam ini.
 
Manusia  itu  akan  mendapat  balasan atas segala perbuatannya
bilamana kelak setiap jiwa menerima balasan menurut  apa  yang
telah  dikerjakannya.  Ketika  itu  seorang  ayah takkan dapat
menolong anaknya, dan seorang anak takkan pula dapat  menolong
ayahnya  sedikitpun.  Ketika  itu  harta  si  kaya.  sudah tak
berguna lagi, tidak juga  si  kuat  dengan  kekuatannya,  atau
ahli-ahli  teologi  itu  dengan ilmu ketuhanannya. Tetapi yang
penting hanyalah perbuatan mereka,  yang  nanti  akan  menjadi
saksi.  Ketika  itulah  seluruh alam wujud berpadu semua dalam
kekekalan dan keabadiannya.  Tuhan  tidak  akan  memperlakukan
tidak  adil  terhadap  siapapun. "Dan balasan yang kamu terima
hanya menurut apa yang kamu perbuat."
 
Bagaimana Muhammad  akan  merasa  kuatir  akan  adanya  godaan
terhadap  mereka  yang  sudah  diajarkan semua arti ini, sudah
ditanamkan ke dalam jiwa mereka dan sudah pula akidah dan iman
itu  terpateri dalam lubuk hati mereka! Bagaimana pula ia akan
merasa  kuatir  akan  adanya  godaan,  sedang   teladan   yang
diberikannya  itu  hidup  dihadapan  mereka, dengan pribadinya
yang begitu  dicintai,  sehingga  kecintaan  mereka  kepadanya
melebihi cintanya kepada diri sendiri kepada anak keluarganya!
Pribadi, yang telah menempatkan akidah itu diatas  semua  raja
di  muka  bumi  ini,  di  langit,  dengan  matahari dan bulan,
tatkala ia mengatakan kepada pamannya: "Demi  Allah,  kalaupun
mereka  meletakkan  matahari  di tangan kananku dan meletakkan
bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku  meninggalkan
tugas  ini,  sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah
yang akan membuktikan kemenangan itu  di  tanganku,  atau  aku
binasa karenanya."
 
Pribadi  inilah,  pribadi  yang  telah  disinari  cahaya  iman
kebijaksanaan  dan   keadilan,   kebaikan,   kebenaran   serta
keindahan;  di  samping  itu  adalah  pribadi  yang penuh rasa
rendah hati, rasa kesetiaan serta keakraban dan kasih-sayang.
 
Karena  itulah,  sedikitpun  tidak  goyah  hatinya  melepaskan
sahabat-sahabatnya   berangkat  hijrah  ke  Abisinia.  Keadaan
mereka yang sudah merasa aman di dekat Najasyi, merasa  tenang
dengan  agama  mereka  di  tengah-tengah masyarakat yang tidak
punya hubungan famili atau pertalian batin itu, membuat  pihak
Quraisy  lebih  menyadari, bahwa gangguan mereka terhadap kaum
Muslimin  -  sebagai  masyarakat  dari  sesama  mereka,   dari
keluarga   mereka   dan   seketurunan   pula  -  adalah  suatu
penganiayaan, suatu perbuatan kekerasan dan demoralisasi  yang
tak  berkesudahan.  Itu  semua  adalah  suatu  tekanan  dengan
pelbagai macam siksaan kepada mereka yang  sudah  begitu  kuat
jiwanya  untuk  menerima  siksaan  demikian itu. Tetapi mereka
sekarang sudah tidak lagi mendapat  sesuatu  gangguan.  Mereka
sudah    menganggap,   bahwa   ketabahan   menghadapi   segala
penderitaan itu adalah  suatu  pendekatan  kepada  Tuhan,  dan
suatu ampunan.
 
Waktu   itu  'Umar  ibn'l-Khattab  adalah  pemuda  yang  gagah
perkasa, berusia antara tigapuluh dan  tigapuluh  lima  tahun.
Tubuhnya  kuat  dan  tegap,  penuh emosi dan cepat naik darah.
Kesenangannya  foya-foya  dan  minum-minuman   keras.   Tetapi
terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan
Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.
 
Akan tetapi sesudah ia mengetahui, bahwa mereka  sudah  hijrah
ke   Abisinia   dan   mengetahui   pula   rajanya   memberikan
perlindungan kepada mereka,  iapun  merasa  kesepian  berpisah
dengan  mereka  itu. Ia merasakan betapa pedihnya hati, betapa
pilunya perasaan mereka berpisah dengan tanah air.
 
Tatkala    itu    Muhammad     sedang     berkumpul     dengan
sahabat-sahabatnya  yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah
di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya,  Ali  bin  Abi
Talib  sepupunya,  Abu  Bakr  b.  Abi Quhafa dan Muslimin yang
lain.  Pertemuan  mereka  ini  diketahui  'Umar.  Iapun  pergi
ketempat  mereka,  ia  mau  membunuh Muhammad. Dengan demikian
bebaslah Quraisy dan kembali mereka bersatu, setelah mengalami
perpecahan, sesudah harapan dan berhala-berhala mereka hina.
 
Di  tengah jalan ia bertemu dengan Nu'aim b. Abdullah. Setelah
mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata:
 
"Umar, engkau  menipu  diri  sendiri.  Kaukira  keluarga  'Abd
Manaf.  akan  membiarkan  kau merajalela begini sesudah engkau
membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja  ke  rumah
dan perbaiki keluargamu sendiri?!"
 
Pada  waktu  itu  Fatimah,  saudaranya,  beserta Sa'id b. Zaid
suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal
ini  dari Nu'aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui
mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang  membaca  Qur'an.
Setelah  mereka  merasa ada orang yang sedang mendekati, orang
yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya.
 
"Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!" tanya Umar.
 
Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara
lantang: "Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad
dan  menganut  agamanya!"  katanya  sambil  menghantam   Sa'id
keras-keras.   Fatimah,   yang   berusaha   hendak  melindungi
suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri  itu
jadi panas hati.
 
"Ya,  kami  sudah  Islam!  Sekarang  lakukan  apa  saja," kata
meteka.
 
Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka
saudaranya  itu.  Ketika  itu  juga lalu timbul rasa iba dalam
hatinya. Ia  menyesal.  Dimintanya  kepada  saudaranya  supaya
kitab  yang  mereka  baca  itu  diberikan  kepadanya.  Setelah
dibacanya, wajahnya  tiba-tiba  berubah.  Ia  merasa  menyesal
sekali  atas  perbuatannya  itu.  Menggetar rasanya ia setelah
membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang  luarbiasa  dan  agung
dirasakan,  ada  suatu seruan yang begitu luhur. Sikapnya jadi
lebih bijaksana.
 
Ia keluar membawa hati yang  sudah  lembut  dengan  jiwa  yang
tenang  sekali.  Ia  langsung  menuju  ke  tempat Muhammad dan
sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul  di  Shafa.  Ia  minta
ijin  akan  masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan
adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum  Muslimin  telah
mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat.
 
Dengan  Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi lemah sekali.
Sekali  lagi  mereka  mengadakan  pertemuan  guna   menentukan
langkah   lebih   lanjut.   Sebenarnya   peristiwa  ini  telah
memperkuat kedudukan kaum  Muslimin,  telah  memberikan  unsur
baru berupa kekuatan yang luarbiasa yang menyebabkan kedudukan
Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan  mereka  terhadap
Quraisy  sudah  tidak  seperti  dulu lagi. Keadaan kedua belah
pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan  politik
baru,     penuh     dengan     peristiwa-peristiwa,     dengan
pengorbanan-pengorbanan  dan  kekerasan-kekerasan  baru  lagi,
yang   sampai  menyebabkan  terjadinya  hijrah  dan  munculnya
Muhammad sebagai politikus di samping Muhammad sebagai Rasul.
 
Catatan kaki
 
 1 Pada umumnya kata 'namus besar' (an-namus'l-akbar)
   oleh beberapa penulis yang datang kemudian diberi
   anotasi, bahwa kata namus berarti 'Jibnl.' Mungkin ini
   didasarkan kepada (N) dan (LA) yang juga mengartikan
   demikian. Mengenai kata-kata ini Dr. Haekal tidak
   memberikan catatan. Demikian juga Ibn Ishaq dan ibn
   Hisyam. Salah seorang Orientalis - Montgomery Watt
   misalnya - memberikan catatan bahwa kata namus
   biasanya diambil dan bahasa Yunani nomos, dan ini
   berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan,
   (Muhammad at Mecca, p. 51). Sebaliknya pemakaian kata
   namus bukan istilah Qur'an, sebab Qur'an menggunakan
   kata Taurat apabila yang dimaksud dengan namus itu
   undang-undang Nabi Musa (A).
 2 ash-Shafa ialah sebuah bukit dekat Mekah (A).
 3 Semacam gedung pertemuan (A).
 4 Menurut kepercayaan mereka penyakit yang disebabkan
   oleh gangguan jin, aslinya ra'i (A).
 5 Dalam literatur Barat umumnya disebut Negus (A)
 6 Peristiwa ini terjadi dalam tahun 615 Masehi (tahun
   kelima sesudah kerasulan) (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Rasul1.html

Komentar

  1. Mahasiswa PAI kelas A,B, dan C silahkan dibaca. materi ini bisa juga dibaca lewat http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Rasul1.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL HAKIM, MAHKUM FIH DAN MAHKUM ALAIH

Oleh: Siti Farida Sinta Riyana (11510080); Nur Aufa Handayani (11510081); Ahmad Ali Masrukan (11519985); Mayura (11510096); dan Muryono ( 11511038) A.       Al Ahkam 1.         Pengertian Al-Ahkam (hukum), menurut bahasa artinya menetapkan sesuatu atas sesuatu. Sedang menurut istilah ialah ‘Khithab (titah) Allah Swt. atau sabda Nabi Muhammad Saw. yang berhubungan dengan segala amal perbuatan mukallaf , baik itu mengandung perintah, larangan, pilihan, atau ketetapan.

HUKUM SYAR’I (ا لحكم الشر عي)

OLEH: Ulis Sa’adah (11510046); Langga Cintia Dessi (11510089); dan Eka Jumiati (11510092) A.       HAKIKAT HUKUM SYAR’I Menurut para ahli ushul fiqh (Ushuliyun), yang dikatakan hukum syar’i ialah khitab (sabda) pencipta syari’at yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukallaf yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan atau yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu yang lain.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KHILAFIYAH

Disusun Oleh : Abdul Majid (111-11-074); Irsyadul Ibad (111-11-094);  dan Dwi Silvia Anggraini   (111-11-095) PENDAHULUAN Perbedaan selalu ada dalam kehidupan karena hal ini merupakan sunah Rasul yang berlaku sepanjang masa. Perbedaan juga terjadi dalam segi penafsiran dan pemahaman hukum yang berlaku. Seperti yang kita ketahui hukum tidaklah sekaku dalam hal penerapannya pada masa awal islam, pada masa itu Nabi Muhammad sebagai tolak ukur  dan akhir dari setiap permasalahan yang ada pada masa itu. Akan tetapi perbedaan itu semakin jelas terlihat ketika era para sahabat dan para tabi’in yang ditandai dengan adanya berbagai aliran atau madzhab yang bercorak kedaerahan dengan tokoh dan kecenderungan masing-masing.